“Tidak mungkin ....”
Reynald menggelengkan kepalanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sang tunangan pasti sedang bercanda.
Zia menatap Reynald dengan tatapan serius. Gadis itu harus membuat tunangannya yakin kalau ia baru saja tidur dengan seorang lelaki.
“Aku tidak berbohong. Aku lelah, Rey. Sampai akhirnya, aku menemukan pria lain yang bisa membahagiakanku.”
Reynald mendekati Zia lalu menarik tangannya. Ia masih belum percaya dengan semua ucapan sang tunangan.
“Kalau mau bercanda, bukan begini caranya, Zia. Cerita, apa yang terjadi sama kamu! Apa soal mama? Kan, aku sudah bilang, restu mama akan menyusul? Apalagi kalau kita udah kasih beliau cucu?”
Zia tahu akan begini jadinya. Reynald pasti tak akan mudah melepasnya karena ia tahu betapa besar cinta lelaki tampan itu padanya. Dengan terpaksa, Zia mendorong kasar tunangannya lalu menunjukkan tanda merah di lehernya, yaitu tanda yang dibuat iblis yang menodainya agar Reynald menyerah.
“Aku tidak bohong. Lihat leherku! Aku baru saja tidur dengan lelaki yang aku cintai dan akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, kumohon lepaskan aku! Aku lelah mencintaimu, Rey.”
Mata Reynald membelalak tak percaya saat melihat leher sang tunangan yang penuh berhias bercak merah yang ia tahu persis itu apa. Rasanya tak percaya, wanita yang ia cintai tega melakukan itu padanya di saat persiapan pesta pernikahan sudah hampir rampung.
“Tega kamu, Zia. Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kenapa begitu mudahnya kamu menyerahkan dirimu pada laki-laki lain?”
Zia tak tahan lagi. Sebentar lagi air matanya akan tumpah dan ia takut akan mengatakan yang sejujurnya pada sang tunangan. Dengan menahan sesak di d**a, Zia mendorong Reynald keluar dari rumahnya lalu memutuskan lelaki itu dengan kejam.
“Itulah yang terjadi. Aku jatuh cinta pada lelaki lain dan tak bisa menahan diri. Maafkan aku, Rey. Lupakan aku dan jangan mengharapkanku lagi!”
Pintu pun segera Zia tutup. Bersamaan dengan itu, air matanya meluruh. Wanita cantik itu tak bisa lagi menopang tubuhnya. Ia pun terduduk sambil memegangi dadanya yang sesak karena di hari yang sama harus kehilangan dua hal yang sangat berharga. Zia meraung sejadi-jadinya meluapkan kesedihannya.
“Kenapa jadi begini, Tuhan? Kenapa Engkau begitu kejam padaku?”
***
Keesokan harinya, Zia buru-buru mengemasi barang-barangnya. Puas menangis semalaman, akhirnya gadis itu bertekad pindah dari kontrakannya ke sebuah apartemen sederhana yang jauh dari keramaian. Zia ingin bersembunyi dan tak mau tinggal di lingkungan terbuka karena merasa dirinya telah kotor tak berharga.
Bahkan untuk menyapa para tetangga pun ia tak mampu lagi. Bukan hanya itu, Zia juga sudah mengirim surat pengunduran diri melalui rekannya di perusahaan Haditama milik orang tua Reynald dan akan mencoba peruntungan melamar di perusahaan Wiratama yang kebetulan hari itu sedang membuka lowongan.
“Aku harus menjauh dari semua yang berhubungan dengan perusahaan Haditama,” gumam gadis itu lalu segera memasukkan semua barangnya ke dalam mobil mungilnya, kemudian melesat ke perusahaan Wiratama.
Dengan outfit kerja berwarna krem dipadu rok hitam, Zia menyetir dengan percaya diri menuju ke perusahaan dan rencananya baru akan pulang ke apartemen seusai tes dan wawancara di perusahaan Wiratama.
“Semoga aku diterima di sana,” gumam Zia berharap.
Setibanya di parkiran, Zia langsung menuju ke lobi dan menanyakan di ruangan mana ia akan diuji dan diwawancara. Tak makan banyak waktu, Zia pun diantar ke ruangan yang berisi para pelamar.
Ujian tertulis dan wawancara pun berhasil dilewati dengan baik. Hasilnya, Zia diterima menjadi asisten manajer di perusahaan Wiratama berdasarkan pengalamannya yang telah lama menjadi sekretaris CEO di perusahaan Haditama.
“Selamat, Bu Zia. Anda bisa langsung menandatangani kontrak kerja ini dan bisa mulai bekerja besok.”
Zia tak menyangka bisa sedemikian cepat mendapatkan pekerjaan baru di saat pengunduran kemungkinan baru akan diproses oleh perusahaan.
Untungnya, kontraknya dengan perusahaan Haditama memang telah lama berakhir dan sengaja tak diperpanjang Reynald karena mantan tunangannya itu mengatakan dirinya tak memerlukan kontrak kerja lagi karena akan segera menjadi nyonya setelah menikah dengannya.
“Ini serius, Pak? Semudah itu saya diterima?” Zia mengonfirmasi.
Lelaki yang diketahui Zia sebagai tangan kanan pemilik plus CEO perusahaan itu tersenyum lalu menegaskan kalau Zia memang layak diterima di perusahaan itu.
“Anda layak untuk berada di sini. CV Anda bagus dan Anda memiliki pengalaman kerja yang luar biasa. Sekarang, tolong tanda tangan di sini lalu ikut saya menemui CEO kita! Saya akan memperkenalkan Anda dengan beliau.”
Zia menuruti kata-kata sekretaris yang bernama Juna tersebut lalu mengikuti langkahnya ke ruangan CEO.
“Pak, kita berhasil merekrut asisten manajer yang baru,” sapa Juna pada sang atasan yang saat ini duduk menghadap ke jendela, membelakangi Zia dan Juna.
“Baik, tinggalkan kami, Sekretaris Juna!” ucap lelaki itu.
Zia sedikit terkejut saat mendengar suara sang CEO yang terdengar tak asing baginya. Namun, ia tepis perasaan itu dan mulai bersiap akan memperkenalkan diri pada atasan plus pemilik perusahaan.
“Selamat pagi, Pak. Perkenalkan, saya Zia Magdalena, asisten manajer utama di perusahaan Bapak yang baru saja direkrut. Mohon bimbingannya!” sapa Zia menundukkan kepalanya karena perempuan itu yakin, sang atasan akan segera membalik kursi dan membalas sapaannya.
Namun, bukan hanya berbalik kursi, sepertinya sang CEO malah beranjak dari kursi dan mulai mendekatinya. Rasa gugup di hati Zia pun menjadi-jadi. Puncaknya ketika rahangnya tiba-tiba dicengkeram kasar oleh sang atasan yang membuatnya syok setengah mati.
“Tidak ... tidak mungkin ... k-kamu!?” Kata-kata Zia tercekat di tenggorokan disertai perasaan panik luar biasa kala mendapati lelaki yang memegangi dagunya adalah pria j*****m yang telah menodainya.
Rein menyeringai lebar lalu berkata. “Bagus, kamu datang sendiri ke perusahaanku tanpa perlu aku mengundangmu.”
Mata Zia menatap Rein dengan sengit. Perasaan benci menyeruak di hatinya. Sungguh ia tak sudi bekerja di perusahaan lelaki yang telah merusak masa depannya.
“Lepaskan aku! Aku tak sudi bekerja di sini,” jerit Zia berusaha menepis tangan Rein dari wajahnya.
Namun, bukannya berhasil, lelaki itu malah mendorong tubuh Zia merapat ke dinding lalu menguncinya sehingga tak bisa berkutik sama sekali. Lelaki itu pun tersenyum puas lalu mengutarakan rasa senangnya.
“Sayang sekali kamu tak akan bisa lari dari sini, Zia. Kamu telah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaanku selama dua tahun. Artinya, kamu akan membayar denda jika berani berhenti sebelum kontrak kamu habis. Aku bersyukur semesta membantuku berbakti pada mamaku sehingga tanpa aku menghabiskan waktu dan uang untuk memantaumu dan memastikanmu benar-benar putus dari adikku, kamu datang sendiri padaku.”
“Tidak ... aku tak mau bekerja di perusahaan b******n sepertimu,” pekik Zia berontak.
Rein naik pitam. Tak ragu, ia mencekik Zia sambil mengultimatumnya dengan kasar. “Dengar, jangan melawanku, Sialan! Aku bisa melakukan hal yang lebih kejam dari kemarin. Jangan memaksaku menjadi lebih jahat dari ini. Tugasku hanya memastikan adikku tidak berhubungan denganmu lagi, tahu kamu!?”
Rein melepaskan cengkeraman tangannya di leher Zia lalu menarik dan mendorong tubuh wanita cantik itu hingga terjerembap di lantai lalu kembali mendesis tajam.
“Kalau ingin selamat, turuti semua kata-kataku! Bekerjalah sebaik-baiknya di perusahaanku! Aku tak akan mengusikmu selagi kamu tidak berhubungan lagi dengan adikku. Pastikan saja kamu tidak bertemu dengan adikku lagi, mengerti!?”
Bersambung ...