Epilog

1787 Kata

 "Yung, bangun jangan gini!" Arsen berkali-kali menjerit sembari mengguncang tubuh Bayu yang kaku berbalut kain putih. "Elo berhak bahagia, Yung. Enggak gini caranya." Sabil merengkuh tubuh sahabatnya, lalu berbisik lirih, "Dia udah bahagia, Sen. Dengan caranya." "Harusnya bukan Bayu yang pergi," ujar Arsen pelan. Pemuda itu meliarkan pandang dan menemukan sosok Anggia tengah menangis dengan kepala tertunduk di dekat pintu depan. "Dia ... harusnya dia yang pergi. Harusnya manusia itu yang mati!" makinya dengan tangan teracung menunjuk-nunjuk Anggia. Perempuan itu beringsut takut dan mencoba mencari perlindungan pada sang suami, tetapi Mario malah bangkit, dan berpindah ke sisi lain. Wajahnya memias melihat semua orang kini menatapnya dengan tatapan serupa; marah. "Tante ini bundanya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN