Aku mencoba memanggil Erlanda yang sudah berjalan mendahuluiku.
"Erlanda" panggilku
Tapi dia sama sekali tak bergeming tetap melanjutkan langkahnya meninggalkanku sendirian. Aku bingung harus bagaimana, akhirnya terpaksa sebagai pilihan terakhir aku harus bertanya kepada orang yang ada di sekolah ini.
Aku mencoba mencari seseorang bisa aku tanyakan dan pilihanku jatuh kepada seseorang dengan tubuh yang sedikit berisi yang tampaknya adalah orang yang mudah untuk diajak bicara pemuda itu sedang memarkirkan motor tua miliknya.
Aku berjalan menghampirinya, lalu saat aku sampai di depannya dia masih asik melihat-lihat motornya entah apa yang ia lihat.
“Permisi” ucapku kepadanya kemudian ia langsung mencoba mencari asal suara dan ketika dia melihatku, dia sedikit terkejut “Bidadari dari mana ini?” tanyanya kepadaku
aku sedikit malu dengan responnya
“Ada apa ?” katanya sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah sejak tadi berantakan
“Apa yang bisa dibantu untuk tuan putri?” ucapannya yang sedikit lucu membuatku tertawa “Maaf mengganggu waktunya perkenalkan namaku Tylisia, kebetulan aku mau ikut tes masuk sekolah ini tapi tidak tahu dimana ruang administrasinya …”
“Administrasi ya?” belum saja aku menyelesaikan ucapanku ia langsung memotongnya
“Kalau aku Choki, ayo ikut aku, biar aku tunjukkan” ujarku kemudian ia melangkah mendahuluiku seperti seseorang yang ingin menunjukkan jalan dari yang kutahu namanya Choki sangat cocok dengan tubuhnya yang sedikit gempal.
Choki terlihat seperti orang yang sangat lucu
“Tylisia, baru pindah?” tanya Choki
“Iya aku baru pindah ke daerah dekat sini”
“Salam kenal ya! aku Choki bisa dipanggil sayang” ujarnya menggombali ku tidak tahu kenapa aku hanya tertawa mendengar gombalannya setelah kami berbincang-bincang beberapa saat.
Akhrinya kami tiba di depan ruang administrasi
“Nah ini ruangannya kamu bisa masuk kedalam nanti bertemu dengan bu Rani nah di sanalah kamu bisa bertanya, ya udah aku pamit dulu ya takut bu guru masuk, pagi ini gurunya galak kalau nggak galak aku pasti menemani kamu di sini” masih dengan nada gombalannya yang khas
“Haha Iya terima kasih ya Choki, Terima kasih banyak sudah membantuku”
lalu coki berjalan menjauh dari ruang administrasi menuju kelasnya.
aku memasuki ruang administrasi untuk mencari Bu Rani yang seperti disebutkan oleh Choki. Untung saja aku bertemu dengan Choki anaknya yang ramah sehingga memudahkanku untuk berkomunikasi dengannya.
“Permisi bu” ucapku kepada salah seorang guru yang ada di sana guru perempuan cantik yang bertubuh kecil.
“Ya ada apa ya nak?” tanyanya lembut kepadaku
“Mau bertemu bu Rani, saya anak baru di sini mau mengikuti tes” jelas ku sopan
“oh Tylisia ya?” tanya ibu itu kepadaku
“Iya Bu”
“Oh Perkenalkan nama saya Bu Rani saya yang mengelola kegiatan pengujian untuk siswa baru kamu yang dari JIS itu ya?”
“Iya Bu”
“Wah hebat dong bisa masuk JIS, terus kenapa pindah ke sini?”
“Ada masalah keluarga Bu Jadi enggak sanggup lagi bayar di JIS”
“Oh maaf ya ya ibu mengungkit masalah” ucap Bu Rani tak enak hati
“Tidak apa-apa Bu saya juga tidak merasa keberatan”
“Oh iya nanti setelah Tes kamu bisa mendapatkan hasilnya besok hari, nanti Ibu infokan kepada Erlanda sebab Ia yang membantumu mendaftar kemarin kan?”
