Setelah selesai mandi pagi, aku duduk termenung di kursi balkon kamar sambil menatap kertas yang tadi Om Rifky berikan. Sudah berulang kali aku membacanya dan aku masih tak percaya dengan semuanya. Pikiran dan hatiku masih ingin menyangkal semua kenyataan itu, tapi aku sendiri tahu bahwa Om Rifky tak mungkin memberikan informasi yang salah. Apalagi informasi ini pasti telah diketahui oleh Ayah. Tok...tok...tok... Kudengar suara pintu kamar di ketuk dan aku segera memasukkan kertas berisi informasi mengenai Alvian ke dalam kantong celanaku. Aku tak ingin jika sampai ada orang lain yang tahu kalau aku mencari tahu tentang Alvian. "Ra...," terdengar suara Via yang seperti biasanya, lembut dan halus. Aku sedikit mengerutkan kening saat mendengar suara Via yang kembali seperti pada kebiasaan

