Para tamu yang datang cukup terkejut saat tiba-tiba lampu yang menjadi pusat penerangan mendadak redup. Begitu mendengar petikan gitar, atensi mereka semua langsung teralih. Seorang pemuda duduk di atas kursi sembari memegang sebuah gitar. Senyumnya selembut dan sehangat biasa kendati kali ini sedikit dipaksakan. "Selamat malam semua. Pertama-tama, terima kasih untuk tamu undangan yang hadir. Terima kasih juga untuk Om Rasya, Tante Milly, Tante Ama, Tante Hana, Tante Shilla, Om Tegar, Ayah, Ibu, Papa Mario, Kakak dan semua sahabat-sahabat saya yang membantu terlaksananya acara ini." Bayu menunduk, menghela napas sejenak, membuang sesak yang seakan menghimpit dadanya. Arsen tak tinggal diam. Lelaki itu maju, diikuti oleh sahabatnya yang lain. Wil juga tak mau ketinggalan. Akhirnya, merek