“Iya benar Bu”
“Agar tidak membuang waktu bagaimana kita langsung mengerjakan tesnya saja, Tylisia Kamu duduk di sana di meja yang Ibu sudah sediakan peraturan tesnya ya tidak sulit sih hanya mengerjakannya dengan baik tidak melihat apapun sebab ibu akan mengawasi dari sini Ibu percaya dengan kemampuan kamu, Tylisia pasti bisa menyelesaikan soal-soal Tes ini, Semangat ya, silakan saya duduk di sana!”
Aku berjalan menuju tempat duduk yang telah ditunjukkan oleh Bu Rani setelah melihat ku duduk di meja.
Ia langsung memberikan beberapa lembar soal kepadaku untuk aku kerjakan
“Waktunya 80 menit setelah 80 menit siap tidak siap soalnya dan jawabannya harus dikumpul Ingat jangan berbuat curang karena berbuat curang akan merugikan diri sendiri “ Kembali Bu Rani menjelaskan
“Baik bu terima kasih” aku langsung mengerjakan soal dimulai dari nomor 1 semoga aku bisa mengerjakannya dan bisa bersekolah disini dengan baik.
***
Saat Erlanda sampai di kelasnya ia melihat kalau kursi Choki masih kosong, itu tandanya Choki belum datang.
Erlamda mengerutkan keningnya heran biasanya Choki akan datang duluan daripada dirinya
“Kemana Choki” ucap erlanda dalam hati biasanya jika ada Choki, ia langsung diserang dengan berbagai pertanyaan walaupun masih pagi pertanyaan-pertanyaan random yang entah dimana Choki dapatkan pertanyaan itu.
Duduk diam adalah hal yang bisa Erlanda lakukan saat ini.
Entah kenapa pikirannya nya kembali ke saat ia dan Tylisia sedang berada di bus untuk perjalanan ke sekolah ia bisa melihat dengan jelas bahwa Tylisia terdorong ke depan karena salah seorang penumpang yang tidak berpegangan akibatnya Tylisia yang juga tidak berpegangan harus terdorong ke depan menyebabkan ia jatuh tersungkur.
Erlanda segera mengenyahkan pikirannya mengenai kejadian tadi
“Dasar bodoh siapa suruh tidak pegangan” ujarnya berkali kali
kemudian pikiran erlanda kembali ke alam nyata setelah mendengar teriakan Choki memanggilnya dengan begitu semangat membuat teman-temannya sekelas nya yang sudah datang mengalihkan perhatiannya kepada Choki.
“Lo bisa nggak teriak nggak Chok” ujar salah satu siswa kutu buku di kelas itu
“Eh Maaf bro Gue sengaja”
“Apa kata lo bro bro bro, gue perempuan” katanya sewot
“Nanti kalau gue panggil Sis kek pedagang online dong, jamunya Sis” Choki tertawa dengan ucapannya sendiri.
“Bacot lu!” ujar Siswi itu akhirnya ia menyerah beradu mulut dengan Choki.
“Erlanda ada berita bagus!” teriaknya dari kejauhan tapi reaksi Erlanda tetap terkesan tidak peduli walaupun sebenarnya ia sejak tadi menunggu Choki.
“Gue ketemu cewek cantik banget, Bidadari woi! kayaknya dia suka deh sama gue soalnya dia di samping gue ketawa terus katanya gue lucu”
Erlanda mendelik mendengar ucapan Choki yang terlihat sangat genit bagi seorang laki-laki
“Najis: ujar Erlanda satu kata yang membuat Choki terdiam tapi bukan Choki namanya jika harus tersinggung dengan kata Erlanda yang seperti itu, dia sangat terbiasa dengan Erlanda walaupun Erlanda seperti itu, ia tahu Erlanda mendengarkannya sebab Erlanda adalah tipe orang yang sangat peduli kepada temannya tapi secara diam-diam.
“Gue kalo jadian sama dia, gue Traktir lu”
“Iya gue tunggu traktiran lo, kalau lo jadian sama dia” jawab Erlanda setelah mendengar ucapan Choki yang hampir di hafal oleh Erlanda setiap baru bertemu dengan perempuan yang ditaksirnya, tapi tak pernah jadian. Hal ini sudah berulang kali terjadi, Choki selalu berjanji akan mentraktir dirinya saat sudah jadian tapi bagaimana mau traktir dirinya jadian saja tidak ujung-ujungnya Choki akan mengeluh kepada Erlanda seharian, dan membuat telinga Erlanda terasa panas mendengar Choki. Walaupun seperti itu, tapi tetap saja erlanda berteman dengannya orang dengan sifat yang berbeda 180 derajat dengan dirinya.
