"Telat dua menit tiga puluh detik, larimu semakin lambat," kata seseorang saat hanya tinggal beberapa meter saja aku sampai di posko. Aku sangat mengenal suara itu. Suara yang sudah beberapa bulan ini tidak aku denganr karena jarak yang memisahkan kami. "Kak Arfin ...," teriakku sambil memeluknya dengan erat. Ya, pria yang sedang berdiri di hadapanku dengan memakai kaos polo navy dan celana jeans biru adalah Arfin Firmansyah Putra Kusuma, kakakku. Dia adalah kembaran dari Arfan Firmansyah Putra Kusuma. Selama ini ia berhasil di Papua dan di sana sangat sulit mendapatkan sinyal. Tugasnya sebagai abdi negara mewajibkannya untuk selalu siap di mana pun juga. Begitu melihat Kak Arfin, Om Jajang langsung memberi hormat. Sesungguhnya, Kak Arfin dan Kak Arfan tak perlu menerima saat sedang ti

