Bab 6

1053 Kata
"Aaaagggghhh...," aku terus berteriak dan meronta mencoba melepaskan diri dari tangan yang menarikku secara kasar dari tempat tidur. Aku terjatuh dengan suara berdebum yang begitu keras. Rasanya pinggangku hancur dan sakit semua. Aku terus berteriak dan meronta tapi entah kenapa tak ada seorang-pun temanku yang datang menolong. Entah kemana Via dan Fandy yang selalu ada untukku. Tangan itu semakin kuat menarik kakiku hingga seperti menyeretku. Aku terus meronta dan berusaha bangun dari posisiku yang terdaring di lantai. Tapi tangan itu begitu kuat menekan pergelangan kakiku hingga aku tak dapat bangun. Aku berusaha mencari tahu siapa yang menarikku, mencari tahu sosok seperti apa dia. Tapi sayang, aku tak dapat melihatnya. Aku hanya dapat merasakan bahwa kakiku sedang di tariknya dan di tekannya dengan kuat. "Aaaaggghhh...Via... Fandy... help me," teriakku dengan suara yang semakin parau karena sedari tadi mencoba berteriak dan meronta sekuat mungkin. Lagi, tak ada yang menolongku walau aku sudah berteriak sekeras yang aku mampu. Mereka seolah tak dapat mendengar semua teriakanku, seolah aku dan mereka terpisah dimensi. Tangan itu terus menarikku seperti menyusuri sebuah ruangan yang sepi dan gelap. Pengap dan bau busuk mulai menyeruak memenuhi setiap rongga hidungku. Aku semakin panik dengan apa yang aku alami. Mukaku mungkin telah berubah menjadi pucat pasi dengan keringat dingin yang terus bercucuran dari pori-pori kulitku yang membuka. Rembesan air hangat dan cenderung panas mulai turun membasahi kedua belah pipiku. Aku menangisi nasibku yang tak baik. KKN yang kuharapkan menyenangkan sepertinya akan menjadi petaka bagiku. Dengan sisa tenaga aku terus meronta dan berusaha menendang tangan yang sedari tadi menarikku dengan kasar. Tapi sayang, tangan itu bergeming sedikit-pun dari pergelangan kakiku. Semakin aku meronta, maka semakin kuat dia memegang pergelangan kakiku. Tiba-tiba kepalaku terantuk suatu benda yang begitu keras yang aku tak tahu apa itu. Kondisi ruangan ini terlalu gelap hingga aku tidaak dapat melihat apapun. Aku sedikit mengerang dan mengaduh merasakan sakit pada kepalaku. Ku usap kepalaku yang terantuk benda keras. Hangat, itu yang pertama kali aku rasakan saat aku memegangnya. "Tuhan...ada apa dengan kepalaku," kataku dalam hati yang kini sudah benar-benar pasarah kepada Sang pemilik alam. Berulang kali aku mencoba mengelus kepalaku yang terantuk, tapi rasanya tanganku semakin panas dan semakin lengket. Ada cairan yang membasahi rambut hitam lurusku. "Apa ini? Darah?" tanyaku dalam hati dengan rasa panik yang semakin tinggi. Aku mencoba mencium tangan yang tadi mengelus kepalaku. Amis... itu yang bau yang pertama aku kenali saat mencium tanganku. "Darah... kepalaku berdarah," kataku tak percaya jika kepalaku begitu mudah terluka. Kembali aku merasa tangan itu menarikku semakin keras dan kuat. Tubuhku terus mebyusuri lorong gelap yang aku tak tahu dimana akhir dari lorong ini. Buk… kali ini giliran pinggangku yang terbentur benda keras. Kembali aku mengaduh dan meringis atas sakit yang aku dapatkan. Sebelum tangan itu semakin keras menarikku, aku coba menggapai benda yang tadi terbentur dengan pinggangku. Setidaknya ini dapat menahanku dari tarikan tangan itu. "Via... Fandy...," kembali aku berteriak memanggil Via dan Fandy, berharap mereka mendengarku dan akan menolongku. "Lepas!" terdengar sebuah suara yang begitu berat saat tangan itu tak dapat menarik tubuhku lagi. Aku tak bergeming dan terus menahan tanganku untuk berpegangan pada benda keras itu. Lagi, aku merasa tangan itu berusaha menarik tubuhku dan aku semakin erat berpegangan pada benda keras yang membentur pinggangku. Aku tidak menghiraukan cairan hangat yang mulai menetes ke pelipis dan sebagian pipiku. Aku tahu betul bahwa itu adalah darah dari kepalaku yang tadi terantuk benda keras. Aku terus mempertahankan peganganku saat aku merasakan sebuah kaki menginjak lenganku dengan sangat keras dan kuat. "Aaaggghhh...," teriakku kesakitan. Tapi hal itu tak membuatku melepaskan peganganku. Aku masih ingin hidup, ingin bertemu kembali dengan Kak Arfan dan Kak Arfin, dan tentu saja dengan Ayah Bundaku juga. Orang yang menginjakku tak patah arang, dia terus menginjakku dan menggerus tanganku dengan sepatunya yang terasa begitu berat dan menyakitkan. "Aaaggghhh...," aku kembali berteriak sambil menahan sakit yang teramat. "Sudah kubilang lepaskan tanganmu!" "Tidak akan!" "Baiklah, rasakan ini." Dia mengangkat kakinya dari tanganku. Aku mengira siksaan atas tanganku telah berakhir, tapi ternyata aku salah. "Aaaaggghhh...," teriakku saat merasakan sakit pada tanganku karena kaki itu menginjakku dengan sangat keras dan kembali menggerus tanganku hingga aku merasa bahwa tanganku ini telah remuk dan mengalami patah tulang yang parah. Akhirnya tanganku terlepas dari benda keras tersebut. Tangan itu kembali menarik tubuhku menyusuri lorong yang semakin sempit, semakin pengap, dan tentu saja semakin bau. Tidak, bukan hanya bau busuk yang aku cium, aku juga mencium bau amis darah dan bau lumut yang lembap. "Oe... oe... oe...," samar aku mendengar tangisan bayi. Tidak, bukan hanya satu tangisan bayi, tapi begitu banyak tangisan bayi yang aku dengar. Otakku mulai berpikir dan mencari tahu dari mana asal suara bayi yang begitu memekakan telinga. Tapi aku sungguh tak dapat memikirkan atau menemukan dari mana suara itu berasal.  Tempat ini terlalu sempit untuk bayi sebanyak itu. Dan tentu saja tempat ini terlalu lembab dan tidak sehat bagi bayi-bayi itu. Bruk… Sekarang giliran bahuku yang terbentur benda keras. Sepertinya tubuhku jika selamatpun pasti sudah hancur berkeping-keping. *** "Ra... bangun Ra," terdengar suara Via yang begitu khawatir memanggil namaku. Perlahan aku membuka mataku yang terasa begitu berat dan panas. Sepertinya mataku telah terlalu banyak mengeluarkan cairan bening hingga terasa berat dan panas. Putih, itu yang pertama kali aku lihat saat aku membuka mataku. Aku langsung menarik napas dalam dan meyakinkan diriku bahwa aku berada di sebuah rumah sakit dengan tubuh hancur dan luka di mana-mana setelah sebuah tangan menarikku secara paksa. "Aku di mana?" tanyaku saat aku melihat Via dan Fandy tengah duduk di sampingku. "Masa kamu lupa sih Ra, kita ya ada di posko KKN. Tadi kamu teriak-teriak dan bikin semua orang khawatir, tahunya kamu sedang tidur" kata Via menjelaskan. Tidur? Ya, aku tadi baru saja merebahkan badanku saat tangan itu menarikku dengan paksa hingga aku menyusuri lorong sempit dan tubuhku terbentur sana-sini. Dan aku meyakini jika itu bukanlah sebuah mimpi, semuanya terasa begitu nyata. "Ko seperti bingung, kenapa sih Ra?" tanya Fandy kgawatir. "Ah... tidak... tidak apa-apa Fan, kamu kembalilah ke kamarmu," kataku sambil berusaha bangun dan sedikit mengelus kepalaku yang begitu pening. "Yakin kamu baik-baik saja?" tanya Fandy lagi dan aku hanya mengguk pelan. "Tidurlah Vi, pasti sudah malam," kataku pada Via setelah Fandy pergi. "Jika aku tidur, berarti tadi mimpi. Tapi rasanya itu begitu nyata, bukan sekedar mimpi. Lalu apa yang aku alami tadi?" tanyaku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN