Ditempat lain seorang wanita sedang menangis memeluk lututnya. Semua perkataan Rani dan Yoga terbayang dipikirannya. Vanya mulai mempercayai ucapan dari kedua orang itu. Bahwa Arsyad memang hanya menjadikannya sebagai pemuas nafsu saja. "Jahat kamu, Pak." "Aku pikir kamu beneran cinta sama aku." Tok! Tok! Tok! Suara ketukan menghentikan tangis Vanya. "Lihat ... Kamu datang ke sini pasti mau melampiaskan nafsu mu 'kan." Dengan perlahan Vanya melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Dia tidak akan membiarkan laki-laki itu membuatnya seperti w************n. Ceklek! Pintu terbuka, seorang pria berdiri hadapan Vanya. "Anya—" Plak! Arsyad mengusap wajahnya, dia yakin sekali bahwa gadis yang bersamanya saat ini benar-benar sedang marah. "Ma-mau apa?" tanya Vanya dengan bibir yang ber

