0.29

1556 Kata
“ Aku antar ya Tyl “ ujar Shiden saat aku melangkah keluar gerbang. “ Nggak usah Dhen, haltenya dekat sini kok aku jalan aja sama mereka” ujarku kepada Shiden. Aku tidak ingin merepotkannya lagi dan lagi. “ Tapi Tyl “ ujarnya “ Kamu nggak perlu lakuin apa apa Den, cukup kamu buktiin janji kamu ke aku, oke?” ujarku kepadanya membuatnya mengatupkan mulutnya hendak memotong ucapanku. Aku tertawa melihat tingkahnya. “ Aku pergi ya, kamu hati hati” Ujarku “ Kamu yang hati hati, ingat aku selalu ada untuk kamu” “ Iya dendeng, kamu juga ingat kalau kamu ada aku, jangan malu bergaul dengan orang miskin kek aku” ujarku sambil terkekeh “ Tyl, lu ngomong gitu gue mutilasi nih” ujar Shiden geram Membuatku semakin tak bisa menahan tawaku. “ Bye Shiden “ ujarku melambaikan tangan sebelum aku kembali melangkah memasuki rombongan asistenku atau lebih tepatnya mantan asistenku yang menuju ke halte. Shiden melambaikan tangannya tinggi tinggi “ Hati Hati sahabatku” teriaknya lebay menurutku. Aku melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, kemudian kembali melanjutkan perjalananku, perjalanan yang berbeda dengan perjalananku selama ini, perjalanan yang amat berat, perjalanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, perjalanan yang entah sampai dimana akhirnya, perjalanan terjal dengan jutaan rintangan yang ada di depannya. Perjalanan dengan sejuta rahasia tersembunyi yang diciptakan tuhan untukku. Aku memandang langit, langit biru nan indah. Langit seperti mengerti dengan diriku saat ini, di saat aku sedang terpuruk seperti ini tetapi langit sedang indah indahnya, seperti mencoba membuatku paham bahwa ada hal indah setelah hal buruk yang terjadi, hal indah akan ada di saat yang tepat. Langit sampaikan pada tuhan, bahwa aku ingin seindah kamu juga. *** Aku turun dari bis kota yang berhenti di halte terdekat dengan rumah Mbak Arni, sebenarnya rumah mbak Arni tidak begitu jauh dari rumah lama ku, tapi berada di pinggiran kota. Rumah mbak Arni menjadi pilihanku satu satunya untuk menumpang berteduh dari teriknya panas dan dinginnya hujan beberapa hari ke depan, kenapa rumah mbak Arni sebab hanya rumah mbak Arni yang berada di kota yang sama denganku. Walaupun hanya rumah kontrakan yang beberapa hari lagi akan di tinggalkan oleh mbak Arni karena setelah kehilangan pekerjaan di tempatku mbak Arni tidak lagi memiliki penghasilan untuk membayar sewa kontrakan. Maka dari itu aku hanya menumpang beberapa hari untuk tinggal di rumah mbak Arni setelah itu aku harus mencari lagi tempat berlindung yang bisa aku gunakan. Sebenarnya aku sangat khawatir mengenai hal ini, tapi aku tidak bisa mengadu kepada siapapun sebab aku tak punya siapapun selain diriku. Shiden sama sekali tak mengetahui bahwa Mbak Arni akan kembali ke kampung halamannya Shiden hanya tahu bahwa aku tinggal di rumah Mbak Arni dalam waktu yang lama jika saja Shiden tahu akan fakta itu, aku yakin dia pasti tak akan memperbolehkanku dan terus memaksa ku untuk tinggal di rumahnya. Sekali lagi aku tak ingin merepotkan siapa siapa. Apalagi Shiden. “Non, sini saya bawakan tasnya” ujar Mbak Arni melihatku sedikit kesulitan membawa tas yang cukup besar, karena aku tak biasa membawa