0.39

1507 Kata
Bu hana menyadari perubahan raut wajahku mendengar ucapan dingin Erlanda, akhirnya Bu Hana memutuskan untuk diam dan melanjutkan makan dalam keadaan hening tanpa adanya suara. *** Akhirnya kami menyelesaikan makan malam hari ini. Setelah makan aku membantu Bu Hana membersihkan piring yang ada di atas meja meletakkannya ke tempat cucian piring lalu tak lupa mencucinya. "Tyl biar ibu saja yang nyuci nanti" larang Bu Hana kepadaku "Tidak apa apa Bu, tanggung nggak baik anak gadis kerjanya nanggung nanggung." ujarku kepada Bu Hana Akhirnya Bu Hana menyerah untuk melarangku, dan ia pun melakukan pekerjaan yang lain. Setelah kami selesai melakukan pekerjaan kami masing masing Bu Hana mengajakku duduk di ruang tv, jika kalian bertanya mengenai Erlanda. Erlanda sudah pergi sejak selesai makan tadi, namanya juga laki laki sudah memang tabiatnya seperti itu tidak peduli akan piring kotor atau meja yang berantakan selesai makan. Bu hana menghidupkan tv lalu mencari acara favoritnya "Tyl, maafin Erlanda ya anaknya emang suka gitu, nggak mikirin perasaan orang lain" "Tidak apa apa Bu, aku tidak merasa tersinggung dengan sikap Erlanda Bu" Bu Hana menggenggam tanganku, membuatku terkejut dengan perlakuannya. "Tyl" panggil Ibu "Iya Bu" "Walaupun Erlanda bersikap seperti itu ke kamu tapi kamu harus tetap ada di sampingnya ya, Ibu yakin cepat atau lambat jika kamu yang di samping Erlanda, entah kenapa ibu merasa aman ibu merasa tak perlu khawatir walaupun ibu baru kenal sama kamu" ucapan Bu Hana membuatku terkejut sejak kapan ia memiliki pikiran seperti itu bagaimana bisa Bu Hana mengatakan hal itu kepadaku merasa aman jika erlanda disampingku tapi kan dia tahu kalau Erlanda sangat sulit didekati. "Tapi Bu, aku tidak yakin bisa terus di samping Erlanda Ibu tahu sendiri kalau Erlanda sangat sulit didekati" aku mengungkapkan kekhawatiran ku kepada Bu Hana. "Ibu yakin Erlanda akan luluh dan bersikap baik kepadamu ingat pesan Ibu ya apapun yang dilakukan Erlanda apapun kesalahannya nanti, Ibu yakin kamu bisa menghancurkan dinding yang dibuat oleh Erlanda dengan dunia luarnya ibu yakin kamu bisa mengenalinya lebih dalam suatu hari nanti" Aku terperangah dengan ucapan Bu Hana, ia sangat mengerti dengan sikap Erlanda tapi ia terus meyakini ku bahwa suatu saat aku bisa mengenal Erlanda. Muncul sebuah semangat yang berkobar di dalam jiwaku, ada seseorang yang meyakini kalau aku bisa melakukan apa yang orang lain tidak bisa itulah yang memacu semangatku agar aku bisa. Aku Tylisia seorang yang kuat pasti bisa menghadapi ini semua dan membuat Erlanda juga menyukainya, semangat Tylisia. "Oh ya besok kamu berangkat ke sekolah kan untuk mengikuti tes?" tanya Bu Hana lagi "Iya Bu" "Besok berangkat bareng Erlanda aja ya, bukannya kamu tidak tahu di mana lokasi sekolahnya." "Apakah Erlanda mau Bu?" tanyaku memastikan tak enak jika Erlanda merasa keberatan karena harus berangkat bersamaku "Tenang ibu yang akan mengatakannya dia tak pernah menolak perintah ibu tunggu sebentar ya" "Erlanda, kesini sebentar" Panggil Bu Hana Setelah mendengar namanya di panggil, Erlanda memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju arah Bu Hana "Ada apa Bu?" tanya Erlanda tepat saat ada di hadapan Bu Hana. "Besok kamu berangkat sekolah bersama Tylisia ya, Tylisia kan besok mau mengikuti tes dia tidak tahu lokasi sekolahnya dan harus naik kendaraan apa, temani ya" ujar Bu Hana lembut "Asal tidak merepotkan saja Bu" jawab erlanda singkat kemudian dia berlalu dari hadapan kami "Er, Kamu kok gitu" Bu Hana memperingati Erlanda Bu Hana memandangku dengan perasaan bersalah "Tidak apa-apa Bu" ujarku bohong sepertinya aku harus terbiasa dengan sikap Erlanda yang seperti itu sebab aku yakin suatu saat Erlanda akan merubah sikapnya kepadaku. "Berarti besok Tylisia datang pagi-pagi ke sini ya" "Iya Bu, biar Erlanda tidak terlambat gara-gara aku Bu" "Iya tyl besok pagi-pagi kamu udah harus kesini ya, kamu tahu kan Erlanda anaknya gimana" "Tau Bu" ujarku mengangguk aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 21.00 "Baik bu, Tylisia pamit pulang dulu, mau menyiapkan bahan bahan yang akan dibawa besok, sudah lama rasanya tidak merasakan berangkat sekolah, Semoga besok bisa diterima ya Bu doain" kemudian aku pamit tak lupa menyalami dan mencium tangan Bu Hana pulang menuju toko toko sekaligus rumah bagiku akhirnya besok bisa bersekolah lagi aku yakin bisa menjawab semua tes dengan benar, sepanjang perjalanan aku terbayang akan moment yang sangat tidak pernah aku bayangkan bisa menjadi kenyataan berangkat sekolah bersama Erlanda. walaupun jawaban Erlanda tadi menunjukkan bahwa dia keberatan berangkat bersamaku tapi aku yakin itu adalah sebuah kemajuanyang signifikan bagi hubungan ku dengannya. Apa yang akan kami lakukan ya selama perjalanan besok. Apakah berjalan disampingnya atau aku yang berjalan duluan saja bagaimana nanti di bis Apakah kami akan duduk berdua atau dia rela berbagi tempat duduk demi diriku memikirkannya saja membuatku tersipu malu. Matahari sudah mengganti tugas bulan di langit yang biru, menyinari bumi dan seisinya. Menunjukkan bahwa sudah waktunya para makhluk ciptaan tuhan menjalankan aktivitas setelah beristirahat selama 8 jam, begitu juga denganku hari sudah menunjukkan pukul 06.00 waktu yang pas untuk aku berangkat ke tempat Bu Hana. Sebelum berangkat aku mematutu diriku di cermin melihat penampilanku hari ini berulang kali, rasanya sangat berbeda dengan seragam sekolahku dulu yang terlihat sangat mahal, seragam JIS kebanggaanku. Tapi sekarang seragam putih abu abu yang membalut tubuhku seragam yang biasa dipakai oleh siswa-siswa SMA pada umumnya. "Sudah rapi" ujarku kepada cermin yang menampilkan pantulan diriku. Setelah ku pastikan semuanya rapi Aku siap berangkat menuju rumah Bu Hana, aku tidak ingin membuat Erlanda menunggu terlalu lama. Aku berjalan dengan begitu semangat akhirnya hari yang ditunggu datang juga sudah sekian lama aku tidak merasakan suasana seperti ini berangkat sekolah di pagi hari adalah moment yang sangat aku rindukan rasanya sangat rindu belajar dan bermain bersama teman-teman. Semoga di sekolahku ini aku bisa mendapatkan teman dan dikelilingi dengan orang-orang yang baik. Aku melihat Erlanda sedang memasang sepatunya saat aku tiba di rumahnya. Untung saja aku cepat sampai di sini sehingga tidak membuat Erlanda harus menungguku, aku memasuki pekarangan rumah bu Hana. "Eh Tylisia sudah datang" ujar Bu Hana kepada Erlanda Mau tak mau Erlanda juga mengikuti arah pandang ibunya ia bisa melihat bahwa diriku sudah datang dan siap berangkat bersama dengannya. Saat sampai di dekat Bu Hana yang juga berada di samping Erlanda, bisa ku dengar Erlanda menghela nafas berat kemudian beralih menatap ibunya yang tersenyum sangat senang. Erlanda tak pernah melihat ibunya tersenyum seperti itu membuat Erlanda begitu cukup heran. "Bu aku pergi dulu ya" tak ingin membuang waktunya Erlanda langsung pamit dengan Bu Hana "Iya hati-hati ya, jaga Tylisia ya dia baru soalnya kamu jangan bersikap dingin terus cukup kulkas aja yang dingin kamu jangan" Erlanda memutar matanya malas mendengar ibunya sejak kapan ibunya bisa berkata seperti itu. Erlanda langsung berjalan keluar meninggalkan diriku yang sedang pamitan dengan Bu Hana "Bu, aku pamit dulu ya Bu Doain biar bisa jawab tesnya" "Iya hati-hati ya ya jangan jauh-jauh dari Erlanda" "Siap Bu" segera aku menyusul Erlanda yang berjalan duluan meninggalkan diriku di belakangnya. Kami berjalan menuju halte bis yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah Erlanda. Erlanda berjalan di depanku, aku dengan cepat mengikuti langkah kakinya, Tapi tetap saja langkah kakinya begitu besar meninggalkanku sendirian di belakangnya. "Erlanda tunggu" ujarku, aku semakin mempercepat langkah kakiku tapi dia tak juga memperlambat langkahnya alhasil tetap saja aku tak bisa mengejarnya. Kemudian kami sampai di halte bis di sana sudah banyak siswa-siswa yang menunggu bis ini adalah pertama kalinya aku naik bis seumur hidupku.Biasanya aku selalu diantar oleh Pak Dedi sopir kesayanganku jadi rindu dengan Pak Dedi. Aku mengikuti di mana Erlanda berdiri Aku tidak ingin kehilangannya aku berdiri disampingnya sedikit melihatnya dari ujung mataku, tapi tetap saja ekspresinya masih sama datar menatap lurus kedepan tanpa memperhatikan sekelilingnya padahal sejak tadi banyak siswa siswi perempuan yang melihat ke arah Erlanda. "Menyebalkan" ujarku pelan Kenapa mereka harus menatap Erlanda seperti itu tak malukah mereka sebagai perempuan menatap laki laki secara terang terangan seharusnya mereka malu apakah urat malu mereka sudah lenyap sejak melihat wajah Erlanda. Setelah 3 menit menunggu, bis datang dengan nomor tujuan ke sekolah Baruku. aku mengingat nomor tujuan bis itu agar aku tak salah naik saat pulang nanti ,302. Erlanda memasuki bus meninggalkanku sendirian di belakangnya dengan cepat aku juga ikut naik bus tapi hal itu tidak bisa dilakukan dnegan mudah, bis hanya memiliki dua pintu pintu belakang dan pintu depan. pintu belakang khusus laki laki dan pintu depan khusus perempuan, jadi karena jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki laki mau tidak mau mereka harus berebutan untuk naik agar bisa memasuki bis sebelum bisnya penuh. Akhirnya setelah dengan perjuangan yang cukup sulit aku akhirnya aku berhasil. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari Erlanda di tengah bis yang ramai ini, karena pengalaman pertamaku naik bis aku tidak tahu bahwa bis akan sepadat ini saat aku sedang mencari Erlanda, tiba tiba aku terdorong oleh penumpang yang lain. Alhasil aku jatuh terdorong kedepan dengan lutut yang menyentuh lantai bis. "Awww" ujarku menahan sakit, tapi segera aku berdiri karena penumpang lain yang marah karena aku tak hati hati. Sebuah kata maaf yang hanya bisa aku ucapkan sambil menahan sakit di lututku, apalagi lantai bis yang sedikit kasar aku yakin lututku pasti lecet. Erlanda yang melihat kejadian itu diam tak bergeming seperti tak melihat apa apa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN