0.30

3197 Kata
“Halo kak Tylisia ya? salam kenal” sapa sosok remaja berumur 15 tahun dari balik pintu rumah mbak Arni. Aku cukup terkejut dengan sikap ramahnya “Halo, iya salam kenal juga, ini Feni ya anaknya Mbak Arni?” tanyaku balik ingin memastikan ya walaupun aku tahu jawabannya pasti sebuah kata iya. “Iya kak, aku Feni” ujarnya tak kalah bersemangat. Membuatku mengembangkan senyuman karena melihat tingkahnya yang sangat bersemangat seperti bertemu dengan idolanya saja. “Feni, lah kakaknya nggak di suruh masuk ?” tanya Mbak Arni membuatku kembali terkekeh melihat interaksi ibu dan anak ini. “Oh ya lupa Buk, masuk kak” Feni mempersilahkan ku masuk ke dalam rumah kontrakan kecilnya. “Maaf ya kak rumahnya kecil semoga kakak nyaman” ujar Feni membuatku tak terima dengan ucapannya. “Lah nggak apa apa dek, kecil besar kan fungsinya sama” ujarku mengoreksi perkataannya. Aku sebenarnya sudah mengenal Feni sebab saat Feni masih kecil beberapa kali dia datang ke rumahku untuk bermain. Tapi hanya beberapa kali setelah beranjak remaja feni tak pernah lagi datang ke rumahku karena menjaga neneknya saat ibunya bekerja. Bahkan Feni sudah ku anggap adikku sendiri, terkadang baju baju yang sudah tak muat lagi akan diberikan kepada Feni tidak hanya baju yang tidak muat lagi tapi aku dan mama sengaja memberikan oleh oleh dari luar negeri untuk Feni dan anak anak Asisten Rumah Tangga ku yang lain. “Non, mau mandi dulu atau makan?” tanya Mbak Arni kepadaku. Sebenarnya mbak Arni sudah cukup berumur, tapi karena sejak kecil aku menganggap para asisten rumah tangga ku sebagai kakak maka tak heran tua muda akan aku panggil mbak sebagai bentuk kedekatan ku dengan mereka. Aku tak ingin ada jarak antara aku sebagai tuan dan mereka sebagai asisten. “Mau mandi dulu deh mbak, lengket banget rasanya” ucapku jujur memang benar badan ku terasa lengket dan bau keringat aku tidak ingin nanti malam tidurku menjadi tidak nyenyak karena kepanasan tidak mandi. “Oh kalau gitu silahkan Non, Fen bantu Kak Tylisia ya” suruh Mbak Arni kepada Feni “Siap Buk, ayo kak” Feni dengan sigap berdiri untuk menunjukkan kamar mandi di rumah ini. Aku berdiri dari tempat dudukku dan mengikuti Feni yang sudah berjalan terlebih dahulu ke arah dapur. “Ini kak sudah sampai” ujar Feni “Sebenarnya tak perlu Feni tunjukkan sih karena rumah ini kecil kak hanya ada kamar mandi dapur dan kamar” sambung Feni kepadaku “Feni ini, seharusnya Feni bersyukur punya rumah lihat kakak walaupun dulu rumah kakak besar tapi sekarang kakak nggak punya rumah, itu berarti semuanya adalah titipan. Mangkanya kita dalam hidup harus selalu bersyukur atas apa yang tuhan berikan kepada kita sebab kita nggak tau kapan itu akan diambil kembali oleh tuhan” entah sejak kapan aku bisa berbicara bijak seperti ini aku bagaikan menertawakan diri sendiri apakah sekarang aku sudah bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi. “Kakak” ujar Feni terharu, lalu Feni memelukku dengan erat membuatku terkejut dengan sikapnya yang tiba tiba tapi setelah aku selesai dari keterkejutanku aku ikut membalas pelukan gadis kecil ini dan menepuk nepuk pelan punggungnya. Tak