Tylisia akhirnya sampai di toko kue Bu Hana sekaligus tempat tinggalnya, ia melangkah dengan gontai. Rasanya ada yang salah pada dirinya, hatinya terluka karena perkataan Erlanda. Ia tahu dirinya memang merepotkan Erlanda tapi tidak seharusnya Erlanda berbicara dengan perkataan yang kasar. Tylisia masuk ke dalam kamar, ia melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia tak peduli lagi dengan keadaan kamarnya apakah akan berantakan atau tidak yang penting ia bisa dengan cepat membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya lelah dan batinnya juga ikut lelah. Ia menutup matanya rapat rapat, menarik nafas dalam unuk mengisi rongga paru parunya yang terasa sesak. Terlintas semua kejadian hari ini, hari ini rasanya nano nano ada suka dan ada duka, tapi lebih banyak dukanya. Tiba tiba kepala berdenyu

