Ibas semakin resah karena telepon Selly terus saja sibuk. Alis matanya menyerit. Banyak yang dia takutkan. Salah satunya, Selly salah paham padanya. "Uh. Kok Selly gak bisa ditelepon sih. Kayakya gue harus ke sana langsung!" Dia sudah mengangkat tubuh tapi Rian menahan bahunya. Disuruh tiduran lagi, dong! "Apa-apaan sih Lo?!" "Lo yang apa-apaan. Tangan Lo itu, sembuhin dulu!" Rian menunjuk tangan Ibas yang diperban dengan bibir monyongnya. Ibas menggeleng, tadi kata Rian... Selly nangis kejer, sekarang dia mau menyusul seperti pangeran berkuda kok dilarang. "Lo gak berhak ngatur hidup gue!" "Terserah!" jawab Rian datar. Gih sana, kalau mau tangannya sembuh lama. Namun tangan Rian tetap di bahu Ibas, Ibas menggoyangkan begitu agresif. "Jangan larang gue, jangan larang!" "Siapa y

