Dua hari pasca Kim mengetahui saat ini ia sedang mengandung, perubahan drastis terjadi pada dirinya. Bukan mengenai rasa mual seperti yang biasa di dapatkan oleh wanita hamil, melainkan lebih kepada suasana hati. Ya, Kim merasa hatinya sangat sakit, terlebih lagi saat Dave benar-benar memesan tiket penerbangan menuju ke New York. Tak ada satu kata pun yang ia keluarkan untuk sang suami, hanya saat makan bersama tadi, Rebecca sempat bereaksi untuk memastikan. “Dave? Apa kau tidak bisa bekerja di perkebunan saja?” “Aku tidak tahu, Ibu. Em, tapi mungkin akan kucoba nanti setelah di New York memang tak ada pekerjaan yang cocok untukku.” Namun, Dave tetap pada pendiriannya, dan entah mengapa Kim menyerah begitu saja. Tidak ada rayuan untuk mempertahankan sang suami agar tetap berada di deka

