Shiden melangkahkan kakiknya menuju tenda pecel ayam, ia ingin melihat lebih dekat Tylisia dan apa yang sedang ia lakukan. Shiden berjalan perlahan, ia tak berniat menghampiri Tylisia secara langsung tapi ia lebih memilih untuk berdiri di balik tenda yang paling dekat dengan Tylisia. Rasa penasarannya mengalahi egonya yang terus berusaha mematahkan keinginannya. Dari balik tenda ini ia bisa mendengar tiga orang itu bercengkrama dengan begitu asyik, terdengar suara tawa yang keluar dari bibir Tylisia, suara tawa yang sangat ia hafal bahkan ia tak pernah salah dalam menebak suara tawa Tylisia dimanapun mereka berada. Ia memasang telinganya lekat lekat, mendengar setiap perbincangan ketiganya sesekali ia tersenyum tapi bukan karena lelucon yang dilontarkan tapi karena ia mendengar suara T

