Rein merenung, menyimak semua perkataan sekretarisnya dan perasaannya begitu cemas saat membayangkan Zia akan terus membencinya. Bahkan, saat ia berpikir Zia akan terus berbuat nekat mengakhiri hidupnya, Rein merasa ngeri. Apa ini saatnya ia harus jujur, setidaknya pada sekretarisnya sendiri? “Percayai saya, Pak!” ucap Juna lagi. Pada akhirnya, Rein menyerah. Ia tak akan menutupi perasaannya lagi. “Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku awalnya tak yakin ini cinta. Tapi makin ke sini, aku semakin stres memikirkan dia. Apa aku hanya merasa bersalah padanya?” Juna bernapas lega melihat atasannya mau berterus terang. Mengingat lagi apa saja yang dilakukan Rein, termasuk mendatangi Zia di apartemen pagi ini, sampai-sampai menyiapkan sopir plus mobilnya karena tak rela Zia satu mobil den

