Aku menatap nanar pada barang-barang yang terkena air teh. Barang-barang itu melepuh bagai terkena air keras. Padandanganku perlahan beralih pada sosok Via yang masih berdiri beberapa meter dariku. Aku tak percaya jika Via mampu melakukan hal sekeji itu. "Vi, kamu...," kataku dengan suara sedikit bergetar dan masih tak ingin mempercayai jika Via akan melakukan hal di luar batas yang bahkan dalam mimpi pun tak pernah aku impikan. "Kamu terlalu licik, Ra," kata Via sambil menatapku dan menyunggingkan sebuah senyuman. Dengan gerakan yang sangat perlahan dia mengulurkan tangannya ke atas meja hendak mengambil secangkir teh miliknya. Dengan sigap aku segera melompat dan menangkap gerakan tangan Via yang bisa jadi akan membahayakanku atau membahayakan dirinya sendiri. Via masih terus berusa

