“Syukurlah, dia menuruti permintaanku!” Rein membatin lega saat melihat Zia turun dari mobil yang dikendarai oleh pak Surya, sopir paruh baya yang ia sewa khusus untuk Zia. Ia yakin, dokter Mila berhasil membujuk gadis itu sehingga mau menuruti perintahnya. Mata Rein tak lepas menatap wajah cantik yang saat ini tengah melangkah ke arah lift di parkiran. Betapa dirinya ingin mendekat dan berbincang-bincang dengan gadis itu. Dorongan di hatinya semakin hari semakin besar. Kepalanya pusing memikirkan apa yang terjadi padanya karena tak satu pun orang bisa ia ajak bertukar pikiran. Mana mungkin juga ia bicara soal keanehan yang ia rasa pada seseorang. Itu pasti akan mempermalukan dan merusak image-nya. “Kenapa kamu membuatku pusing, Zia? Harusnya tak kuhiraukan kamu dan fokus pada pekerjaan