Choki yang hangat tapi terlalu hangat dan Erlanda yang dingin tapi terlalu dingin.
Dua kutub yang berbeda tapi tidak saling mencairkan
“gue baru kali ini Er, bener-bener lihat cewek secakep itu, gue kira dia Bidadari ternyata manusia rambutnya panjang, Senyumnya manis tipe gue banget kayaknya gue juga tipe dia, Oh ya dia Tadi sempet ngenalin namanya ke gue, tunggu bentar gue inget namanya lo harus pasang telinga lebar lebar karena namanya juga indah ah sesuai dengan orangnya namanya Tylisia, cakep bener namanya terus gue juga…”Erlanda membatu mendengar Choki menyebut nama Tylisia jadi Sosok yang Choki ceritakan tadi adalah Tylisia, gadis yang baru ia kenal, gadis bodoh yang tiba-tiba terjatuh di dalam bus menahan sakit di lututnya dan gadis yang ia tinggalkan di koridor sekolah gadis manja yang menurutnya merepotkan.
“Loh kok lo diem aja ,respon dong”
“Gue harus respon apa?”
“Tanya apa kek gitu” Ujar Choki
Erlanda hanya mengangkat bahunya tanda ia tidak peduli.
Kemudian tak lama guru yang mengajar di kelas masuk dan menghentikan percakapan antara mereka berdua tapi tidak dengan pikiran masing-masing.
Choki yang terus memikirkan Bagaimana senyuman Tylisia, sedangkan Erlanda tidak tahu apa yang dipikirkannya fisik mereka ada disana tapi jiwa mereka melayang entah kemana.
****
Setelah 80 menit Tylisia sudah selesai mengerjakan semua soal yang ada di hadapannya ia bersyukur bahwa soal-soal yang diberikan adalah soal yang telah Ia pelajari sebelumnya.
Semoga hasil yang ia dapatkan juga sesuai dengan apa yang ia harapkan kemudian ia berdiri memberikan soal dan jawabannya kepada Bu Rani yang setia menunggunya sejak tadi.
“Ini bu soal dan jawabanny, Setelah ini apakah ada yang harus di lakukan bu?”
“Tidak ada kamu bisa pulang”
“Baik bu, Jika seperti itu Saya pulang dulu Bu, Permisi Bu”
“Iya hati-hati ya”
Aku pamit keluar dari ruang administrasi menuju koridor sekolah ternyata siswa-siswi sedang Istirahat mereka berbondong-bondong menuju ke kantin untuk mengisi perutnya.
Aku ingin pergi ke kantin untuk membeli sesuatu tapi aku ingat uangku hanya cukup untuk naik bus walaupun perutku sudah berbunyi sejak tadi.
Aku mengatakan sesuatu kepada perutku seolah olah ia bisa mendengark.
Sebentar lagi kita pulang ,di rumah ada makanan sedikit
Aku melangkah menuju Gerbang tapi tiba-tiba aku berpapasan dengan Choky dan seseorang yang meninggalkanku aku tadi di sini yaitu erlanda.
“Hai Choky” sapaku
“Sudah selesai tesnya?’
“Udah baru aja” aku melirik Erlanda yang hanya diam saja di belakang Choki.
Apakah ia tak peduli padaku tak bertanya seperti Choki, setidaknya Erlanda bertanya mengenai Apakah Tes sudah selesai atau belum
Tapi tidak apa-apa suatu saat Erlanda akan berubah baik kepadaku. Kemudian Choki melihat erlanda hanya diam saja di tempatnya “Erlanda woi diam aja lu nih Tylisia yang gue ceritain tadi“
“ceritain? Jadi Choki menceritakan pertemuanku dengan dirinya jangan bilang kalau Choki dan elanda berteman akrab” ucapan Choki menimbulkan berbagai pertanyaan di otakku.
“Kenalin ini temen gue Erlanda tampangnya emang gini”
****