"Mana Vania? Jangan bilang pada mama jika kau tidak menemukannya?" *** Kerongkongan Rendi tercekat kala mendengarnya, meskipun pertanyaan itu sudah bisa diperkirakannya, tetap saja membuatnya gemetar. Dengan langkah gontai, Rendi berjalan hingga berhenti sejenak di hadapan Helena memperlihatkan wajahnya tidak bersemangat. Bibir Rendi kini mulai terasa kaku, lelaki itu akhirnya diam beberapa saat, hanya kakinya saja yang masih sedikit bertenaga untuk membawa tubuh lelahnya menuju sofa. Ekor mata Rendi masih menyadari jika ibunya masih tengah menatapnya. Di hempaskannya tubuhnya ke sofa, lalu menyandarkan punggungnya sejenak. Helaan nafas panjang kini terdengar dari bibirnya, membuat Helena akhirnya berdiri diam sambil memandanginya, setidaknya wanita itu mengerti, jika putranya butuh