lama Feni melepaskan pelukannya “Kakak bau ya?” tanyaku kepadanya sambil mencoba mencium bau badanku sendiri Feni menggeleng kuat “Nggak bau kok kak” Aku tersenyum “Feni udah pintar bohong sekarang ya?” “Feni bilang yang sesungguhnya kok kak” wajah polos Feni yang tak tahu kalau dia sedang digoda sangat lucu bagi ku. “Kakak cuman bercanda kok” ujar ku “Yaudah kakak mandi dulu ya” sambung kepada Feni Tapi perkataan Feni menghentikan langkahku “Kak, handuknya mana?” Ya ampun aku hampir melupakan handukku padahal aku mau mandi bisa bisanya aku melupakan benda sepenting itu. “Ya ampun Fen, kakak lupa” aku segera kembali ke kamar dimana barang barang ku berada untuk mengambil handuk yang sempat aku lupakan. “Ada apa Non?” tanya Mbak Arni Langsung dijawab oleh Feni yang berada tepat di sampingku “Handuknya Kak Tylisia ketinggalan Bu” Yang hanya aku balas dengan cengiran tak berdosa “Ya udah Bu aku lanjut mandi dulu ya” “Yang bersih ya Non, jangan lupa pake sabun” canda Mbak Arni karena mbak Arni sangat tahu bahwa aku sedikit pelupa. “Ibu ini” ujar Feni tak terima kalau Tylisia sedang digoda oleh ibunya. *** “Sudah selesai mandinya Non?” taya mbak Arni yang ternyata juga menunggu untuk mandi “Udah mbak, maaf ya lama” ujarku meminta maaf karena tidak enak harus menggunakan kamar mandi dalam waktu yang cukup lama. “Nggak apa apa non, namanya juga anak gadis wajar dong mandinya lama, nggak seperti anak ibu satu ini kalau mandi kilatnya minta ampun, kayak ayam jago” kali ini giliran Feni yang jadi bahan candaan oleh Mbak Arni. “Yah kalau aku ayam jago ibu apa” tanya Feni yang ikut mengiyakan perkataan ibunya “Ayam ayaman” tawa Mbak Arni pecah tapi tidak dengan Feni ia tak merasa bahwa perkataan ibunya itu lucu. “Krikk krikkk” Feni mencoba menirukan bunyi belalang sebagai bentuk candaan karena candaan ibunya yang sangat tidak lucu. “Udah sana bu mandi” usir Feni kepada ibunya. Aku tertawa melihat interaksi ibu dan anak ini, aku tak menyangka mereka akan selucu itu, seketika ada perasaan rindu akan mama yang tiba tiba menyelinap di relung hatiku. Seketika aku bertanya tentang apa yang sedang mama lakukan disana, apakah mama sudah makan ataukah mama sedang tertidur. Semoga tuhan selalu melindungi mama. Doaku di dalam hati. *** “Masakan Feni enak banget” aku tak henti hentinya memuji masakan Feni yang menurutku sangat enak seperti masakan mbak Arni. “Kakak ini terlalu berlebihan, orang cuman tempe sama ikan goreng di bilang enak” Feni merasa bahwa pujian ku terlalu berlebihan padahal aku mengatakan yang sebenarnya masakan Feni memang sangat enak mirip dengan masakan Mbak Arni. “Kakak nggak bohong Fen beneran enak, bakat masak ibu kamu nurun banget ke kamu” ujarku jujur Mbak Arni ikut menyetujui apa yang aku katakana “Iya kan Non, emang enak masakan Feni dianya nggak percaya diri kalau ikut lomba lomba masak gitu” Aku terkejut bagaimana bisa masakan seenak ini bisa membuat Feni tak percaya diri “Fen, kenapa? Masakan kamu enak kok, kakak yakin kalau kamu ikut lomba pasti menang” “ Kakak jangan seperti ibu deh” “Lah memang benar kan ya Mbak” ujarku mencari persetujuan “Iya kamu aja yang nggak percaya diri, ya sudah ayo kita lanjut makan. Aku kembali melanjutkan kegiatan makanku, walaupun dengan lauk pauk yang sederhana tapi rasanya begitu nikmat jika dijalani dengan keikhlasan dan kebahagian. *** “Erlanda, ayo makan!” panggil Bu Hana dari arah meja makan Tapi tak ada sautan dari Erlanda biasanya jika Bu Hana memanggil pasti Erlanda dengan cepat merespon dan segera menghampiri ibunya. “Kemana anak itu?” tanya bu Hana dalam hatinya Bu hana berjalan menuju kamar Erlanda “Lo kok pintunya di tutup” ujar Bu Hana melihat pintu kamar Erlanda yang tertutup rapat. Bu Hana mencoba mengetuk pintu kamar Erlanda sambil mencoba memanggilnya TOK TOK TOK “Erlanda” Tak ada sautan “Erlanda” TOK TOK “Sebentar Bu” ujar Erlanda dari dalam kamarnya lalu terdengar bunyi pintu terbuka Sosok Erlanda muncul dari balik pintu dengan kaos hitam dan celana pendek “Ada apa Bu?’ “Kamu tidur ya?” tanya Bu Hana kepada Erlanda “Nggak Bu, lagi ngerjain tugas” jawab Erlanda “Tapi udah ibu panggil berkali kali kok nggak jawab” “Lagi pake earphone Bu” jawab Erlanda jujur “Oh gitu, kirain kamu kenapa napa lagi bikin ibu khawatir aja, ayo makan Nak ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu” ajak Bu Hana sambil mendorong tubuh erlanda menuju meja makan “Ibu udah lapar banget buruan deh” sambung Bu Hana Akhirnya Erlanda dan ibunya tiba di meja makan. Meja makan yang berukuran kecil yang hanya cukup untuk mereka berdua walaupun meja makan mereka sangat sederhana tapi tentu saja masakan yang ada diatasnya bukanlah makanan biasa masakan yang dibuat dari cinta seorang ibu yang tulus untuk anaknya pasti akan membuat rasa masakan menjadi jauh lebih enak apalagi keterampilan yang dimiliki Bu Hana dalam perkara masak sangatlah luar biasa tak heran jika bu Hana memutuskan untuk membuka toko kue. “Ibu kapan masak ini?” tanya Erlanda kepada ibunya yang duduk di seberang tempat duduknya “Tadi sore ketika kamu masih di sekolah” jawab Bu Hana sambil menyendokkan nasi ke dalam piring Erlanda “Ibu, kan udah Erlanda bilang jangan capek capek kalau mau masak satu aja nggak usah banyak banyak Erlanda nggak mau ibu kecapekan” Erlanda sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi ibunya walaupun setelah operasi ibunya 6 bulan yang lalu keadaan ibunya semakin membaik tapi tetap saja ada segelintir kekhawatiran yang ada di benak Erlanda. “Er, ini udah tugas ibu, ibu nggak capek kok malah kamu tahu kan kalau masak menjadi kegiatan kesukaan ibu” Bu Hana memberikan piring berisi nasi kepada Erlanda dengan cepat Erlanda menerimanya. “Ini ada ayam bakar kesukaan kamu, dulu waktu kecil kalau kamu udah di masakin ayam bakar pasti nafsu makannya jadi bertambah dari yang biasanya makannya sepiring dan itupun susah habisnya tapi kalau udah disuapi dengan ayam bakar makan kamu bisa dua piring lebih.” Kenang Bu Hana mengingat masa lalu yang begitu menyenangkan mengenai Erlanda kecil “Sekarang juga gitu kan Bu?” tanya Erlanda “Kalau sekarang mah nggak pake ayam bakar pun makan kamu tetap aja banyak” ledek Bu Hana kepada Erlanda membuat Erlanda terkekeh dengan jawaban ibunya. Ibu Hana memberikan sepotong besar ayam bakar kepada Erlanda meletakkannya di piring Erlanda “Makan yang banyak ya anak ganteng ibu” “Ibu” Erlanda tak terima ibunya berkata seperti itu dirinya bukan anak kecil “Lah kenapa emang anak ibu ganteng” Bu Hana tetap tak terima bahwa ucapannya di protes oleh Erlanda “Iya iya Erlanda ganteng ya kan Bu” lalu gantian giliran Erlanda yang mengambil sepotong ayam bakar kemudian di letakkan di piring ibunya “Makan yang banyak ya ibu Erlanda yang paling cantik” Bu Hana tersenyum mendengar ucapan Erlanda “Makasih anak ganteng ibu” Terkadang hanya dengan hal hal sederhana kita bisa merasahakan bahagia, tak perlu hal luar biasa karena hal sederhana bisa jadi luar biasa tergantung dengan perasaaan yang mengikutinya. *** Setelah menyelesaikan makan malamnya Erlanda dan Bu Hana duduk di teras depan rumahnya, menghabiskan waktu bersama untuk sekedar berbicara mengenai keseharian mereka berdua. “Er, ibu ada berita bagus” ujar Bu Hana antusias “Berita apa Bu?” “Ibu punya pegawai baru” Erlanda terkejut sejak kapan ibunya itu punya rencana untuk merekrut pegawai baru, ibunya tak pernah mengatakan hal ini sebelumnya kepada Erlanda. “Pegawai baru? Sejak kapan ibu punya rencana untuk merekrut pegawai” Tanya Erlanda kepada ibunya “Sejak ibu lihat kamu kesusahan membersihkan toko Er, ibu tidak ingin kamu kesulitan mengurus toko Er” Bu Hana memberin alasan mengapa ia merekrut pegawai baru. “Ibu, sudah Erlanda bilang nggak apa apa Bu Erlanda nggak merasa capek, kan itu juga tugas yang ringan” Erlanda memberikan pengertian kepada ibunya bahwasanya dirinya sama sekali tidak kesulitan dengan apa yang ia lakukan. “Erlanda, nggak apa apa sekali kali kita nolong orang yang lagi butuh banget pekerjaan” ucapan Bu Hana membuat Erlanda penasaran memangnya siapa yang ingin bekerja di toko kue milik ibunya “Ibu udah dapat pegawainya, siapa?” “Udah dong, anaknya teman Bu Arni keliatannya anaknya baik cantik lagi” ujar Bu Hana membuat Erlanda mengerutkan keningnya “Bu Arni?” “Itu lo ibu yang bekerja sebagai asisten rumah tangga yang rumahnya di dekat perempatan dekat toko kita Er.” Erlanda mencoba mengingat ngingat bu Arni yang dimaksud ibunya itu. “Sepertinya anak itu seumuran dengan kamu deh Er” ujar ibu Hana membuat Erlanda makin tak mengerti dengan jalan pikiran ibunya. “Kalau seumuran dengan Erlanda berarti masih sekolah dong Bu, lalu gimana sekolahnya?” “Nah itu dia, ibu bilang kamu boleh datang sehabis pulang sekolah” “Kalau gitu sama aja dengan Erlanda Bu, Erlanda kan bisa bantu ibu sepulang sekolah” ujar Erlanda tetap tak terima dengan keputusan ibunya. “Nggak biarin aja, ibu juga suka dengan anak itu udah cantik, baik, sopan lagi. Memang ya kalau orang baik itu sekali lihat kita bisa tahu” Erlanda hanya mendengarkan ibunya bercerita mengenai pegawai barunya itu. Sepertinya keputusan ibunya sudah sangat bulat tak bisa lagi di ganggu gugat. *** Aku terbangun dari tidurku setelah cahaya terik menganggu tidurku, aku segera melihat jam yang ada di ponselku. Pukul 07.00 Oh tidak aku kesiangan, aku harus kesekolah. Aku dengan cepat bangun tapi saat aku lihat kondisi kamar yang aku tempati aku baru menyadari kenyataan yang ada dihadapanku. Oh ya, aku bukan seorang siswa lagi. Aku menghela nafas berat, kenyataan kembali menamparku. Apakah diri ini masih belum bisa menerima kenyataan yang sedang terjadi. Aku menguatkan diri dengan sebuah kata kata penyemangat yang aku jadikan sebagai mantra untuk menguatkan diri sendiri. Aku bangkit lalu berdiri mencoba melangkah untuk keluar dari kamar sebagai langkah pertamaku hari ini untuk menghadapi segala kenyataan yang ada di depanku nantinya. Saat aku keluar dari kamar aku bisa melihat Feni sedang asyik menonton tv. Aku mengerutkan kening heran bukannya ini waktunya untuk berangakat sekolah. “Feni, nggak sekolah?” tanya ku ketika melihat Feni duduk di depan tv, padahal jam sudah menunjukkan pukul 07.00 seharusnya menjadi wkatunya untuk berangkat sekolah. “Feni, udah minta surat pindah kak” Aku hampir lupa bahwa Feni dan Mbak Arni akan pindah dari kota ini, menuju kampung halaman Mbak Arni “Oh ya, jadi surat pindahnya udah di urus?” Tanyaku kepada Feni “Iya kak, nanti siang udah bisa di jemput” Aku hanya mengangguk angguk mengerti tak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku beranjak dari hadapan Feni untuk mencari Mbak Arni yang belum sama sekali aku lihat sejak tadi. *** Aku melangkah ke arah dapur berharap Mbak Arni ada di sana, tapi nihil. “Mungkin mbak Arni sedang berada di luar” fikirku lalu kembali melangkahkan kaki keluar tapi tetap saja nihil. Aku putuskan untuk kembali ke ruang tv dimana Feni berada untuk menanyai keberadaan Mak Arni. “Fen, Ibu mana?” tanyaku kepada nya “Oh ibu pergi ke pasar kak, bahan bahan masakan habis kak” jelas Feni Aku mengangguk mengerti, pantas saja sejak tadi aku mencari mbak Arni tidak juga aku temukan ternyata mbak Arni sedang pergi ke pasar. “Kak, ada apa mencari ibu kakak lapar ya?” tanya Feni kepadaku “Nggak Fen, kakak belum lapar” ujarku sedikit berbohong karena tidak enak rasanya untuk makan di saat tuan rumah tak ada di rumah. “Kebetulan ikan semalam masih ada kak” ujar Feni lagi “Tidak dek kakak belum lapar, kakak mau mandi aja dulu” aku langsung teringat dengan percakapanku kemarin bersama Bu Hana lebih baik aku langsung bekerja saja di toko kue itu sekaligus latihan dari pada aku di rumah apalagi besok Mbak Arni dan Feni akan segera pindah, aku harus bisa menyiapkan diriku sendiri sebelum tak ada siapapun yang mau membantuku lagi, aku tidak ingin terus bergantung kepada Mbak Arni. walaupun sudah berulang kali mbak Arni mengajakku ke kampung halamannya tapi dengan cepat aku menolaknya. aku tidak enak harus membuat Mbak Arni repot dengan keberadaanku. *** Setelah selesai mandi aku bisa melihat Mbak Arni yang sudah pulang dari pasar. “Sudah pulang mbak?” tanyaku “Iya Non, Non udah makan?” “Belum lapar Mbak, rencananya aku mau ke tokonya Ibu Hana hari ini mbak” “Loh kenapa apa nggak kecepetan kesananya Non?” tanya Mbak Arni “Nggak apa apa Mbak, sekalian belajar dulu sebelum mulai resmi gladi dulu” ujarku membuat Mbak Arni mau tak mau juga ikut tertawa “Ya sudah Non, tau kan jalannya atau mau di temani dengan si Feni” tawar Mbak Arni yang langsung aku setujui “Iya Bu boleh kalau Feninya nggak sibuk” “Sibuk apaan sih Feni, gitu gitu aja. Feni sini dulu” panggil Mbak Arni kepada anak semata wayangngnya itu. “Iya bu, ada apa?” Feni menghampiri kami berdua yang sedang berada di dapur “Anterin Kakaknya ke toko nya Bu Hana” perintah Mbak Arni kepada Feni “Siap bosku, ayo kak berangkat skuy!” Feni dengan hebohnya langsung mengiyakan perintah ibunya “Tapi tunggu dulu kak, Feni siap siap dulu mau mandi dulu” Perkataan Feni sukses membuat ibunya berdecak sebal, mau mengantar aku saja ia harus serepot itu. Feni sukses mendapat pukulan pelan dari ibunya tentu saja Feni tak terima dengan apa yang ibunya lakukan segera ia berlari mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. “ FENIIII “Teriak Mbak Arni dari luar sedangkan Feni dengan cepat mengguyur tubuhnya dengan air agar suara teriakan ibunya tidak terdengar. *** "Feni memang ada aja tingkahnya Non, maaf ya" Mbak Arni merasa tak enak denganku karena membuatku harus menunggu "Iya tidak apa-apa Mbak jangan merasa seperti itu denganku Aku tidak apa-apa jika harus menunggu" ujarku kepada mbak Arni Karena ia merasa tak enak tapi yang kulihat wajah Mbak Arni merasa tetap tak enak melihatku. Aku berusaha membuat Mbak Arni percaya bahwa aku tidak apa-apa *** Aku mengatakan kepadanya kembali "Aku juga tidak terburu-buru Mbak Biarkan saja Feni mandi" kemudian mbak Arni bertanya kepadaku "Benar Non belum ingin makan atau hanya merasa malu untuk mengatakan kalau non lapar atau karena makan di sini tak sesuai dengan selera Non atau masakan kami tidak enak?" tanya Mbak Arni karena melihatku belum makan "Tidak Mbak, hanya saja aku belum merasa lapar jikalau aku lapar aku akan balik ke sini makan Mbak, masakan mbak dan Feni Enak kok" ujarku kepada mbak Arni “Oh ya mbak tadi saya pulang dari pasar kebetulan saya menemukan kue kesukaan non, mau kue itu Non?” lalu Mbak Arni mengeluarkan kue yang ia sebut kan tadi dari kantong belanjaannya dan benar ternyata itu kue telur kue kesukaan ku ada, kue yang berbentuk ikan daun dan Ada yang berbentuk bulat seperti bentuk apa itu aku juga tidak tahu. “Wah ini memang kue kesukaanku Mbak aku mau satu Mbak” ucapku kepada mbak Arni “Dua juga boleh kok Non, ini Mbak sengaja belikan kue ini khusus untuk non dimakan ya” Mbak Arni memberikan kue itu kepadaku aku langsung mengambilnya dengan cepat Tak sabar rasanya untuk mencicipi kue yang telah lama tidak aku makan. Rasanya cacing di perut ku sudah tak sabar ingin bertemu kue itu di dalam perut. “Gimana non?” tanya Mbak Arni “Enak banget Mbak sepertinya ini memang asli kue telur tanpa ada pemanis rasanya benar-benar alami” “Iya kue ini memang sudah terkenal non bahkan pengirimannya sudah seluruh Indonesia ya walaupun tokonya masih kecil kecilan Tapi tetap saja jangkauan penjualannya luar biasa” Ujar Mbak Arni ikut mempromosikan tempat ia membeli kue. “Jika saja aku mengetahui tempat ini dari dulu pasti aku akan memborong nya Mbak” ujarku tak mau kalah memang benar rasanya begitu enak tak pernah aku mencoba rasa kue telur yang enak seperti ini memang benar-benar berbeda rasanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN