Sudah beberapa hari Vanya bekerja dan dia menyukai pekerjaannya itu. Hanya menjaga bayi kecil bukanlah hal yang sangat sulit. Apalagi dengan kelakuan Irsyad yang jarang menangis ketika bersamanya.
Vanya duduk di bawah tepat di karpet sambil bermain dengan seorang bayi. Sedangkan Arsyad duduk di sofa menonton televisi dan tidak lupa memperhatikan babysitter itu.
"Anya."
"Iya, Pak."
"Sebelumnya kamu pernah bekerja sebagai babysitter?"
Vanya menggeleng pelan.
"Kamu kuliah?"
"Udah selesai, Pak," jawabnya. "Saya lagi cari kerja. Berhubung nggak ada kerjaan, saya terima ini dari Mami."
"Kenapa kamu panggil Mami dengan sebutan yang sama seperti saya?" tanya Arsyad.
"Mami yang minta, Pak."
"Kamu lulusan apa?" tanyanya.
"Keperawatan."
"Oh ..."
Arsyad kembali fokus menonton televisi, sedangkan Vanya kembali melanjutkan tugasnya untuk mejaga anak pria itu.
"Anya."
"Iya, Pak."
"Kamu sudah menikah?" tanya Arsyad.
"Belum ... Saya 'kan baru selesai kuliah."
Perlahan Arsyad menganggukkan kepalanya. "Punya kekasih?"
Gadis itu juga menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Saya lihat kamu nggak jelek-jelek banget."
"Kurang ajar dia, berarti aku nggak cantik," batin Vanya.
"Kenapa diam? Kamu lagi ngatain saya ya karena ucapan saya tadi?"
"Lho, kok dia tau." Batin Vanya lagi.
"Nggak usah kaget di dalam hati," ucap Arsyad.
"Ha! Enggak, Pak. Saya mau fokus kerja aja."
"Memangnya tidak ada yang mau sama kamu?" tanya Arsyad.
"Ada, Pak."
"Terus kenapa tidak pacaran aja?"
"Kan saya udah bilang, saya mau fokus kerja aja."
"Eummm ... Susuin anak saya."
"Susuin?" tanya Vanya sambil membulatkan matanya.
Arsyad menggeleng cepat. "Bukan ... Maksud saya, kasih s**u, kayaknya dia haus."
"Baik, Pak ... Sebentar saya siapkan."
Dengan penuh semangat Vanya melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Wanita itu meninggalkan anak dan bapak tersebut di ruang tamu, dan ia segera menyiapkan s**u buat bayi kecil itu.
Arsyad berpindah posisi, ia duduk di karpet dan memperhatikan anaknya yang sedang berada di baby walker, atau alat bantu jalan bayi.
"Gimana anak Ayah?"
"Seneng sama Kak Anya, hm?"
"Baik 'kan, tapi sayang jomblo. Hahaha ..."
"Pak!"
"Eh, Anya."
"Bapak iseng banget ya. Jangan-jangan dari tadi Bapak memang sengaja ngatain saya 'kan?"
"Enggak." Arsyad masih mencoba menahan senyumnya.
Vanya ikut duduk menghadap kearah bayi itu. "Jangan kayak Ayah kamu ya. Laki-laki tapi mulutnya kayak perempuan, rumpi banget."
"Apa kamu bilang?"
"Bapak kayak perempuan."
"Kamu mau saya lepas pakaian supaya kamu tau apa isi di dalamnya?"
"Enggak, enggak. Saya minta maaf, Pak."
"Awas kamu ya."
[] [] []
Saat menoleh kearah jam dinding, ternyata sudah jam setengah tiga. Sekarang Vanya bukan hanya menjaga Irsyad yang sedang bermain, dia juga menjaga pria itu yang tertidur di sofa.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
"Aaaa ..."
Vanya teriak setelah menjawab salam tersebut. Karena teriakan itu, Arsyad terbangun dari tidurnya.
"Anya!" ucap Arsyad kaget.
Pria itu duduk, dan tiba-tiba saja Vanya berlari kearahnya memeluk erat pria itu. "Tolong Pak, saya takut hantu."
"Hantu apa?"
"Itu ..." Vanya menunjuk kearah perempuan yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Hei, hei ... Bukan hantu, kamu nggak usah takut."
"Enggak, enggak. Saya takut."
Pelukan itu benar-benar kuat, Vanya tidak sadar melakukannya.
"Anya. Saya sesak napas gara-gara kamu."
Vanya pun tersadar, pria itu duduk di sofa dan ia duduk di bawah sambil memeluk pinggang Hatta.
"Maaf, Pak."
Saat Vanya menoleh, tamu perempuan tadi sudah duduk di dekat Irsyad.
"Hantu!"
"Anya, itu Rani."
"Rani?" Vanya mengernyitkan dahinya. "Bukannya istri Bapak udah-"
"Hei ... Kenalin, aku Rani. " Wanita itu menyodorkan tangannya. "Kembarannya Rina, almarhumah istri Arsyad ."
Semenjak kematian kembarannya, Rani sudah berencana untuk menjadikan Arsyad sebagai suaminya. Namun pria itu sama sekali tidak pernah merespon dirinya.
Dengan senang hati Vanya meraih jabatan tangan itu. "Vanya."
"Kamu yang jadi babysitter Irsyad?"
"Iya, Bu."
"Hei ... Nggak usah panggil Ibu, Rani aja."
Vanya tersenyum lebar.
"Mas udah makan?" tanya Rani.
"Udah."
"Mau minum nggak? Biar aku buatin."
"Boleh."
Rani berlalu pergi, selalu seperti itu. Dia sangat perhatian kepada Arsyad karena ingin mendapatkan laki-laki itu. Kembali gadis itu bermain-main bersama Irsyad. Dia tetap fokus pada pekerjaannya tanpa harus mengurusi orang lain.
"Ini, Mas." Rani langsung duduk di samping Arsyad.
"Terima kasih, Rani."
"Sama-sama, Mas," balas wanita itu sambil mengelus lengan Arsyad.
"Mas nggak ke kantor?" tanyanya.
"Hari ini aku mau istirahat aja. Capek."
"Istirahat banyak-banyak, Mas. Biar nggak kecapekan."
Kedua orang itu tidak sadar bahwa Vanya memperhatikan mereka.
"Diiih, apaan sih ... Harus banget kamu nempel-nempel gitu sama Bapak?" batin Vanya.
Gadis itu melihat bahwa Rani terlalu agresif untuk hubungan antara ipar.
"Irsyad ... Hei," panggil Rani.
"Irsyad ... Itu dipanggil Tante."
"Bukan Tante, Anya. Tapi Mama."
"Oh, Mama," lirih gadis itu. "Gatel banget," batinnya.
"Irsyad semakin ganteng ya, kayak Mas."
"Kamu bisa aja," balas Arsyad.
Rani mengangkat lengan Arsyad dan meletakkannya pada pangkuannya. Perlahan wanita itu memijit lengan tersebut.
"Gimana Mas, enak nggak?"
"Enak," jawab Arsyad.
"Semoga waktu cepat berlalu, males banget liat mereka," batin Vanya.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul setengah enam menjelang malam, Vanya sudah bersiap-siap mengemaskan barang-barangnya. Waktunya wanita itu harus pamit untuk pulang.
"Anya."
"Iya, Mami."
"Kamu jangan pulang dulu ya."
"Lho, kenapa?"
"Saya ada undangan pesta malam ini. Kamu di sini aja sampai saya pulang."
"Bapak-"
"Dia nggak ikut ... Tapi kalau malam-malam seperti ini pasti dia kerja dulu. Saya takut Irsyad, nggak ada yang jagain."
"Oh ... Baik, Mi."
Hingga malam harinya Vanya bersama anak bayi yang mungil itu. Sungguh menyenangkan sekali, Irsyad jarang tidur tapi dia tidak menangis seperti anak-anak pada umumnya ketika tidak tertidur disiang hari.
"Anya ..."
"Iya, Pak."
"Saya lapar ... Bisa kamu buatkan makanan?"
"Bisa, Pak." Vanya langsung beranjak dari tempat duduknya. "Tapi-" pandangannya itu mengarah pada Irsyad.
"Irsyad biar saya yang jaga."
Wanita itu tersenyum simpul. "Bapak mau makan apa?"
"Apa saja, yang penting makan karena saya benar-benar sudah lapar."
Sudah beberapa menit berlalu, ternyata Arsyad dan Irsyad tertidur. Perlahan Vanya mendekat, ia ingin sekali membangunkan majikannya. Namun dia takut jika Arsyad akan marah karena tidurnya diganggu.
Saat Vanya semakin mendekat, dia tidak melihat jalannya hingga kakinya tersangkut pada ujung karpet membuat ia langsung jatuh dan menimpa tubuh Arsyad.
"Arghhh!!!"
"Ba-Bapak."
"Kamu kenapa?"
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud menggangu tidur Bapak, sa-saya jatuh."
"Kenapa nggak lihat jalan, untung Irsyad nggak bangun."
Masih pada posisi yang sama, Vanya berada di atas tubuh pria itu. Dia menyatukan kedua telapak tangannya. "Saya benar-benar minta maaf, Pak. Jangan pecat saya."
"Hei ..." Arsyad menyingkirkan kedua telapak tangan wanita itu. "Saya tidak marah. Selagi anak saya aman, saya tidak akan pernah marah sama kamu."
"Maaf."
Arsyad tersenyum simpul begitu pun dengan Vanya. Senyum wanita itu membuat jantung Arsyad berdegup kencang hingga Vanya bisa merasakan hal tersebut.