Pagi itu, Zia baru saja akan menikmati sarapannya, tiba-tiba suara bel apartemennya berbunyi. Wajahnya langsung berubah ceria. Itu pasti dokter Mila, pikirnya. Kebetulan Zia sudah memasak beberapa macam menu sarapan sejak jam 5.00 pagi. Sungguh pas kalau psikiaternya datang sehingga ia bisa mengobrol santai sebelum akhirnya mengatakan padanya untuk tidak repot mengantar ke perusahaan lagi karena sudah ada Rafli yang akan mengantar jemputnya setiap hari. Zia pun berlari kecil ke arah pintu dan tanpa ragu membukanya. Namun, senyuman indah itu sirna seketika kala ia melihat siapa yang berdiri di balik pintu. Rasa takut langsung menyergap jiwa. Buru-buru, Zia menutup pintu, berniat bersembunyi di dalam kamar. Namun, sia-sia. Laki-laki j*****m itu sudah menghalangi pintu dan akhirnya berhasil

