Sampai di kelas semua mata tertuju kepadaku, aku mencoba menghiraukannya sepertinya mulai detik ini apa yang aku lakukan akan mendapatkan perhataian yang lebih bessar daripada sebelumnya. Aku duduk di bangkuku disana masih ada Keyla yang setia tersenyum kepadaku, senyuman tulus dari seorang teman mampu mengurangi rasa sakit yang terasa. “Tyl, gimana?” tanya Keyla penasaran tampak raut khawatir dari wajahnya. Nggak apa apa disuruh bikin surat perjanjian tidak akan mengulangi kejadian yang sama. “Wah syukurlah tapi kamu juga disuruh membuatnya?” Aku mengangguk “Seharusnya hanya gadis gila itu yang membuatnya kok kamu juga” protes Keyla tak terima “Kan aku juga ikut membalasnya kalau aku diam saja barulah aku tak ikut membuatnya “Tapi nggak apa apa biar itu cewek ngerasain rasanya

