Lanjut Helena lalu kemudian mengeluarkan ponselnya, tak lama ia berjalan menuju ke ruang kerja suaminya. Tanpa mereka berdua sadari jika sedari tadi Karin tengah berdiri di balik pintu masuk dan mendengar semua pembicaraan mereka. *** Karin termenung beberapa saat seakan tak percaya dengan semua yang baru saja didengarnya tadi. Bibirnya kaku meski untuk sekedar membuka mulutnya. Wajah wanita itu tampak begitu sayu dan pias. Ingin sekali rasanya ia berteriak, menumpahkan segala bebannya. Namun, apa daya. Tak mungkin hal itu dilakukannya di sini. Yang dilakukannya hanyalah menahan tangis agar tidak pecah. Tubuhnya kini bersandar di pintu, lalu perlahan merosot jatuh. Karin terduduk lalu menutup matanya beberapa saat. Tak lama ia mengumpulkan tenaga, lalu perlahan bangkit dan bergegas per

