Tubuh Zia masih gemetar. Niat sarapan pun buyar. Rasa laparnya hilang tak berbekas karena rasa takutnya lebih mendominasi sekarang. Zia tak habis pikir, kenapa lelaki j*****m itu selalu mengusiknya dan kenapa pula dia repot menyiapkan supir dan mobil untuknya. “Kurang ajar! Dia menganggapku tawanan rupanya. Itu sebabnya dia menyediakan sopir untukku,” gumam Zia geram. Kaki Zia masih terasa lemas, tak bisa berdiri lagi karena masih syok akan kedatangan Rein tadi. Sampai akhirnya, suara dokter Mila dari balik pintu terdengar memanggilnya, membuatnya membuka kunci, masih dalam posisi terduduk lemas. “Zia, kamu nggak apa-apa, kan?” Dokter Mila langsung mendekati Zia yang terduduk di balik pintu. Diedarkannya pandangan ke sekitar Zia dan ia melihat sebilah pisah tak jauh dari tubuh pasi

