"Mbak Aira...," samar aku mendengar suara Om Rifky yang terdengar begitu khawatir melihat kondisiku. "Aagghh...," kataku sambil membuka mataku dengan perlahan dan menemukan diriku tengah terbaring lemah tak jauh dari tangga. Kembali aku mengingat semua kejadian yang telah aku alami. Aku sedikit tak percaya jika aku masih selamat dari penyerangan yang dilakukan entah oleh siapa. Dengan sedikit mengerang dan di bantu Om Rifky, aku berusaha untuk duduk dan bersandar pada dinding. Aku mencoba untuk meregangkan otot-otot tubuhku agar mampu menahan semua rasa sakit yang aku alami. "Bagaimana Fani?" tanyaku pada Om Rifky. Memang sedikit aneh, aku masih memikirkan kondisi Fani bahkan saat aku tengah mengalami luka. "Dia bukan Fani, dia hanya pengalihan fokus Mbak Aira saja," jawab Om Rifky yan

