Aku dan Kak Arfin memandang Ayah dengan kaget, terlebih Kak Arfin. Aku tak paham bagaimana Ayah bisa tiba-tiba ada di sini sedang kata Kak Arfin Ayah sedang dinas. Ayah melangkahkan kakinya dengan langkah yang lebar. Dia terlihat begitu khawatir melihat keadaanku yang sedikit lemah dan kepala di perban. Plak... sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Kak Arfin dan aku hanya dapat melihatnya dengan tatapan tak percaya. Aku tak pernah sekalipun melihat Ayah menggunakan kekerasan dalam mendidik kami. Dia adalah Ayah yang begitu lembut, suka memanjakan anak-anaknya, tapi juga tegas. Tidak ada toleransi bagi kami jika kami melakukan kesalahan. Tapi sebesar apa pun kesalahan kami, Ayah tak pernah main tangan seperti sekarang. Aku melihat wajah Kak Arfin dengan rasa iba. Aku tak tahu bagai

