EPISODE 2

1069 Kata
Malam hari tiba, dua orang dewasa sedang duduk di kursi meja makan. Fatma dan anak laki-lakinya sedang menyantap makanan. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling bersinggungan. "Mami bilang barang-barang masakan di dapur habis. Terus makanan ini dari mana?" tanya pria itu. "Mami beli ya?" "Tadi Mami beli semua ini." "Sambil bawa Irsyad?" "Iyalah ... Kan nggak mungkin juga Mami tinggalin Irsyad sendiri." "Kenapa Mami nggak titipin Irsyad sama Rani?" tanyanya. "Tadi Mami udah sempet menghubungi dia. Tapi Rani ada kerjaan." Pria itu mengangguk kecil. "Mami mau bilang sama kamu besok Irsyad Mami tinggalin di rumah." "Kok gitu sih, Mi? Aku besok ada meeting lagi, jadwal ku padat. Jadi nggak bisa pulang cepat." Arsyad Aliando, laki-laki yang sudah ditinggalkan oleh istrinya. Pria itu menjadi duda saat istrinya baru melahirkan anak pertama mereka. Hingga sampai saat ini Arsyad sama sekali tidak ingin menikah. Dikarenakan dia masih mencintai almarhum sang istri. "Kamu tenang dulu. Mami udah ada babysitter buat Irsyad." "Babysitter?" Arsyad mengernyitkan dahinya, bahkan ia berhenti dari aktifitas menyendok makanan. "Babysitter itu jahat, Mi." "Kamu kenal juga enggak." "Tapi aku takut kalau Irsyad dianiaya sama babysitter itu, 'kan banyak berita seperti itu, Mi." "Itu cuma berita sayang, dan nggak semua babysitter bersikap sedemikian rupa." "Mami kenal sama babysitter itu?" tanya Arsyad. "Kenal ... Baru tadi, dia yang bantuin Mami." "Baru kenal." Arsyad mengusap wajahnya kasar. Lelaki itu semakin was-was mendengar pengakuan dari ibunya. Melihat jaman sekaran banyak pengasuh bayi yang menganiaya anak majikan membuat Arsyad takut dengan babysitter. Saat ini kehidupannya hanyalah Lucky, anak pertamanya dengan almarhum istrinya. Mana mungkin ia akan membiarkan Irsyad dalam bahaya. "Lagian salah kamu juga." "Salah ku apa?" tanyanya. "Mami suruh kamu nikah, kamu nggak mau," ucap Fatma. "Kalau Irsyad punya Ibu, dia bisa merawat anak kamu." "Aku nggak percaya, Mi. Kalaupun aku nikah, aku nggak yakin wanita itu beneran sayang sama anakku." "Ya udah ... Kamu harus menerima keputusan Mami buat memperkerjakan babysitter di rumah ini." "Kalau terjadi sesuatu sama Irsyad?" tanya Arsyad mulai khawatir. "Nggak akan terjadi apa-apa, tenang aja." "Tapi, Mi-" "Arsyad ... Rumah kita ada cctv-nya. Mami juga nggak bilang sama babysitter itu kalau rumah kita ada cctv biar kita bisa tau gimana sikapnya di sini." Arsyad masih belum bisa menerima sepenuhnya wanita yang akan menjadi babysitter anaknya. Dia sangat takut dengan hal seperti itu karena terlalu sering mendengar berita tentang babysitter yang melakukan kekerasan kepada bayi. [] [] [] Pagi hari tiba, seperti biasa Arsyad dan juga ibunya yang bernama Fatma sudah bersiap untuk segera bergegas pergi ke kantor. "Mami ... Aku berangkat ya." "Kamu nggak makan dulu?" tanya Arsyad menghampiri anaknya yang sudah berada di depan pintu rumah. "Nggak sempet, Mi ... Aku harus segera meeting hari ini," ucapnya. "Irsyad masih tidur di kamar." "Iya ... Kamu hati-hati di jalan." "Iya, Mi." Arsyad Aliando pergi menuju kantornya. Saat menyetir pria itu tidak bisa fokus karena ia memikirkan tentang babysitter yang akan menjaga anaknya. Pikiran laki-laki itu tidak bisa diajak untuk positif, berita-berita mengenai anak bayi yang dianiaya terus saja melintas di pikirannya. Tok! Tok! Tok! Fatma yang baru saja selesai makan mendengar suara ketukan dari luar. Perlahan ia menuju pintu tersebut. Wanita paruh baya itu melihat ada seorang gadis yang sudah berdiri di depan sana. "Anya" "Mami," balas Anya dengan menampilkan senyuman. "Masuk." Fatma menggenggam lengan Anya, ia membawa gadis cantik berambut panjang itu masuk ke dalam kamar seseorang. "Ini kamar siapa, Mi?" "Ini kamar anak saya, Ayahnya Irsyad." Mereka berdua mendekati ayunan bayi. Terlihat ada seorang anak kecil yang sedang berbaring di sana dengan pipi yang sangat menggemaskan membuat Vanya ingin mencubitnya. "Gemes banget pengen Anya cubit deh." "Hei ..." "Hehehe ... Maaf Mami, soalnya Anya seneng banget lihat bayi." "Kamu jagain cucu saya ya. Jangan sampai kenapa-kenapa, takutnya anak saya marah besar." "Siap, Mami," ucap Vanya melakukan hormat kepada wanita itu. "Nggak perlu segitunya," ujar Fatma. "Saya mau ke butik dulu. Kamu jangan tinggalin cucu saya, tugas kamu cuma jagain dia." "Baik, Mi ... Tante hati-hati di jalan ya." Melihat tingkah Vanya, Fatma yakin jika gadis itu bisa diandalkan. Dia sama sekali tidak merasa khawatir meninggalkan cucunya bersama orang yang baru ia kenal. Vanya tinggal bersama bayi mungil itu, ia merawat bayi laki-laki tersebut dengan suka hati. Sifatnya yang memiliki keibuan membuat Irsyad nyaman seharian dengan dirinya. [] [] [] Siang hari tiba, setelah menyelesaikan beberapa meeting bersama klien. Arsyad Aliando bergegas pergi pulang ke rumah. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan anaknya saat ini. Mengendarai mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Arsyad berharap jika dia cepat sampai di rumah. Sesampainya di tempat itu, ia masuk ke dalam dengan sedikit berlari. Dia melihat seorang perempuan sedang bermain dengan buah hatinya. Senyum terukir di wajah Arsyad ketika melihat Irsyad, anak kesayangan baik-baik saja. Vanya Aqilla sama sekali tidak menyadari kehadiran Arsyad, ia terlalu sibuk bermain dengan bayi itu hingga tidak melihat adanya pria yang sedang berdiri di belakangnya. Plak! Vanya kaget ketika ada yang memegang bahunya, ia pun tidak sengaja memukul pria itu dengan mainan yang ia pegang. "Aw!" "Kamu siapa?" tanya Vanya. Dia takut karena saat ini mereka hanya tinggal berdua di dalam rumah itu. "Kuat ya, hidung saya berdarah," ucap Arsyad mengusap darah yang mengalir itu. "Kamu siapa?" tanya Vanya lagi dengan sedikit meninggikan suaranya. "Saya Ayah Irsyad." Gadis itu membulatkan matanya, saat ini ia merasa takut jika pria itu marah kepada dirinya. "Maaf, Pak ... Jangan pecat saya, saya butuh pekerjaan ini." Vanya memohon kepada Arsyad dengan memegang lutut pria itu. "Jangan pecat saya, nanti saya biayai pengobatan hidung, Bapak." "Tidak perlu seperti itu," ucap Arsyad. Lelaki itu pun jongkok menghadap kearah Vanya. Gadis itu terpesona ketika Arsyad tersenyum memandang Irsyad. "Anak Ayah lagi main ya." Cup! Satu kecupan singkat mendarat di pipi bayi mungil itu. Vanya menundukkan kepalanya ketika Arsyad memandang dirinya. "Maaf." "Terima kasih kamu sudah menjaga anak saya." Ketakutan Vanya tadi berubah ketika Arsyad berbicara dengan sangat lembut. Dia memberanikan diri menoleh kearah lelaki itu. "Kamu tidak perlu khawatir, kamu tidak saya pecat." "Ta-tapi, hidung Bapak." "Tidak apa-apa, hanya luka kecil." Arsyad kembali berdiri, ia menuju ruang tamu dan mengambil selembar tisu yang ada di sana. Sambil mengusap darah yang mengalir dari dalam hidungnya, pria itu pun melangkah menghampiri Vanya. "Saya mau pergi lagi. Tolong jaga dengan baik anak saya." "Baik, Pak." "Saya permisi." Barulah Vanya bisa bernapas lega, ia pikir setelah kejadian tadi dirinya akan kehilangan pekerjaan itu, nyatanya tidak. Ayah dari anak yang ia jaga sangatlah ramah, walaupun tatapannya begitu tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN