“Kok diam aja Kak? ada yang salah?” “Lo nggak ngedengerin kata gue, gue bilang tunggu aja gue di persimpangan dekat rumah. Nggak usah lo berhenti di depan rumah gue” ucap Erlanda tanpa menatap Divandra sedikitpun. Entah kenapa rasanya kesal melihat Divandra tidak menuruti apa yang ia katakan “Jadi itu alasan kenapa lo diam, yah lebih baik dong gue jemput lo depan rumah” “Tapi…” Perkataan Erlanda terhenti saat ia mencoba menahan emosinya sambil memegang setir mobil. Berdebat dengan Divandra tidak akan pernah berhenti dirinya yang lahirsebagai orang normal harus mengalah apalagi mengingat sesuatu yang diketahui Divandra. Akhirnya Erlanda terus melajukan mobilnya tanpa mengajak Divandra berbicara tentu saja Divandra kesal akan sikap Erlanda itu, bagaimana pun yang terjadi ia masih me