barang barang berat. Tapi sekarang aku harus membiasakan diri, menguatkan diri menghadapi apapun. “Mbak, jangan panggil Non deh, aku kan bukan majikan mbak lagi”ujarku merasa tak enak “Ah Non ini, kenapa jadi drama gitu, kalau saya nggak manggil Non dengan sebutan Non, lalu saya harus manggil Non dengan sebutan apa ?” “Panggil Tylisia aja Mbak” jawabku “Tylisia” eja mbak Arni Aku mengangguk “Iya Tylisia Mbak” “Ah nggak Non, aneh banget rasanya, wes toh yang paling cocok cuman Non Tylisia” ujar Mbak Arni jujur “Mbak, mangkanya dibiasain” protesku tak terima. Tapi tak mendapat balasan dari Mbak Arni karena dengan sengaja beliau mempercepat langkah kakinya mendahuluiku, menunjukkan bahwa dia tak ingin membahas persoalan yang sedang kami bicarakan. Aku melihat itu segera memperbesar langkah kaki ku mengejar Mbak Arni. “Mbak tunggu aku” teriakku masih mensejajarkan langkahku dengannya. “Ayo non cepetan, anak mbak udah masak enak buat kita” ujarnya membuat ku mempercepat langkahku. *** Aku melewati gang yang penuh dengan rumah yang hampir berimpitan. Sungguh kontras dengan pemandangan yang biasanya aku lihat setiap hari. Suara riuh anak anak yang berlari larian di tengah jalan dan bunyi klakson dari motor yang berlalu lalang menambah suasana bising di gang ini. Aku tersenyum memperhatikan anak anak yang sedang asyik bermain, sungguh bahagianya mereka bisa bermain bebas bersama teman temannya seperti tidak ada beban atau lebih tepatnya memang tak ada beban sama sekali. Tertawa lepas menertawakan hal yang mereka anggap lucu. Tapi, aku sadar bahwa kebahagian tidak datang hanya karena uang tapi kebahagian bisa datang dengan hal hal kecil yang sebagian orang anggap tak berharga. Saat aku mengalihkan pandanganku setelah memperhatikan anak-anak yang sedang bermain, tiba tiba aku melihat seseorang yang mampu membuatku mematung. DEG Aku merasakan jantungku berdebar kencang, dengan reflek tangan kananku terangkat untuk merasakan debaran yang semakin kuat. Pikiranku seolah kosong hanya tertuju kepada objek yang mampu menghentikan seluruh saraf sadarku. Dia. Lukisanku. “Non” panggil mbak Arni melihat diriku yang terdiam mematung, tapi entah kenapa panggilan mbak Arni sama sekali tak bisa ku dengar. “Non” teriak mbak Arni lebih keras lagi. Tetap saja aku masih terdiam memperhatikan objek pandangank yang sudah berjalan menjauh menyisakan jarak antara aku dan dirinya. “Non” sekali lagi Mbak Arni memanggilku. Barulah di panggilan ketiga aku baru menyadarinya, aku mencari sumber suara Mbak Arni yang terus memanggilku. Aku menoleh ke sebelah kiri, tidak ada. Kanan, juga tidak ada. Di depan, hanya ada sekumpulan anak anak yang sedang bermain. Lalu, terakhir di belakang. Aku membalikkan tubuhku dan aku bisa melihat mbak Arni dengan raut wajah khawatir sedang menatapku. Aku langsung menyunggingkan senyumku “Maaf Mbak, tadi nggak kedengaran” aku berjalan ke arahnya yang sedang bersama dengan seorang ibu ibu yang dari wajahnya saja aku tahu bahwa dia adalah orang yang sangat baik. “Non, nggak apa apa kan?” tanya Mbak Arni khawatir tepat saat aku sudah berdiri di hadapannya. “Nggak apa apa mbak, tadi lagi fokus ngelihat anak anak yang lagi main” ujarku setengah berbohong karena memang benar aku sedang fokus melihat lukisanku bukan anak anak itu. “Aduh Non ini, bikin saya khawatir aja, kirain non kerasukan jin gang karena non orang baru di sini” ujar Mbak Arni membuatku membesarkan bola mataku karena terkejut tak menyangka dengan perkataan Mbak Arni. “ Aduh mbak, gini gini iman ku kuat lo” ujarku setengah tak terima. Mbak Arni hanya ikut tertawa dan ibu ibu yang di sampingku juga ikut tertawa. “Oh ya Non, kenalin ini Ibu Hana, teman Mbak. Dia yang punya toko kue yang ada di depan situ” Mbak Arni memperkenalkan ibu yang ada di hadapanku sambil menunjukkan toko kue yang dimaksud dengan Mbak Arni. “Toko itu, lukisanku keluar dari sana tadi” Bisikku dalam hati. “Selamat sore Bu, salam kenal aku Tylisia Bu” ujarku sopan memperkenalkan diri. Kemudian Mbak Arni kembali melanjutkan perkenalanku kepada Bu Hana “Ini anak teman saya Bu, lagi cari kerja mangkanya nginap di rumah saya sementara.” Aku dan Mbak Arni sudah membahas ini tadi di bus, bahwasanya aku memang ingin mencari pekerjaan yang cukup untuk menghidupiku, tapi aku tak menyangka bahwa Mbak Arni akan menyembunyikan identitasku sebagai anak majikannya, jika saja Mbak Arni mengatakan yang sebenarnya pasti banyak yang akan bertanya mengapa anak seorang majikan harus datang ke lingkungan seperti ini. Mbak Arni tidak ingin aku mengingat apa yang terjadi walaupun aku tak bisa juga melupakan hal itu. “Oh ya?” tanya Bu Hana tampak antusias. “Iya Bu, Tylisia ini anaknya baik Bu” ujar Mbak Arni seperti sedang mempromosikan diriku. “Kebetulan saya lagi cari pegawai baru untuk toko kue saya sekedar membantu membersihkan toko dan menyusun kue kue yang akan di jual, karena kasihan anak saya sendirian membantu saya, apalagi dia laki laki, kamu mau kerja di toko kue saya ya walaupun tidak besar dan gajinya pun tak cukup besar tapi kamu bisa bekerja setelah pulang sekolah, kamu masih sekolah kan Tylisia?” Bu Hana menjelaskan keinginannya untuk mencari pegawai baru di toko kuenya. Mendengar penjelasan Bu Hana membuatku mengangguk setuju “Iya Tylisia mau Bu, kebetulan Tylisia juga sekolah, makasih ya Bu udah kasih kesempatan untuk Tylisia, makasih banyak Bu” aku menyalami Bu Hana mengucapkan terima kasih karena aku sangat bersyukur bahwa ada orang yang mau menjadikan ku pegawainya. “Duh bu Hana ini, memang selalu baik kapanpun dan dimanapun ya.” Puji Mbak Arni. Ya memang benar Bu Hana adalah orang yang sangat baik, benar kata orang jika orang baik akan terlihat baiknya hanya dari wajahnya saja, bahkan saat belum kenal sekalipun. “Bu Arni ini, oh ya Tylisia bisa datang kapan Tylisia udah siap masuk kerja ya” ujar Bu Hana sekali lagi. “Baik Bu.” Ujarku bersemangat. “Oh ya Bu Hana, saya dengan Tylisia pamit dulu ya kasihan anak saya sudah menunggu saya” pamit Mbak Arni kepada Bu Hana. “Hah iya Bu, keenakan ngobrol jadi lupa waktu” “Tylisia permisi dulu Bu, mari” ujarku sopan kemudian mengikuti langkah kaki Mbak Arni yang sudah berjalan duluan dari padaku. Saat kami tepat berada di toko kue milik Bu Hana, aku menoleh ke arah toko kue itu. Semoga bahagiaku ada di sini. Entah kenapa tiba tiba hatiku berbisik mengucapkan kalimat itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN