Aku menatap dalam manik coklat milik Kak Arfin. Manik itu terlihat begitu tenang dan damai walau sekelebat aku melihat sebuah bayangan hitam di dalamnya. Sesungguhnya aku bertanya mengenai hal itu, tapi entah kenapa lidahku begitu kelu untuk mengeluarkan untaian kata itu. Aku terlalu takut untuk bertanya tentang semuanya. "Berhenti membaca apa yang ada di dalam pikiran dan hati Kakak!" katanya yang sepertinya menyadari apa yang sedang aku lakukan. "Lagian suruh siapa Kakak hanya diam seribu bahasa seperti itu?" kataku tak mau kalah dengan kakakku. "Ini, baca dan resapi semuanya dengan baik!" perintah Kak Arfin sambil memberikan tab-nya yang di dalamnya telah terbuka sebuah file. Perlahan aku mulai membaca setiap kata yang ada di dalam file itu. Aku tahu betul jika file itu bukanlah fil

