Sudah dua hari aku bekerja disini di toko ini dan itu terasa sangat menyenangkan. Walaupun sudah dua hari bekerja tapi tentu saja aku belum pernah melihat anak Bu Hana.
"Bu" Tanyaku kepada Bu Hana yang sedang berdiri di kasir sedangkan aku sedang membantu menata kue
"Iya Tyl, ada apa" tanya Bu Hana
Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang formulir pendaftaran sekolahku tapi aku sangat malu menanyakannya "Nggak jadi Bu" akhirnya itu Kalimat yang bisa aku ucapkan
"Loh kenapa nggak jadi?"
"Lupa Bu mau bilang apa"
"Oh ya Tyl, kemarin Erlanda bilang kalau tesnya akan dilakukan besok kamu bisa datang besok berangkat bersama Erlanda ya nanti Erlanda ke sini nanti Ibu kenalkan kamu dengan Erlanda beberapa hari ini dia sangat sibuk entah apa kerjaan nya di depan komputer sampai lupa makan dasar anak-anak" aku hanya tertawa menanggapinya
Entah kenapa jantungku terasa berdebar, kenapa ini batinku dalam hati.
Apakah aku grogi bertemu Erlanda tapi biasanya aku tidak pernah seperti ini aku tak pernah malu bertemu dengan seorang atau karena keadaanlu yang seperti sekarang ini aku menjadi seorang yang tidak percaya diri tapi kenapa hanya dengan sebuah kalimat yang mengatakan bahwa ibu akan mempertemukanku dengan Erlanda jantungku bisa menjadi seperti ini
"Ah tidak tidak ini hanya pikiranku saja aku sudah termakan omongan Feni" aku mencoba menetralisir debaran ini.
"Tyl" Ibu Hana memanggilku
"Kenapa bengong hati-hati loh kesambet" Bu Hana mengingatkan karena melihatku hanya diam saja
"Ah tidak apa apa Bu"
"Sakit?" tanya Bu Hana lagi
"Nggak Bu"
"Oh ya kuenya tinggal berapa lagi Tyl"
"Ada 15 lagi Bu"
***
"Tyl, Ibu pulang dulu ya ada ada yang harus dikerjakan tadi ibu lupa"
"Iya Bu nggak papa"
"Ya udah Ibu permisi dulu ya oh ya kalau Erlanda datang tolong sampaikan kalau ibu ada di rumah, tadi soalnya ibu berpesan pulang dari sekolah ke toko dulu. Kalian kenalan saja dulu ya"
"Baik Bu" jawabku.
*
Aku sedang sibuk membereskan tempat-tempat kue yang sudah kosong tiba-tiba suara dentingan lonceng yang berasal dari pintu masuk terdengar sepertinya ada pelanggan pikirku aku pun berbalik menghadap ke arah pintu masuk dan di sana aku bisa melihat sesosok laki-laki yang selama ini hanya ada di lukisanku dia laki-laki yang keluar dari toko ini kemarin laki-laki yang sama dengan lukisanku yang berbulan-bulan hanya aku Pandangi. Dia memang benar-benar mirip dengan lukisanku.
Dia sekarang berdiri di hadapanku dengan jarak beberapa meter sedangkan aku hanya diam membatu memperhatikannya yang juga sedang memperhatikanku dengan tatapan yang mampu membuatku jatuh cinta berulang kali.
Ada apa gerangan?
Kenapa ia bisa sampai di sini apa yang ia cari?
Apakah ah ah tidak tidak aku tidak ingin memiliki pikiran yang aneh-aneh mana mungkin dia mencariku. Aku langkahkan kaki mendekat ke arahnya entah kenapa rasanya sangat sulit untuk sekedar melangkahkan kaki ini.
Aku berjalan perlahan menghampiri nya ingin mengucapkan sepatah kata tapi rasanya sulit suaraku terasa tersekat aku menjadi gagu "Selamat sore" sapaku dengan ramah dan senyuman yang kaku
Detak jantungku beserta debaran ini tak bisa ku hentikan.
Aku tak ingin detak jantungku terdengar olehnya, entah kenapa suasana disini terasa begitu panas yang biasanya selalu dingin tapi kenapa hari ini begitu panas.
Aku memperhatikan setiap inci wajahnya
Oh tuhan, maafkan aku yang berdosa karena telah dengan lancang memperhatikan wajah makhluk yang ada di hadapanku ini.
Aku terus meminta maaf, tapi entah kenapa mataku tak ingi beralih dari wajahnya, padahal otakku sudah memerintahkan ku untuk menghentikan aktifitas yang sedang aku lakukan tapi entah kenapa hatiku ini tak mau menuruti perintah otakku.
Tylisia, fix kamu sudah gila.
Ini pertama kalinya, aku bertemu dengannya hanya berdua bertatapan dengannya.
Entah kenapa rasanya rasa rinduku selama ini menyeruak begitu saja bagaikan hilang di telan bumi. Padahal aku tak berhak merasakan rasa rindu ini saat dia bukan milikku.
Aku terus merapalkan doa di dalam hati semoga bunyi detak jantungku yang sedang tak beraturan tak terdengar olehnya.
kemudian ia menatapku heran mungkin ia merasa aneh dengan raut wajahku yang kaku oh tuhan kenapa aku ini, jangan sampai kesan pertamaku sangat jelek di depannya.
Tylisia kamu bisa mengendalikan dirimu.
"Ada yang bisa saya bantu mas?" tanyaku akhirnya setelah sedikit berhasil mengendalikan diriku
"Ibu mana"? tanyanya balik kepadaku dengan suara dingin yang kembali membuat jantung berdebar tak menentu
aku mengernyit heran, kenapa dia menanyakan ibunya di sini memangnya ini tempat mencari ibu sudah jelas ini tempat mencari kue.
"Maaf?" ujarku tak mengerti kemudian aku mencoba mengalihkan pandanganku dari wajahnya dengan susah payah lalu turun ke seragam sekolah yang sedang dipakainya. Bahkan dengan seragam sekolah ia terlihat sangat tampan, aku benar benar sudah dimabuk cinta. kemudian di seragamnya aku bisa melihat sebuah name tag yang bisa dengan mudah di lihat oleh siapapun, mataku memproses apa yang aku lihat di beberapa detik kemudian barulah otot otot mataku bereaksi. Mataku membulat tak percaya, aku mencoba mengeja namanya dengan benar seperti seorang anak yang baru belajar membaca
"E"
"R"
"L"
"A"
"N"
"D"
"A"
Aku lalu merangkainya perlahan berulang kali takut salah tapi berulang kali aku merangkainya tetap membentuk sebuah nama yaitu Erlanda.
Tunggu Erlanda nama itu sangat seringku dengar, tapi dimana mendadak pikiranku menjadi kosong tak bisa berfikir. aku terus mengulang namanya Erlanda, dimana aku pernah mendengar namanya, oh tuhan.
"Permisi" ujarnya tak sabar melihatku mematung di hadapannya, pasti dia sudah mengiraku adalah makhluk yang aneh.
"Eh,,e iya"
"Ibu Hana mana?" tanyanya semakin dingin tak sabaran
setelah laki laki yang di hadapanku ini mengatakan sebuah nama barulah aku bisa mengingat dimana aku mendengar nama Erlanda.
Oh iya Erlanda anaknya ibu Hana.
Tunggu jadi ini Erlanda, laki laki yang ada di lukisanku.
Laki laki yang kutemui di mall dengan temannya yang bertubuh berisi itu, laki laki yang dengan matanya saja bisa membuatku jatuh cinta sampai sekarang, laki laki yang mampu mengalihkan duniaku seutuhnya yang selama ini terasa biasa saja.
Laki laki ini, Erlanda.
dan sekarang aku menjadi pegawai ibunya.
Oh tuhan kebetulan macam apa ini batinku dalam hati.
Kemudian tanpa sadar Erlanda pergi dari hadapanku, aku sadar setelah bunyi denting bel pintu terdengar.
"Aish sial" teriakku dalam hati
pasti tadi dia kesal melihatku bagaimana bisa pertanyaannya hanya aku jawab dengan kebungkaman.
Tylisia, habis sudah kesan baik mu di hadapan Erlanda
Tylisia mengerang kesal "aaahh" sambil memukul kepalanya kesal "Tylisia bodoh banget"
***