Hanin merentangkan tangan, membuat senyum pria yang berdiri di hadapannya melengkungkan sempurna serupa bulan sabit. Pemuda itu benar-benar tampak berbeda. Mungkin karena rambut dengan warna terang menjadi pilihannya sebelum benar-benar kembali ke Indonesia. Dalam satu tarikan, lelaki itu membawa Hanin ke dalam pelukannya. "Kangen enggak?" tanyanya kemudian. "Kangen enggak, ya? Enggak tuh!" Wil terkekeh. Pelukannya terlepas begitu saja. Sebelah tangannya kemudian terangkat, menghadiahkan satu jitakan di kening gadisnya. "Tolong, yang kemarin ngambek berhari-hari karena dengar rumor pacarnya enggak jadi pulang siapa, ya? Yang bilang, ‘Aku kangen. Kita tuh udah lama banget enggak ketemu. Tega banget aku udah nunggu lama, tapi kamu batalin gitu aja’ siapa, ya?" Bibir Hanin mengerucut mend
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


