Kejujuranku itu berhasil membuat Fandy dan Bagas semakin melongo. Ada sesuatu yang membuat mereka terkagum-kagum. Aku sendiri tak tahu apa yang mereka kagumkan dari jati diriku. Apakah karena saya anak petinggi TNI? Ah menurutku itu hal yang biasa, bahkan sedikit menjadi beban untukku. Aku mengingat mereka dengan pikiran mereka masing-masing. Sementara itu, aku memutuskan untuk menonton televisi dan menonton apa yang bisa aku tonton. Apa yang bisa terjadi pada kami barusan. "Jadi kamu memang keluarga TNI Ra? Wah keren," kata Bagas membuyarkan semua konsentrasiku pada acara yang ada di televisi. "Apanya yang keren?" tanyaku bingung. "Ya keren, aku dulu mau masuk AKMIL, tapi sayang gak lolos. Mangkanya aku masuk Fakultas Hukum," jawab Bagas. "Kalau kamu masih berminat jadi TNI, jangan m

