0.14

1677 Kata
Aku sedang duduk di balkon kamarku menikmati angin sore yang mampu menyejukkan hati, sore ini aku sendiri tanpa ada seorang pun menemani tidak ada teman, bahkan keluarga. Mereka fikir hidup ku sempurna, tapi ternyata tidak, memang benar hidup bukan selalu tentang kekayaan, uang dan tahta. Hidup membutuhkan kebahagiaan yang tidak bisa di beli oleh uang. Membutuhkan kehangatan yang tidak diperjual belikan dimanapun. Bahkan dengan uang kita tidak bisa membuat setiap orang untuk selalu ada di samping kita, di saat kita membutuhkan, padahal kita selalu ada di saat mereka butuh, hidup memang sebercanda itu. Saat aku terus bergelut dengan fikiranku tiba-tiba terdengar bunyi dering telfon, aku tersenyum melihat siapa yang menelfonku. Shiden “ Halo” “ Halo Yaya” “ Semangat banget suaranya, ada apa?” tanyaku heran karena suara Shiden terdengar berbeda dari beberapa hari lalu, sejak kakaknya sakit Shiden tak pernah sesemangat ini. Apakah ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. “ Kak Reiyyan udah sadar Yaaa” Sebuah kabar gembira yang ditunggu-tunggu oleh ku dan Shiden, tepat pada hari ke enam kak Reiyyan akhirnya sadar, tuhan memberikan keajaibannya. “ Syukurlah, aku ikut senang terus sekarang gimana?” “ Kata dokter udah stabil ya, tinggal proses pemulihannya saja.” “ Senang banget dengernya, nanti aku ke sana ya, kak Reiyyan mau dibawain apa?” “ Tunggu bentar ya, aku tanya dulu” Terdengar suara Shiden bertanya kepada kakaknya. “ Kak, Tylisia mau kesini mau dibawain apa?” “ Nggak usah repot-repot” “ Lah nggak repot juga dia, ya udah” Kemudian suara Shiden kembali memanggilku “ Yaya” Aku menjawabnya dengan gumaman “ Kata kak Reiyyan bawa aja martabak spesial, nasi goreng biasa, sama anggur.” Aku melongo mendegar jawaban Shiden, sudah jelas dari percakapan mereka kalau kak Reiyyan tidak ingin apa-apa takut merepotkan, tapi apa ini yang dikatakan Shiden membuatku tak percaya. “ Shiden itu mah kamu yang mau” aku bisa mendengar teriakan kak Reiyyan, yang juga mendengar perkataan Shiden kepadaku. Membuatku terkekeh. “ Dasar maruk” ucapku pada Shiden “ Hehehe, jangan lupa bawa ya nanti kak Reiyyan ngambek.” “ Shidennnnn” kembali teriakan kak Reiyyan terdengar “Nggak usah Tyl, ni anak emang nggak ada otak” Aku tertawa mendengar perdebatan mereka, aku terkadang ingin berada di posisi Shiden yang bisa merasakan kasih sayang dari seorang kakak. Shiden bisa mengeluh kepada kakaknya dan dengan senang hati kakaknya mau menerima keluh kesahnya. Tapi aku, menanggung semuanya sendiri, menahannya sendiri, sampai aku terlatih untuk selalu terlihat baik-baik saja. “ Iya nanti aku bawain” ucapku akhirnya. “ Oke See u Yaya, kamu kesini sama mama?” tanya Shiden sebelum mengakhiri sambungan telfon kami. “ Nggak aku sendiri aja, mama sama papa lagi di Eropa” “ Sejak kapan?” tanya Shiden “ Nanti aku ceritakan, ya udah see u soon” aku mengakhiri telfon kami. Setelah mengakhiri sambungan telfon antara aku dan Shiden, aku kembali menatap langit. Berdiri mendekat ke pagar balkon, bisa ku lihat jelas ada pak Dedi dibawah sedang mengobrol dengan mbak-mbak yang sedang membersihkan halaman. “ Pak Dedi” panggilku dari atas Pak Dedi mencari asal suara, dan saat dirinya melihatku ia langsung tersenyum “ Iya Non” “ Nanti jam 17.00 kita ke rumah sakit ya Pak, jenguk kak Reiyyan” “ Oh, baik Non siap” sambil membentuk tanda hormat Dan Pak Dedi melanjutkan obrolannya yang sempat tertunda. Aku masuk ke dalam kamar tidak lupa menutup pintu yang menghubungkan kamarku dengan balkon. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 16.30, aku hanya mempunyai waktu setengah jam untuk bersiap-siap, tapi aku terlalu malas untuk bersiap-siap dan hal hasil aku kembali duduk di meja belajarku, tempat favoritku jika aku sedang di kamar. Aku mengambil buku gambar dan tentu saja kembali melihat gambar yang aku gambar dua minggu yang lalu. Bahkan kegiatanku ini sudah menjadi rutinitas bagiku, hampir setiap hari aku melihat gambar itu, memandanginya, dengan melihat gambarnya saja mampu membuat hatiku berdesir hebat. Adakah jalan takdirku menuju dirimu? *** “ Pak nanti kita berhenti di tempat martabak dulu ya.” Aku sudah berada di mobil untuk menuju ke rumah sakit, tak lupa terlebih dahulu aku membeli martabak, nasi goreng, dan anggur yang diperintahkan Shiden. Aku melihat kembali riasanku, riasan yang aku maksud bukan riasan yang tebal dan menor tapi hanya memakai bedak biasa dan tidak lupa memakai liptint kesukaanku, dan baju yang aku gunakan kali ini bewarna biru muda, warna kesukaanku ditambah dengan hiasan jepit rambut yang bewarna senada dengan warna bajuku. *** “ Pak, nanti berhenti di pertigaan ya tempat nasi goreng yang biasa.” Setelah membeli martabak aku berpesan kepada pak Dedi untuk berhenti di tempat biasanya aku beli nasi goreng. “ Loh, Non tadi kan udah beli martabak dua kotak lagi.” “ Bapak seperti tidak tahu Shiden saja.” “ Aduh mas Shiden ya, kalau itu sih saya paham.” “ Iya kan pak, hahaha” aku tertawa mendengar jawaban pak Dedi, bahkan pak Dedi pun tahu bagaimana seorang Shiden. “ Dari Nasi goreng kita kemana lagi Non?” “ Toko buah pak” “ Baik Non.” *** Setelah hampir satu jam aku berkeliling untuk membeli pesanan Shiden, akhirnya kami sampai di rumah sakit pukul 18.00. “ Biar saja bantuin bawa ya Non” tawar pak Dedi kepadaku “ Nggak usah pak, ini kan punya Shiden biar dia sendiri yang bawa” Lalu aku segera mengeluarkan ponselku, dan mencari nama Shiden di panggilan terbaru. Tutt..Tuttt Nada sambung berbunyi, menunggu untuk diangkat. “ Halo tuan putri” sapa Shiden di seberang sana. Cih, aku berdecih geli. Giliran ada maunya baru sok lembut “ Dasar manusia, jemput aku” “ Tylisia, kamu kan punya kaki bisa jalan sendiri kan” “ Bisa sih, tapi martabak, nasi goreng, sama anggurnya nggak punya kaki, gimana dong?” “ Heiii, kamu jadi beli, kamu tunggu disitu ya ini aku lagi otw demi kamu.” “ Demi aku, bulshit” Aku bisa mendengar suara langkah kaki seperti sedang berlari,  dasar Shiden giliran makanan aja gercepnya minta ampun. Tiba-tiba ide jail muncul di kepalaku “Kalau dalam hitungan 5 belum datang, makanannya ku suruh pak Dedi bawa pulang.” “ 1 ..” aku mulai menghitung “ Tyltyl jangan gitu dong” “ 2 …” “ Tyl kok cepat banget baru aja satu tadi” “ 3 … protes aja terus.” “ Nggak Tyl, ampun ni bentar lagi sampai.” “ 4 ” “ Lah aku nggak protes lo.” “ 4 setengah” “Aduh lama banget sih turun ni lift.” Aku tertawa puas mendengar ocehan Shiden, Jika Shiden menderita aku pasti akan tersenyum penuh kemenangan. Penderitaan Shiden adalah kebahagianku. “ Lama banget ih, liii ….” “ Bentar dikit lagi sampai Tyl” Aku bisa melihat dari sini ada seseorang yang sedang berlari ke arah ku, tentu saja orang itu adalah Shiden. “ Aku bisa lihat kamu, tunggu” “ Liiimaaa” Saat aku selesai menyebut angka lima, shiden pun sudah berdiri di hadapanku, nafasnya tersengal-sengal akibat berlari. “ Capek nggak hmm Hahaha” aku tak bisa menahan tawaku, melihat Shiden yang ternistakan karena kelakuan jailku. “ Nggak apa-apa olahraga dikit biar lemaknya kebakar, kan nanti di isi lagi.” Ujarku kepadanya sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Shiden malah mengerucutkan bibirnya “ Jika tahu akan seperti ini, mendingan nggak usah tadi” “Oh jadi, nggak mau nih Pak Ded..” perkataan ku terhenti setelah Shiden dengan cepat mendorong tubuhku pelan ke arah samping agar tak menghalangi Shiden untuk mengambil makanan yang ada di dalam mobil. Shiden berdecak senang setelah melihat berbagai makanan yang aku bawakan untuknya “ Wiss, ini baru Tylisia” “ Hayuk masuk Tyl, dingin di luar” Shiden berjalan mendahuluiku, berjalan seperti seorang anak yang dibelikan makanan oleh ibunya. Aku melangkah masuk, tapi kemudian berhenti melihat Shiden juga berhenti. Aku bingung ada apa. Tapi kulihat Shiden malah mendekati mobilku lebih tepatnya pak Dedi. “ Pak pulang aja, nanti Tylisia saya yang ngantar” Shiden mengedipkan matanya kepadaku “ Gimana Non?” tanya pak Dedi memastikan “ Iya pak, nggak apa apa biar Shiden aja yang antar nanti” kasian juga jika pak Dedi harus menunggu lama, lebih baik ia pulang. “ Antar majikan saya sampai rumah ya Mas” pak Dedi mengingatkan Shiden “ Sampai ke KUA saya jabani pak” canda Shiden “ Emang majikan saya mau sama mas?” pak Dedi membalas ledekan Shiden Aku tak mau kalah ikut menambahkan “ Bener tu pak, kek saya mau aja sama dia” “ Lah majikan sama sopirnya sama aja, sama sama buta.” Ucap Shiden pada akhirnya dan kembali berjalan dengan wajah yang cemberut. “ Non, saya pulang dulu ya.” Pamit pak Dedi “ Iya Pak, hati-hati ya.” Aku segera menyusul Shiden yang sudah berjalan cukup jauh. “ Shiden” panggilku. *** “ Shiden kamu ini bikin Tylisia repot saja, maaf ya Nak” ujar Mama Shiden saat melihat aku membawa banyak makanan. “ Iya maaf ya Tyl, Shiden emang sedikit kurang otaknya” Kali ini kak Reiyyan yang meminta maaf “ Aduh Tante Kakak, aku nggak apa-apa kebetulan lewat aja, jadi sekalian beli aja.” Aku berkata jujur sebenarnya bukanlah masalah saat Shiden menyuruhku membeli makanan. “ Tuh kan Ma, Tylisia emang orangnya baik, siapa tau jadi calon mantu.” Kali ini Shiden yang bersuara tapi perkataannya di akhir membuat ku sangat malu. Langsung aku mencubit pinggangnya yang kebetulan sedang berdiri di samping ku. “ Aw ampun…” Shiden menjerit histeris, sebenarnya cubitan ku tidak lah kuat tapi memang dasarnya Shiden orang yang lebay. “ Mangkanya kalau ngomong otaknya dipakai, mana mau Tylisia sama orang seperti kamu Dhen” bukannya membela Shiden kak Reiyyan malah menjatuhkan harga diri adiknya di depan Tylisia. Aku menggeleng heran melihat kelakuan duo adik kakak ini, ada saja yang mereka pertengkarkan mulai dari hal kecil sampai hal besar. “ Yee,,, lu aja nggak tau sehebat apa pesona gue.” Shiden tak mau kalah berdebat dengan kakaknya, dan pada akhirnya Mama nya Shiden yang melerai mereka berdua. “Sudah sudah ayo dimakan nanti masuk angin makanannya.” “ Yee mama, makanan kok masuk angin”   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN