"Anya ..."
"Iya, Pak."
"Kamu cantik."
Vanya langsung memandang ke sembarang arah. Saat wanita itu hendak beranjak, tiba-tiba saja Arsyad menahan pergerakannya. "Mau kemana?"
"Ma-makanannya udah siap di atas meja," ucap Vanya gugup.
Perlahan Arsyad semakin mendekati wajah Stella. Gadis itu mulai terpengaruh dengan bau parfum orang tua Irsyad tercium sangat menyengat. Vanya terhipnotis dan malah memejamkan matanya hingga ia merasakan ada kecupan pada pipinya.
Vanya mengusap wajahnya setelah kecupan terlepas. Lelaki itu hanya tersenyum saja memandangi Vanya Aqilla.
"Kenapa Bos lihatin saya begitu?"
"Banyak yang mendekati saya. Tapi kenapa sama kamu rasa saya sedikit berbeda."
Vanya ingin beranjak, lagi-lagi pria itu menahannya. "Kamu suka kecupan dari saya?"
"Maaf, Pak ... Nanti Mami datang malah nggak enak."
Kini Vanya memaksakan diri untuk pergi dari hadapan atasannya. Arsyad langsung menyusulnya melangkah kearah meja makan.
"Bapak mau makan apa?" tanyanya.
"Ada telur, ada ikan juga," ucap Vanya. "Kalau enggak enak, jangan marah ya."
Arsyad hanya tersenyum saja. "Ambilkan apa saja, saya akan memakannya."
Vanya menuruti permintaan laki-laki itu. Dengan senang hati, ia menyiapkan makanan untuk Arsyad.
"Saya merasa punya istri lagi."
Sekilas Vanya menatapnya.
"Kamu duduk." Arsyad menarik satu kursi untuk Vanya. "Di sini."
"Nggak usah, Pak. Saya mau lihat Irsyad aja."
"Duduk."
"Tapi-"
"Mau saya cium lagi?"
Dengan gerakan cepat Vanya langsung duduk, ia tidak berani menatap Arsyad karena takut dengan pria itu.
"Masakan kamu lezat, saya suka."
"Terima kasih, Pak."
"Lihat sini."
Perlahan Vanya menoleh, di depannya sudah ada sendok makan yang diangkat berisi nasi beserta lauknya.
"Makan."
"Makan," lirihnya kebingungan.
"Kamu tidak mau?"
"Itu 'kan sendok makan Bapak. Nanti malah jadi sisa saya."
"Makan! Buka mulut."
Perlahan Vanya membuka mulutnya, ia benar-benar canggung untuk saat ini. Saat ia henda beranjak, lengannya langsung digenggam oleh Arsyad. "Mau kemana lagi?"
"Ma-mau ambil minum."
"Hmmm, baiklah."
[] [] []
Hari libur tiba, begitu pun dengan pekerjaannya. Vanya diminta oleh Fatma untuk libur saja, dikarenakan wanita itu ingin punya lebih banyak waktu bersama cucunya setelah melakukan pekerjaan selama satu bulan penuh.
Vanya pun meluangkan waktunya untuk beristirahat. Walaupun Irsyad tidak rewel, tetap saja yang nama pekerjaan pasti melelahkan. Apalagi harus mengurus bayi yang sama sekali tidak pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
Vanya sedang bersantai di rumahnya, wanita itu sudah tidak memiliki orang tua lagi. Rumah yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya begitu mewah. Namun Vanya tetap harus bekerja demi menghidupi dirinya.
Ponsel wanita itu berdering, Vanya membulatkan matanya karena tiba-tiba Fatma menghubungi dirinya.
"Assalamualaikum, Mami. Ada yang bisa Anya bantu?"
"Anya ... Saya punya tugas tambahan buat kamu." Terdengar suara seorang perempuan disebarang sana.
"Tugas apa Mami?" tanya Vanya.
"Tadi anak saya nelpon, dia lagi sakit. Bisa kamu ke rumah untuk menemani dia?"
"Bisa-bisa."
"Terima kasih ya. Nanti gajinya saya tambah."
"Terima kasih kembali, Mi."
Sambungan telpon terputus. Vanya memutar bola mata malas. "Baru juga mau istirahat, udah kerja aja."
"Itu Bapak juga ngapain sih, sakit bukannya ke rumah sakit malah aku yang di suruh ke sana."
Vanya segera bersiap-siap, tidak pernah ada kata telat selama dia bekerja dengan Vanya. Walaupun itu bukan urusan Irsyad, dia selalu membantu Fatma apa pun pekerjaan yang diberikan padanya.
[] [] []
Vanya sampai di sana, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia segera masuk ke dalam rumah. Sebelum itu Vanya masuk ke dalam kamar tempat ia meletakkan barang bawaannya.
Praaang!
Vanya kaget ketika mendengar suara pecahan kaca di dapur.
"Rumah 'kan sepi, Bapak lagi sakit. Jangan-jangan ada maling."
Perlahan-lahan Vanya melangkahkan kakinya menuju dapur. Wanita itu tertegun melihat seorang pria berdiri membelakangi dirinya.
"Pak."
Arsyad pun menoleh. "Anya."
