Aku menutup mataku dan menanti apa yang akan terjadi padaku dengan jantung yang berdetak kencang. Kali ini aku benar-benar telah pasrah pada apa pun yang Tuhan tuliskan sebagai jalan hidupku—termasuk mati di tangan Leak yang baru kali ini aku lihat. Tuhan... apa aku akan mati? Tanyaku dalam hati yang masih saja berdebar menanti suratan takdir. Semenit dua menit aku menanti dengan penuh cemas, menanti di mana ujung nyawaku. Aku sangat tahu bahwa nyawaku bisa saja melayang saat leak itu berhasil mendekat ke arahku. Sssrrreeettt… Kurasakan sebuah tangan menarik tanganku dengan sangat erat. Aku pun memberanikan diri untuk membuka mataku dan melihat siapa yang menarik tanganku. Dalam jarak beberapa senti aku melihat Om Rifky ada di hadapanku dan aku mulai menarik napas lega. Ternyata nyawaku

