Episode 1
SEMUA mata yang menatap terpesona. Sosok itu berdiri seperti magnet yang kuat bagi kaum hawa. Memukau dengan segala pesonanya, tubuhnya tinggi menjulang, wajahnya sungguh tampan dengan segala keangkuhannya, kulit putih, rahang tegas dan kokoh, hidung seperti prosotan anak Tk dan bibir tipis yg begitu menggoda.
" Nama saya Angga Yudha Pratama , panggil saja angga " ucapnya tegas tapi dingin dengan wajah datar tanpa secuil pun senyum diwajahnya.
" Gila ! Ganteng banget " ujar meta terpesona.
" Alaaahh masih gantengan juga gue kemana- mana " ujar dino sambil nyengir membuat meta kesal.
" Iya gantengan elo kalau dilihat dari monas din " Telak banget serangan dari meta membuat dino KO diledek seisi kelas.
" Sudah! Sudah ! " potong bu rini, wali kelas 3 IPA-3.
" Silakan angga pilih tempat duduk kamu ".
Angga mengangguk hormat, lalu memandang sekeliling. Kaum hawa langsung sibuk caper. Berusaha menarik perhatian angga agar duduk di dekat mereka.
Tapi pilihan angga jatuh pada seraut wajah yang cuek saja akan kehadirannya yang sejak awal menarik perhatiannya. Yang sejak tadi menatapnya tanpa ekspresi dan lebih sering memandang sekelilingnya menikmati kehebohan disekitarnya.
Angga menatap karin, sang pemilik wajah yang sedang bercanda dengan dani, cowok yang duduk di depannya. Dihampirinya meja cewek itu.
" Hai " sapa angga dengan suara yang lebih tepat dibilang bentakan dari pada sapaan. Karin menoleh kaget dan terperangah.
" Boleh duduk disini kan? "
" Hmmmm... " Dengan wajah bingung, karin menoleh ke dani. Tadi cowok itu bilang mau pindah duduk di sebelah karin.
" Tapi..." belum sempat karin melanjutkan bicaranya Angga sudah duduk dengan manis disebelahnya.
" Dani mau duduk...disini..." sambung karin pelan.
" Silakan... gue nggak keberatan duduk bertiga ".
Karin tercengang. Niii cowok ganteng sih...tapi kok udik. Mau duduk bertiga? Emang dia kira mau naik angkot kali ya???!
Jam sudah menunjukkan angka dua belas dan karin masih bengong didepan cermin sejak beberapa jam yang lalu. Dia masih bingung dan nggak habis pikir aja, bagaimana bisa Angga anak baru yang kece banget itu lebih memilih duduk disebelahnya daripada dideket cewek-cewek cakep yang bertebaran disekitarnya. Gila nggak tuh? Amazing kan? Makanya karin jadi takut untuk memejamkan matanya. Takut ini cuma mimpi dan ketika dia bangun si cowok cakep hilang.
Saat masih pagi buta tiba- tiba karin mencelat terbangun, antara sadar dan nggak ni. Secara semalam dia tidur kemaleman gara- gara mikirin si Angga sampek ketiduran. Dan ketika si smile, benda ungu itu melengking buru-buru karin menekan tombol off nya.
" Telat lo! Gue udah bangun duluan tau...! " ujarnya terkekeh.
Karin buru-buru lari ke kamar mandi. Cepat-cepat mandi, cepat-cepat ganti baju, cepat-cepqt dandan. Pokoknya semua serba cepat-cepat deh.
Rena, adik karin yang tidur seranjang dengan karin akhirnya terbangun dan panik.
" Hah... jam berapa nih sekarang??!"
" Setengah enam ren ".
Grubak grubuknya rena beres-beres buku langsung terhenti.
" Apa?? Baru setengah enam? Kok elu udah rapi gitu? ". Rena menatap heran kakaknya.
" Emang nggak boleh?".
" Bukan begitu.... Aaahhhh... gue tau, lo pasti mau bikin contekan buat ulangan jam pertama kan?".
" Mau tau aja lo !". Karin menjitak kepala adiknya, lalu berlari keruang makan tanpa memperdulikan teriakan adiknya. Segera sarapan kilat dan buru- buru berangkat ke sekolah.
Betapa kagetnya karin begitu sampai disekolah, karena dia pikir dia bakalan jadi orang pertama yang sampai disekolah. Tapi ternyata boro-boro... sekolahnya karin emang sepi tapi begitu sampai dikelas... udah lengkap bro kaum hawanya!.
Karin sontak bengong. Gila nihhh!. Cowok- cowoknya sih sebiji juga belum ada. Tapi cewek-ceweknya, asli udah komplet deh. Dan yang paling bikin bete, bangkunya ternyata udah keburu ditempatin orang lain . Meta telah bertengger manis disana, terpaksa karin ngungsi sementara duduk dimana aja karena bangku disekitar mejanya kemarin sudah berpenghuni cewek- cewek cakep.
Karin makin bengong begitu sadar pagi in telah terjadi banyak perubahan. Kalau dia responnya cuma bahagia dan berbunga-bunga sampai terbawa mimpi, reaksi teman-temannya lebih dahsyat lagi. Ada yang tiba-tiba rambutnya mendadak lurus, eh yang kemarin lurus tiba-tiba jadi ikal. Fani, yang rambutnya ikal pagi ini sih tetap ikal. Cuma basah, dan sampi bel pulang tetap basah aja itu rambut.ihhh kan gue jadi heran.
Mila jadi serba merah. Dari sepatu,tas,kaus kaki, jam ,anting sampai bando juga ikutan merah. Nina yang tingginya cuma beda lima senti dari karin, pagi ini tiba-tiba jadi tinggi banget, dan ternyata sepatunya ada haknya dong!. Tapi yang paling membuat karin terkejut, meta dan sita pakai eyeshadow. Meskipun tipis tetap aja keliatan, supaya nggak keliatan guru saat jam pelajaran mereka menutupinya dengan poni.
Dan pagi ini kelasnya jadi begitu semerbak dengan segala wangi-wangian. Cowok-cowok yang kemudian datang masuk kelas dengan ekspresi bingung.
" Duileeehhh... pada wangi-wangi amat sih?". Ujar deni sambil menatap sekeliling. Sementara dino menatap wajah meta sampek melotot.
" Mata lo kenapa? Kok ada kelap kelipnya kayak lampu disko?".
" Nggak usah rese deh no!". Jawab meta ketus.
So pagi ini cuma karin seorang yang tanpa perubahan apa-apa, kecuali hatinya yang lagi berbunga-bunga. Karin tetap mungil tanpa hiasan apapun. Tetap cuma pakai bedak di muka dan cuma wangi cologne yang biasa dipakai bayi.
Besoknya karin baru datang setelah nyaris bel. Percuma saja datang pagi-pagi karena siapapun yang sudah duduk dibangkunya tidak bakal mau berdiri dan enyah dari situ bila bel pulang belum berbunyi. Selain itu buat apa dia harus seperti mereka? Toh yang akan duduk disebelah angga tetap dia. Dalam jarak yang paling dekat, selama tujuh jam, dan selama waktu itu tidak akan ada yang berani merebut bangkunya. So biar aja cewek-cewek itu berebut sisa.
Selain itu juga, setelah dua hari duduk bersebelahan dengan angga, karin mulai mencium ada sesuatu yang aneh pada cowok itu. Dia cuek banget sama yang namanya kaum hawa, terlalu cuek malah. Itu langsung terasa dihari pertama angga duduk disebelahnya. Dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang cowok itu cuma ngajak ngomong satu kali. Itu juga cuma nanya.
" Nama lo?"
Jawaban karin juga jadi agak -agak gimana gitu. Soalnya angga nanyanya mirip polisi lagi introgasi penjahat, dengan tatapan tajam dan tanpa senyum.
" karin... karin atmaja."
" udah ? Cuma itu ?". Sepasang alis angga bertaut.
"Iya... kenapa? , kependekan? Kalo mau nambahin nggak papa kok. Asal jangan minta ditambahin di akte!" Seru karin jengkel.
" Nggak nama lo singkat tapi bagus " ucap angga sambil tersenyum tipis.
Cuma itu. Hari kedua dan hari ketiga malah tanpa suara. Hari ke empat...cuma satu kalimat, itupun karena si angga mau minjem pensil. Dan si angga walapun ganteng-ganteng gitu ternyata kalau minjem barang orang suka lupa ngembaliin. Si karin nya juga ngeri kalau mau minta dibalikin.
Tapi hebatnya lagi cueknya angga itu malah melambungkan namanya. Yaa.. dimana-mana yang misterius itu lebih mengoda untuk dicari tau dan bikin orang penasaran. Karin sendiri bukannya tidak mau mengakrabkan diri. Tapi dari pengamatannya angga itu kalau diajak ngobrol atau ditanya jawabannya cuma " nggak", " iya ", " nggak tau". Malah serinh banget dia berlagak b***k. Atau kalau dia udah kelewat jengkel si penanya cuma ditatap tajam-tajam kayak pisau tu tanpa ngomong sedikitpun.
Mengerikan banget kan?. Makanya karin males mau coba-coba ngajak ngobrol. Takut kena libas tatapan tajamnya. Baru aja jadi penonton dia suka nelangsa, apalagi kalau ikut ambil bagian. Karin diam-diam melirik cowok di sebelahnya. Mencibir dalam hati, " dia kira dia siapa? Sok jaim banget gitu? Opa-opa korea??!.