"Bapak ngapain?" tanya Vanya langsung menghampiri pria itu.
"Saya mau minum, tapi gelasnya malah jatuh."
"Ya Tuhan."
Gadis itu menuntun Vanya untuk duduk di kursi meja makan tidak jauh dari dapur. Ada rasa canggung dalam dirinya ketika ia harus berdekatan dengan pria tanpa pakaian atas sama sekali.
"Bapak duduk dulu. Mau minum apa hm?"
"Air dingin."
"Eh! Kan lagi demam, nggak boleh."
"Tapi saya kepanasan. Kamu nggak liat saya keringatan sampai lepas baju begini. Saya mau air dingin."
"Nggak boleh, yang ada Bapak tambah sakit."
Tatapan pria itu begitu sendu membuat siapa pun melihatnya terpesona. Ditambah lagi dengan rambutnya yang acak-acakan membuatnya semakin tampan dimata Vanya Aqilla.
"Mau bubur?"
"Terserah kamu lah."
Arsyad memijit pelipisnya, ia pun menundukkan kepalanya diatas meja.
[] [] []
Setelah beberapa menit lamanya, Vanya kembali ke hadapan Arsyad. Dia mengambil kursi untuk berdekatan dengan majikannya.
"Makan dulu ya."
"Nanti nggak enak?"
"Percaya sama saya, Pak. Enak kok."
"Suapin."
Vanya menghembuskan napasnya, tanpa membalas perkataan Arsyad, ia pun memberikan suapan pertama pada pria itu.
"Hati-hati, soalnya panas."
"Bawel," gumam Arsyad.
Perlakuan Vanya membuat lelaki itu merasa nyaman. Rasa ingin menikah lagi kembali hadir dalam jiwanya. Dia merindukan seseorang yang bisa mengurusnya seperti dulu.
"Lagi ya."
Terasa gatal di kepala membuat Arsyad ingin menggaruknya. Namun siapa sangka, bubur yang belum sempat masuk ke dalam mulutnya malah tumpah tepat pada perutnya.
"Arghhh!! Panas!!!"
"Pak!" Vanya ikut kaget dan segera meletakkan bubur diatas meja.
"Panas, Anya!"
Wanita itu reflek membersihkan tumpahan bubur itu dengan tangannya sendiri. "Ma-maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
"Bukan salah kamu, bersihkan pakai tisu."
Arsyad merasakan dingin pada bagian perutnya, ternyata wanita itu sedang meniup perutnya tepat pada bagian yang tertumpah bubur tadi agar pria itu tidak merasakan panas.
"Arsyad!"
Pria itu menoleh, seorang pria seumuran dengannya sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Dia malah senyum-senyum sendiri melihat lelaki itu.
Arsyad mengangkat bahu Vanya karena sepertinya tamu itu sudah salah paham dengan posisi mereka tadi.
"Yoga ... Kamu siapkan minuman, bawa ke kamar saya."
"Baik, Pak."
Arsyad menghampiri Yoga dan menepuk pundak pria itu. "Lama banget lo, mana obatnya?"
"Ada," ucap Yoga sambil menatap seorang gadis yang berlalu pergi menuju dapur.
[] [] []
Sekarang Yoga dan Arsyad sudah berada di kamar lelaki itu. Dia adalah seorang dokter, ia disuruh oleh Arsyad untuk datang ke rumah.
"Tinggi juga panas lo."
Sambil membereskan barang-barangnya, Yoga berkata. "Panas lo yang tinggi atau memang lagi kepanasan karena merasakan hal baru lagi."
"Maksud lo?" tanya Arsyad.
"Lo pikir gue nggak lihat yang tadi. Dia lagi-"
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Vanya masuk ke dalam kamar, Yoga senyum-senyum sendiri memperhatikan gadis itu. Pesona Vanya bisa membuat siapa saja jatuh cinta, bukan hanya cantik, tubuh wanita itu juga terlihat bagus seperti model-model luar sana.
Vanya meletakkan minuman itu diatas nakas. "Saya permisi, Pak."
"Eummm ..."
Setelah Vanya keluar, Yoga kembali melanjutkan perkataannya tadi. "Enak nggak?"
"Apa?" tanya Arsyad mengernyitkan dahinya.
"Mukanya polos banget ... Lo pikir gue nggak lihat kejadian di meja makan tadi."
"Gila lo." Arsyad langsung menggeser tubuhnya. "Lo salah paham."
"Salah paham apa? Posisi lo sama dia tadi udah kelihatan banget."
"Gue tau batasan, mana mungkin gue ngelakuin itu."
"Arsyad , Arsyad. Lo itu duda! Apalagi—" Yoga menghentikan ucapannya. Dia menoleh kearah Arsyad. "Cewek tadi cantik ya. Bodynya juga—"
"Yoga ... Dia itu babysitter, Irsyad. Jangan mikir aneh-aneh lo."
"Gimana nggak mikir aneh. Orang pesona gadis itu kenceng banget."
"Yoga, yang lo lihat tadi nggak seperti yang lo pikirkan sekarang."
"Arsyad ... Lo pikir gue percaya. Mending lo nikahin cewek itu, kasian. Masak lo buat jadi pelampiasan aja."
"Gue nggak tertarik."