0.38

1304 Kata
Beberapa saat setelah kepergian Erlanda tubuhku terasa lemas tulang-tulangku terasa lari dari tempatnya untuk pertama kalinya aku tidak bisa bereaksi dengan benar sungguh Sesuatu yang membuatku gila mau ditaruh dimana mukaku Dia melihatku dengan reaksi yang sangat tidak bisa aku definisikan “Oh kamu luar biasa Tylisia” ujarku di dalam hati jadi Erlanda itu anak Bu Hana. *** Aku menghitung pendapatan toko hari ini Jumlahnya ada Rp.545.000 tadi aku mendapat pesan dari ibu Hana untuk memberikannya saja langsung ke rumah tapi bodohnya aku tidak tahu dimana rumah Bu Hana. Aku tidak ingin menyerah mungkin saja aku bisa bertanya kepada yang orang lain yang kutemui di jalan untuk bertanya dimana rumah Bu Hana. Lalu, aku bersiap-siap terlebih dahulu, dan tentu saja siap-siap mental untuk bertemu dengan Erlanda. Tyl, kamu bisa! aku terus berdiri di depan cermin memandangi diriku dengan ekspresi terburuk. Jangan sampai aku mengeluarkan ekspresi diam tanpa bisa berkata-kata. Aku Harus bisa! Aku harus bisa! Masih banyak tantangan besar yang ada dalam hidupku dan aku bisa menghadapinya apalagi Erlanda, aku bisa mendapatkannya. Sebesar itu rasa ingin memiliki ku kepadanya, entah kenapa aku baru pertama kali terpacu merasakan ini. Setelah kupastikan pintu jendela terkunci baru aku melangkah menuju rumah Bu Hana di perjalanan aku bertemu seseorang yang bisa aku tanya Sepertinya Dia juga sering membeli kue di toko Bu Hanna “Permisi Bu, mau tanya arah rumah Bu Hana ke mana ya Bu?” tanya aku sopan ibu itu langsung merespon dengan sangat antusias “Bu Hanna kamu pegawai tokonya kan? kamu lurus saja nanti nanti belok kiri terus ketemu persimpangan, kamu belok kanan nanti ada rumah Bu Hana warna putih di dekat masjid bisa di mengertikan?” “Baik bu terima kasih banyak. Baik kalau begitu saya pamit dulu Bu, Mari” ujarku sopan lalu melanjutkan perjalananku menuju rumah Bu Hana sepanjang perjalanan Aku mengingat kemana arah jalan menuju rumah Bu Hana ketika aku di persimpangan aku berpikir harus berbelok kemana ”Tadi kata ibunya belok kanan” Jadi harus berbelok ke kanan lalu aku belok ke kanan dan benar saja ada masjid di dekat sama dan memang ada rumah putih di dekatnya. Aku terus berjalan hingga sampai di depan pagar rumah Bu Hana rumah kecil itu terlihat sangat sederhana tetapi begitu Asri karena penuh dengan bunga. Bu Hana sangat menyukai bunga ternyata, jantungku berdebar cepat mengingat Erlanda pasti ada di rumah itu. Bagaimana ini apakah harus membatu seperti tadi atau harus menyapanya duluan Pikiranku terus berkecamuk memikirkan apa yang harus aku lakukan di hadapan Erlanda tiba-tiba dari arah pintu rumah ada suara yang memanggilku “eh Tyl ayo sini masuk” Itu suara Bu Hana. Mendengar suara Bu Hana aku langsung membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu dan melangkah masuk untuk menghampiri Bu Hana “Tylisia, Ada apa kemari?” tanya Bu Hana kepadaku “ini Bu mau memberikan uang hasil penjualan hari ini, Tylisia tunggu ibu di toko Ibu tidak datang, Jadi Tylisia berinisiatif untuk menemui ibu untuk memberikannya langsung” “Oh begitu, sebenarnya ibu akan pergi ke toko setelah adzan isya tapi kamu udah datang Nggak jadi deh Ibu pergi ke toko, Ayo masuk” Bu Hana mengajakku ke dalam Aku menolaknya tak enak rasanya apa lagi memikirkan Kalau erlanda pasti ada di dalam rumah “Tidak Bu aku pulang saja” tolakku halus “Tidak Ayo masuk dulu, pasti kamu belum makan, makan dulu yuk. Ibu udah masak banyak” Bu Hana menarik tanganku sebelum aku sempat menjawabnya mampus pasti aku bertemu lagi dengan Erlanda. Bagaimana ini jika aku makan pasti aku akan Satu meja dengannya Ingin rasanya menolak Tapi tangan terus ditarik oleh Bu Hana “Tidak usah Bu, aku pulang saja” “Tidak kamu sudah masuk rumah ibu, jadi kamu harus makan dulu. Kamu duduk di sini sebentar Ibu Panggil Erlanda dulu ya” Hal yang sejak tadi ada di dalam pikiranku akhirnya menjadi kenyataan. Benar, Erlanda akan satu meja denganku. Bagaimana nanti? Apakah aku harus makan perlahan atau buru-buru? pilihan-pilihan itu terus berkecamuk di dalam pikiranku aku memikirkan segala kemungkinan yang terjadi antara aku dan erlanda “Ayo makan er, itu ada pegawai ibu datang” suara Bu Hanna terdengar dari arah depan Sepertinya dia sudah berhasil memanggil erlanda “Sebentar” ujar suara itu suara dingin yang sangat aku kenal. Ibu Hana datang sendirian tapi di belakangnya ada erlanda Lihatlah dengan lancangnya aku memandangnya tapi setelah sadar aku langsung menundukkan pandanganku malu. Bagaimana seorang perempuan bisa dengan percaya dirinya menatap seorang laki-laki aku terus menunduk menghindari dirinya. Jika saja aku tak bisa menahan keinginan untuk memandangnya entah bagaimana warna mukaku di hadapannya pasti akan memerah bukan merah karena menahan marah tapi menahan malu. Bu Hana duduk di hadapanku “Ada apa di bawah Tyl? ada kecoa ya?” tanya Bu Hana karena melihatku aku terus menatap ke bawah aku mengerang di dalam hati. Haruskah Ibu Hana memperjelasnya aku semakin malu. Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku memandang bu Hanna. Tapi tentu saja menghindari kontak mata dengan Erlanda “nggak ada apa-apa bu tadi kakinya gatal aja” “Oh begitu, ayo kita makan! Kebetulan ibu masak cukup banyak jadi di sekalian aja ngajak kamu makan, kalau malam kamu boleh kok datang ke sini Tyl menemani kami berdua. Sudah bosan rasanya makan hanya berdua saja jika ada kamu pasti akan lebih ramai” aku hanya tersenyum lalu membalas ucapan Bu Hana “sekali-sekali saja Bu kalau setiap hari rasanya merepotkan” aku tetap tak memandang erlanda tapi aku tahu dia juga tidak memandang ku ,sayang sekali Bu Hana mengambil piringku ”Sini Ibu ambilkan nasinya Tyl” “Tidak apa-apa Bu biar Tylisia saja mengambil sendiri” “Tidak apa-apa biar Ibu ambilkan” lalu Ibu Hana menyendokkan beberapa sendok ke dalam piring ku “Sudah cukup?” tanyanya “Udah Bu, terima kasih” jawabku setelah mengambil piring dari tangan Bu Hanna “Oh ya udah kenal sama erlanda?” aku membasahi tenggorokanku yang tiba-tiba kering mendengar pertanyaan dari bu Hana Aku tidak tahu harus mengatakan apa dibilang kenal juga tidak tapi dibilang tidak kenal tidak juga “Tyl, Panggil Bu Hana udah kenal sama Erlanda?” Bu Hana mengulangi pertanyaannya kembali “udah Bu” jawabku “Gimana anak ibu?” pertanyaan bu Hanna begitu ambigu “Gimana apanya Bu?” Tanyaku tak mengerti “Gimana orangnya baik kan?” Aku melirik erlanda dari sudut mataku dia tidak bereaksi apapun tetap melanjutkan makannya dengan santai sedangkan aku, aku sudah malu sampai ubun-ubun “baik bu” ujarku bohong padahal aku tidak tahu dia tak mengatakan sepatah kata pun selain pertanyaan dimana ibunya. Bagaimana aku bisa mengenal bahwa dia baik atau tidak Tapi aku yakin sih Erlanda anak yang baik ‘Er, ngomong dong kok diam aja” kali ini giliran Erlanda aku ingin mendengar suaranya jadi tidak sabar aku membuka telingaku besar-besar untuk mendengar suaranya lagi. “ngomong apa Bu?” tanyanya kepada ibunya “lah ditanya kok malah balik nanya?” itu suara Erlanda begitu lembut kepada ibunya membuatku merasa bahwa dia sedang berbicara dengan diriku, padahal ia sedang berbicara dengan ibunya. Erlanda melanjutkan makannya tanpa membalas perkataan ibunya mau tak mau, aku mengalihkan pandanganku kepadanya tenang. Dia sangat tenang seperti tidak ada yang terjadi tapi memang benar tidak ada yang terjadi bukan. “Er” Bu Hanna memanggilnya lagi membuat Erlanda menghentikan kegiatan makannya “Ada apa Bu?” suaranya lembut “Sudah kenal sama Tylisia?” tanya Bu Hana kepada Erlanda tapi aku kira ia akan menjawab sama denganku tetapi tidak jawabannya membuatku tersedak “Belum” ucapnya dengan tenang tanpa merasa bersalah. “Tyl, kenapa? tidak apa-apa kan? ini minum-minum.” tepat saat dia selesai Mengatakan kata belum aku tersedak sungguh malu rasanya aku mengatakan bahwa aku mengenalnya sedangkan dia belum. Mau ditaruh dimana mukaku Aish benar kata orang dan kata ibu Hanna bawa Erlanda sangat dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN