Hari mulai beranjak malam dan aku masih duduk di balkon sambil memperhatikan ponselku yang sedari tadi tak mendapatkan signal. Aku masih berharap akan ada keajaiban dan ponselku mendapatkan signal. Tapi sayang, seberapa tinggi harapanku, kenyataan itu malah semakin menjauh. Ini memang benar-benar daerah terpencil dan sepertinya belum ada perusahaan telekomunikasi yang membangun tower di sini.
"Kenapa?" tanya Via mengagetkanku dari belakang.
"Lagi coba cari signal mau telpon Bunda."
"Di sini sepertinya gak ada signal Ra, padahal kita dapat kamar di lantai atas."
"Di sini benar-benar terpencil."
Kembali aku menatap layar ponselku dan masih berharap akan ada signal, tapi ternyata signal tetap tidak ada. Akhirnya aku hanya bisa menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan mencoba menghilangkan rasa kesalku karena tak mendapatkan signal.
Ini adalah pertama kalinya aku jauh dari rumah dan tak dapat menghubungi rumah sama sekali. Aku tak pernah tidur tanpa mendengar suara Bunda. Ya aku memang manja, tapi manjaku bukan berarti aku tak dapat hidup mandiri.
"Vi... Ra...," terdengar suara Fandy memanggil kami sambil masuk ke dalam kamar.
"Eits... kebiasaan kamu Fan asal masuk ke kamar perempuan," kata Via.
"Lah kalian gak lagi ganti baju ini," kata Fandy membela diri.
"Ada apa, Fan?" tanyaku.
"Makan malam sudah siap, makan gak?" kata Fandy.
"Makanlah, masa gak," kata Via semangat.
Aku, Via dan Fandy pun berjalan menuju lantai dasar sambil terus ngobrol dan bercanda. Saat akan menuruni tangga, dari ekor mataku aku melihat sebuah bayangan yang lewat di belakang Fandy. Aku terdiam dan membiarkan Via dan Fandy turun terlebih dahulu. Aku ingin memastikan apa yang aku lihat barusan.
Semenit dua menit aku menunggu bayang itu lewat, tapi sayang aku tak melihat bayangan itu lagi. Sepertinya tadi aku salah melihat bayangan gorden atau bayangan pohon di luar yang tertiup angin.
"Ra...," terdengar suara Via memanggilku dari dasar tangga. Aku terperanjat dan melihatnya tengah menatapku dengan wajah kesalnya karena aku tak ikut turun.
Aku segera melangkahkan kakiku menuruni setiap anak tangga sambil sesekali menatap ke belakangku. Aku masih sangat penasaran dengan bayangan yang aku lihat tadi. Saat sampai di dasar tangga, kembali aku menatap ke atas dan mencoba memastikan bahwa di atas tidak ada apa-apa. Tapi kali ini aku melihat sesuatu tengah berdiri di ujung tangga. Mataku terpaku pada sosok itu, aku mencoba untuk menelisik rupa sebenarnya dari sosok itu.
"Ra...," kata Via mengagetkanku.
"Eh... apa Vi?" tanyaku tergagap karena kaget dengan panggilan Via yang tiba-tiba.
"Ada apa sih dari tadi kaya ngelamun mulu?" tanya Via.
"Paling dia gak terbiasa hidup jauh dari Ayah Bundanya, maklum tuan putri," kata seseorang sinis.
Aku tak perlu memastikan siapa pemilik suara itu, aku tahu betul kalau satu-satunya orang dalam kelompokku yang akan bicara seperti itu hanya Tania. Aku mendelik padanya tajam. Aku merasa aneh pada dia yang begitu membenciku hanya karena dia tak dapat jadi rekanita Kak Arfan saat di AKMIL dulu. Aku tak membalas ucapan Tania yang menurutku sangat tak penting. Aku segera berlalu bersama Via dan Fandy ke ruang makan.
Makan malam kali ini berubah menjadi sebagai ajang perkenalan kami kepada semuanya. Malam ini memang malam pertama kami berkumpul bersama untuk menjalani kehidupan selama sebulan ke depan bersama-sama. Aku memperhatikan dan mencoba mengingat nama-nama mereka agar tak salah sebut. Aku di sini hanya mengenal tiga orang Via, Fandy, dan tentu saja mak lampir Tania. Selama makan malam kami banyak bicara mengenai kegiatan kami selama sebulan ini dan tentu saja kami juga sambil bercanda.
"Saya permisi duluan boleh?" kataku setelah aku rasa kegiatan untuk besok sudah di bicarakan semua.
"Ya Aira silahkan, selamat beristirahat," kata Alvian, ketua kelompokku.
"Terima kasih Al, maaf tidak bisa sampai malam karena saya mengantuk," kataku sambil berdiri dari tempat dudukku.
"Iya tidak apa Aira, kami memahami karena kita semua pasti butuh istifahat setelah perjalanann yang panjang," kata Alvian.
Aku beranjak dari ruang makan dan mulai melangkahkan kakiku menuju kamarku. Aku masih penasaran dengan apa yang aku lihat saat aku turun tadi. Aku segera menaiki tangga rumah dan mataku tak pernah terlepas dari ujung tangga. Aku masih berharap jika aku akan menemukan sosok tadi lagi d atas tangga.
Saat sampai di ujung tangga, aku berhenti melangkah dan memperhatikan sekitarku. Aku masih berharap jika aku akan melihat bayangan itu lagi. Semenit dua menit aku masih menunggu bayangan itu muncul dan memperlihatkan dirinya, tapi sayang dia tak muncul sama sekali
Tiba-tiba aku merdengar langkah kaki di belakangku yang tengah menaiki tangga dengan suara langkah yang pelan. Sesaat aku menajamkan pendengaranku dan berharap kalau itu adalah salah satu temanku. Tapi tidak, itu pasti bukan suara langkah temanku karena di ruang makan masih ramai dengan canda dan tawa mereka.
Sssrreeettt… Kurasakan tangan dingin seseorang memegang bahuku. Tangannya benar-benar dingin, sedingin es.
"Aaaagggghhh...," teriakku karena takut dan juga kaget.
"Ada apa, Nak?" tanya seseorang dari belakangku.
Seketika aku berbalik dan menatap siapa yang memegang pundakku. Aku melihat Pak Parjo sedang memegang bahuku dengan baju basah kuyup. Aku menaikkan alis sebelah dan mencoba mengingat apa di luar hujan atau tidak. Dan aku ingat bahwa di luar rumah tidak lah hujan, lalu bagaimana dia bisa basah kuyup seperti ini?
"Eh... Bapak saya kira siapa," kataku sambil senyum kuda mencoba menenangkan perasaan dan pikiranku yang sedikit aneh.
"Ya Nak saya, saya kira tadi siapa karena Nak hanya berdiri saja di ujung tangga,"
"Itu Pak, saya sedang mencoba mengingat sesuatu. Bapak kenapa basah, apa di luar hujan?"
"Itu tadi selang air di taman bocor, saya baru membetulkannya dan airnya muncrat kena tubuh saya."
"Saya permisi dulu Pak,"
Aku berlalu dari hadapan Pak Parjo dan berjalan menuju kamarku. Pikirku masih saja melayang akan keadaan Pak Parjo. Entah kenapa aku tak dapat mempercayai dia yang terkena semburan air di taman.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur berseprai putih polos. Rasanya aku seperti tidur di kamar hotel saja menggunakan seprai warna putih dan selimut warna putih juga. Aku menatap langit-langit yang di cat dengan warna putih pula. Sepertinya warna rumah ini sungguh hanya ada dua warna, putih dan coklat. Rumah dan peralatan dari kain semuanya berwarna putih, sedang untuk furniture dari kayu berwarna jati.
Perlahan aku mencoba memejamkan mataku dan mencoba untuk beristirahat menghilangkan semua lelahku. Baru saja aku memejamkan mataku, aku merasa sebuah tangan memegang kakiku dengan sangat erat dan dia mulai menyeretku dengan kasar.
"Aaaaggghhh...," teriakku.