“Bu, mendingan ibu istirahat saja” aku tak tega melihat Bu Hanna yang tetap saja kukuh tidak ingin pulang, aku hanya kasian dan tega tak ada niat lain selain iu.
“Ya sudah kalau kamu memaksa Ibu istirahat di rumah dulu ya memang sih rasanya sedikit capek” akhirnya Bu Hanna mau juga untuk beristirahat di rumah.
“Baik Bu, toko Ibu aman sama Tylisia”
Lalu Bu Hana berlalu meninggalkan toko berjalan menuju rumahnya meninggalkan diriku sendiri.
“Hari pertama bekerja” ucapku dalam hati terdengar lucu tapi sangat menyenangkan untuk pertama kalinya aku bisa merasakan apa itu bekerja selama ini aku tidak tahu rasanya bekerja menghasilkan uang. Hanya bisa menghabiskan uang tanpa adanya usaha.
Aku berdiri di balik kasir menunggu pelanggan yang datang tak lama kemudian terdengar bunyi lonceng menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk dengan antusias aku berdiri melihat Siapa yang datang dan benar ada dua orang pelanggan yang datang sepertinya mereka sepasang kekasih
“Selamat sore” ujarku ramah
“Sore” ucapnya juga tak kalah ramah.
Setelah itu mereka langsung mengambil tempat yang telah disediakan untuk meletakkan kue dan penjepitnya.
Mereka memilih milih kue yang masih tersedia kemudian salah satu diantara mereka bertanya kepadaku.
“Mbak kue coklat berry-nya habis ya?”
“Habis Mbak, hanya itu yang tersisa mbak.” Jawabku dengan sopan.
Ya dari 10 macam kue hanya tersisa 3 jenis saja memang benar toko Bu Hana bener-bener laku “Sayang sekali” ujarnya
“kami jauh-jauh ke sini mau mencari kue coklat Berry tapi ternyata habis” sambungnya dengan nada kecewa
“Coklat Berry memang yang paling laku di sini Mbak, jadi kalau mbak mau bisa datang pagi karena Bu Hana pemilik toko ini membuat coklat Bery dalam jumlah yang cukup banyak tapi tetap saja pada sore hari tak bersisa satupun” jelasku
Mereka mengangguk mengerti mendengar penjelasanku.
“Kalau misalnya saya pesan untuk acara hajatan Gimana Mbak? Bisa?” tanyanya membuat ku cukup bingung.
Bagaimana harus menjawabnya Bu Hana tidak memberitahuku jika ada pelanggan yang memesan seperti ini.
“Tunggu sebentar ya Mbak saya hubungi pemilik toko ini soalnya saya pegawai baru belum berani memutuskan, Tunggu sebentar ya Mbak”
“Baik” ujarnya
Untung saja Bu Hana memberikan nomor telepon nya kepadaku aku aku menelpon Bu Hana terdengar bunyi sambungan telepon di ujung sana.
“Halo Bu, ini Tylisia Bu”
“Iya ada apa?”
“ini ada pelanggan kita yang ingin memesan coklat Berry Bu untuk acara hajatan”
“Berapa banyak Tyl?” tanya Bu Hana
Oh ya aku sempat lupa menanyakan berapa banyaknya “Maaf mbak untuk berapa banyak ya Mbak?”
“Sekitar 100 buah untuk 4 hari lagi” jawab pelanggan itu
“100 buah Bu untuk 4 hari lagi, Bagaimana Bu?”
“4 hari lagi ya?” terdengar suara Bu Hanna sedang berpikir
“Bisa Tyl, oh ya jangan lupa minta dp-nya ya kuitansinya ada di lemari yang dikunci itu”
“Baik bu, dp-nya 50% aja Bu?”
“Iya Tyl” Bu Hana lalu menutup teleponnya.
Aku kembali ke pelanggan itu untuk menyampaikan apa yang Ibu Hanna sampaikan
“Maaf mbak menunggu lama” ujarku
“kata atasan saya bisa mbak tapi harus pakai DP dulu sebagai tanda jadi”
“berapa mbak dp-nya?”
“50% mbak dari harganya” jawabku masih dengan tersenyum
“Oke” jawab Mbak itu.
Aku segera mengambil kuitansi yang ada di lemari yang dikatakan oleh ibu Hanna menuliskan jumlahnya
“Coklat Berry satunya Rp7.000 berarti dikali 100 ya Mbak berarti Rp700.000 dan dp-nya 50% berarti Rp.350.000” ujarku menjelaskan
“Baik” lalu dia mengambil uang di dalam dompetnya memberikan kepadaku uang Rp100.000 sebanyak 3 lembar dan uang Rp50.000 sebanyak 1 lembar aku mengambilnya dan menghitungnya agar aku tak melakukan kesalahan.
“Baik mbak, uangnya dan ini ini tanda terimanya nanti kalau Mbak datang kesini lagi Mbak bawa itu ya”
“Kalau kuenya tidak bisa diantar ya Mbak?”
“Iya sepertinya tidak bisa mbak soalnya tidak ada kendaraan, tapi tunggu sebentar ya Mbak saya tanyakan kepada pemiliknya lagi”
“baik mbak”
“Halo ada apa Tyl?”
“Kalau pesanan kue coklat berry bisa diantar nggak ya Bu?”
Bu Hana terdiam tampaknya ia sedang berpikir
“Kue coklat berrynya 100 buah ya Tyl, Ibu hanya punya motor. Bagaimana bisa membawa kue sebanyak 100 buah Tyl, ibu takut nanti kuenya malah hancur”
“Iya juga ya Bu, tunggu sebentar ya Bu.”
“Maaf Mbak. sepertinya tidak bisa kendaraan kami tidak memungkinkan, apakah tidak apa-apa mbak?”
“Ah tidak apa-apa Mbak nanti biar Saya pesankan taksi online nanti Mbaknya pergi dengan itu, nanti takutnya tidak ada yang bisa menjemput ke sini karena sudah sibuk semuanya, bagaimana mbak? tidak apa apa Mbak Saya pesankan taksi menuju alamat rumah saya?”
“Bagaimana Bu?” aku balik bertanya kepada Bu Hanna yang mendengar percakapan kami melalui sambungan telfon yang belum terputus.
“Bagaimana Bu?”
“kalau seperti itu kita beri diskon saja saat pelunasan”
“Baik bu akan saya sampaikan”
“Maaf Mbak nunggu lagi kata pemiliknya bisa Mbak kalau seperti itu, untuk meringankan juga kami akan memberikan sedikit diskon pada saat pelunasan bagaimana Mbak?”
“Kalau tidak diberi diskon tidak apa-apa sebenarnya Mbak”
“Baik berarti nanti nempat hari kedepan kue coklat berry-nya kami antar ke alamat Mbak”
“Oh ya boleh tinggalkan nomor telepon Mbak” aku meminta nomor teleponnya
“ya sebentar mbak, ini”
“Baik terima kasih mbak, ini kue Mbak Terima kasih. Selamat menikmati” ujarku
Aku bergerak dari meja kasir ke arah etalase kue aku melihat kue-kue yang tersisa hanya tinggal 10 lagi.
Kemudianan kulihat Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore menurut pesan Bu Hana jika sampai pukul 4 sore kuenya masih tersisa kurang atau sama dengan 10 maka kuenya boleh dibagikan saja ke anak-anak yang sedang bermain sebagai bentuk sedekah untuk mereka sungguh mulia sekali hati Bu Hana.
Sebaiknya aku tunggu dulu jam 4 siapa tahu ada pelanggan lagi aku duduk sambil memperhatikan jam sebentar lagi 5 menit lagi jam menunjukkan pukul 4 aku duduk Sambil memandangi anak-anak yang sedang bermain lewat kaca toko ini yang bisa melihat siapapun yang ada di luar anak-anak yang sedang bermain dengan gembiranya berlari kesana kemari.
sangat nyaman bekerja di toko ini atau karena karena baru sehari tapi rasanya besok-besok aku pasti nyaman disini.
Bunyi dentingan jam sebagai tanda bahwa Jam menunjukkan pukul 16.00 dan artinya kue-kue ini menjadi rezeki dari anak-anak yang sedang bermain.
Aku mengambil kue itu dari etalase meletakkan di piring kue satu persatu dan menyusunnya lalu aku beranjak keluar untuk untuk memberikan kue-kue ini kepada anak-anak yang sedang bermain saat sampai di luar aku memanggil mereka
“Adik-adik” ujarku
“ayo sini Kakak ada kue” lalu mereka dengan semangatnya datang menghampiriku dalam jumlah yang cukup banyak aku menghela nafas pelan melihat mereka yang berjumlah lebih dari 10 aku tiba-tiba bingung apa yang harus aku lakukan
“Kak. Kak, kak mana kuenya cepat bagikan” ucap mereka mendesakku
“Sabar tunggu sebentar kasih kesempatan kakak untuk berpikir ya kue nya ada 10 kalian lebih dari 10 nanti ada yang tidak dapat Bagaimana? apakah kalian mau berbagi?” tanyaku meminta solusi dari mereka.
“Maulah” teriak mereka kompak aku terkejut melihat kekompakan mereka
“biasanya kata Bu Hana Kalau kuenya ada sedikit dan kami banyak kami harus bisa berbagi agar semuanya mencicipinya sebab setiap hari Pasti Kami akan mendapatkan kue lagi jadi tak perlu khawatir karena jika kita berbagi pasti akan datang lagi rezeki yang lain.”
Aku tertegun mendengar ucapan mereka bagaimana bisa mereka berbicara seperti itu, berbicara dengan bijaknya semua berkat Bu Hanna yang mengajarkan mereka tentang arti berbagi
“Jika begitu Kakak mau membagikan kuenya ya, coba berpasang-pasangan dulu cari pasangan yang yang akan kalian bagi kuenya”
“Baik kak “mereka dengan cepat mencari pasangan mereka untuk berbagi kuenya hanya dalam waktu kurang dari 3 menit mereka sudah menemukan pasangannya
“dari yang kecil dulu ya” ujar ku aku memberikan sepotong kue kepada mereka
“Terima kasih Kak” ujar mereka kompak sangat lucu pikirku aku memberikan setiap potongan kue kepada mereka potongan terakhir ada yang tidak mendapat pasangan karena jumlah mereka yang ganjil
“bagaimana kamu tidak ada pasangan?”
“Iya Kak bagaimana ini, Ya udah ini untuk kamu saja”
Tapi jawaban anak kecil itu sangat mengejutkanku
“tidak Kak kalau aku sendiri pahala berbagi ku hari ini tidak ada” tertegun berulang kali aku mendengar jawaban mereka walaupun mereka hanya tinggal dalam lingkungan seperti ini tapi rasa berbagi mereka luar biasa aku malu dulu aku yang serba ada tidak ingin untuk berbagi tapi mereka yang yang hanya cukup untuk makan saja mau untuk berbagi
“Lalu kamu mau berbagi dengan siapa?” Tanyaku
“Kakak mau?” tanyanya kepadaku
“Sama Kakak?”
“Iya” lalu dia mengambil sepotong kue itu dan menyuruhku untuk mengambilnya
“ambil saja kak jangan terlalu kecil dan jangan terlalu besar” ujarnya membuatku tak tahan untuk tidak tertawa
“siap Kakak ambil sesuai kebutuhan saja”
Sore ini, terasa berbeda dari sore-sore sebelumnya aku mendapatkan sebuah pengajaran yang luar biasa sore ini dari anak-anak yang tak pernah kupikirkan akan berpikiran seperti itu rasa berbagi yang begitu tinggi semoga aku bisa seperti mereka berbagi untuk siapa saja.
Aku berdiri sudah waktunya aku untuk membersihkan toko aku pun melangkah masuk meninggalkan anak anak yang sedang menikmati kue dengan nikmat.