EPISODE 5

1006 Kata
Di dapur, Vanya sedang mondar-mandir, ia berharap jika Yoga agar segera pulang karena ingin berbicara dengan atasannya itu. Yang ditunggu-tunggu Vanya pun tiba, Yoga keluar dari dalam kamar Arsyad. Perlahan ia mengikuti langkah Yoga dari belakang, Vanya hanya ingin memastikan bahwa Yoga benar-benar pulang. Ceklek! Pintu terbuka, Vanya melihat Arsyad masih dengan keadaan yang sama. Tidak memakai baju hanya mengenakan celana pendek saja. Pria itu tengah berisitirahat di atas ranjang. "Anya! Kamu nggak sopan ya, malah nggak ketuk pintu kamar saya." "Pak! Saya tau posisi saya sekarang hanya pengasuh bayi di sini." Tatapan Vanya begitu tajam. "Saya sadar diri, saya tidak secantik yang Bapak bilang waktu itu." "Kamu bicara apa? Kenapa marah-marah?" "Saya denger perkataan Bapak tadi! Bapak nggak usah khawatir, saya juga nggak tertarik sama Bapak!" "Bahkan kecupan yang Bapak beri kemarin saya anggap biasa saja." "Anya kamu salah paham. Saya—" "Dan tadi, saya pikir kalian itu orang berpendidikan. Ternyata tidak! Membicarakan tubuh perempuan, menjijikkan sekali." "Anya kamu salah. Maksud saya-" "Cukup! Saya memang bawahan di sini. Tapi Bapak nggak bisa seenaknya saja memperlakukan saya seperti itu." "Saya sama sekali nggak mikir kalau Bapak akan tertarik sama saya karena kecupan kemarin. Orang-orang seperti kalian ini memang biasa menganggap wanita itu murah. Apalagi seperti Bapak yang punya banyak uang." "Dengerin penjelasan saya dulu." Arsyad mulai bangkit dari atas ranjang. "Saya juga bekerja karena ingin membantu orang tua, Bapak. Bukan untuk menarik perhatian Bapak ... Jadi anda tenang aja. Saya tidak segila itu terhadap anda." "Saya pulang!" "Anya!" Kembali Vanya berbalik badan. "Saya tidak menyangka jika anda seperti itu." "Vanya." "Saya permisi!" Sakit hati yang dirasakan Vanya setelah mendengar beberapa topik pembicaraan kedua lelaki tadi. Apalagi mereka membahas bagian tubuh perempuan. Hal itu sungguh membuat Vanya merasa marah. Arsyad Aliando kebingungan, ia tidak mau jika harus mengganti babysitter lagi. Bukan karena mencintai Vanya, namun wanita itu sudah ia percaya untuk menjaga anaknya. Vanya Aqilla pulang dengan rasa kesalnya, ingin rasanya dia memberikan pukulan pada Arsyad. Andai saja hal itu ia lakukan, pasti hatinya merasa puas sekali. [] [] [] Malam harinya Vanya sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Dia ingin melupakan kejadian di rumah majikannya. Namun Vanya masih ingat, bagaimana ucapan Arsyad yang mengatakan bahwa pria itu tidak tertarik dengan dirinya. "Lebih baik aku jalan-jalan, dari pada harus ingat terus sama pria itu." Wanita itu bisa dikatakan tidak punya sahabat, bukan sombong. Namun ia sudah terlalu sakit untuk hal persahabatan. Jadi Vanya sudah membatasi dirinya dengan orang-orang. Tetapi jika ada orang yang ia kenal meminta bantuan. Sudah pasti dengan tangan terbuka akan membantu orang itu. Sekarang Vanya duduk di kursi sebuah cafe mewah. Dia masih belum terima dengan pengucapan pria itu. Vanya menatap layar ponselnya. "Besok lusa hari Jum'at, masak apa ya kira-kira." Wanita itu berpikir sejenak, apa yang akan ia masak di hari Jum'at. Sepertinya memasak ayam dan nasi goreng sangatlah lezat. Ditambah minuman es jeruk dan kue bolu sebagai penutup hidangan. "Itu aja deh. Pasti mereka bakalan suka." [] [] [] Lusa pun tiba, tepatnya di hari Jum'at subuh. Vanya Aqilla sudah menyiapkan bahan-bahan masakan. Wanita itu akan memasak sesuatu yang sudah ia pikirkan jauh-jauh hari. Semangat pagi ia gunakan untuk hal-hal positif. Tangan lihai itu bermain dengan sangat rapi memberikan kesan bahwa Vanya Aqilla memang sudah cocok untuk mengurus rumah tangga. Lagi dan lagi dia terganggu ketika ponselnya berbunyi. Fatma terus saja menghubunginya karena kemaren ia tidak masuk. Vanya benar-benar sakit hati dengan perilaku Arsyad, sehingga dia harus mengabaikan Fatma dan Irsyad. Jam menunjukkan tujuh pagi, Vanya sudah sibuk di jalanan. Masakan yang sudah selesai dalam jumlah banyak sedang ia bagikan pada orang yang membutuhkan di jalanan. Bukan hanya fakir miskin, tetapi pada ojek online yang sedang berisitirahat juga dapat bagian. "Terima kasih, Mbak." "Sama-sama." Setiap Jum'at ia selalu melakukan hal itu, niatnya memberikan rejeki supaya perjalanan orangtuanya menuju surga dilancarkan oleh Allah SWT. Sungguh mulia sekali, cantik luar dalam. "Makasih Nak, Anya." "Sama-sama Ibu." Ada sebagian fakir miskin yang sudah mengenali Vanya karena wanita itu terlalu sering membagikan makanan. "Semoga rejeki lancar, Kak." "Aamiin ... Makasih Adek." "Ibu doain ... Kalau Minggu depan ada rejeki lagi, semoga bawa calon suami pas bagiin makanan." "Aamiin ... Makasih doanya Ibu." Vanya terlalu populer di jalanan, bukan sebagai wanita yang tidak baik. Melainkan sebagai seseorang yang selalu memberikan rejekinya kepada orang yang membutuhkan. Di seberang sana Vanya melihat ada yang sedang memanggilnya. Dia mencoba memperhatikan wanita yang sedang menggendong bayi itu. Vanya baru sadar, itu adalah Fatma. Saat dia ingin berlalu pergi, Vanya malah mencoba untuk menyeberang jalanan. "Jalanan lagi rame. Jangan egois Anya, kalau terjadi sesuatu sama Mommy dan Irsyad. Itu akan menjadi salah kamu juga." Akhirnya Vanya mengalah, dia lah yang menghampiri Fatma. "Tante ngapain?" "Kamu yang ngapain di sini?" "Anya cuma lewat aja Tante." "Yakin cuma lewat?" tanya Fatma memastikan. "Saya lihat kamu bagikan sesuatu sama mereka." "Enggak ... Anya cuma ngobrol aja tadi." "Jangan bohong Anya. Kamu bagikan makanan?" tanya wanita itu. "Enggak Tante." "Kenapa kamu merubah panggilan ke saya?" Tatapan itu semakin dalam. "Kita duduk di sana Tante. Di sini panas, kasian Irsyad." [] [] [] Sekarang Vanya dan Fatma sedang duduk di sebuah cafe terbuka. Bayi mungil itu sudah berpindah tempat, Vanya lah yang menggendong dirinya. "Tante kenapa bawa Irsyad kerja?" "Gara-gara kamu. Kenapa kamu tidak pernah menjawab telepon dari saya lagi?" "Emmm ... Anya sibuk Tante." "Kamu sudah dapat pekerjaan yang layak ya makanya kamu meninggalkan kami?" "Bukan ... Anya belum dapat kerjaan, tapi memang lagi sibuk aja." "Kamu nggak kasian sama Irsyad? Dia udah nyaman sama kamu. Saya nggak mungkin cari babysitter lain." Vanya menatap wajah bayi itu, sesekali dia mencoba untuk membuat Irsyad tersenyum, dan berhasil. "Kamu kasih apa sama mereka?" "Bukan apa-apa Tante." "Makanan?" "Dikit, nggak banyak kok." "Saya nggak salah menitipkan Irsyad sama kamu. Kamu berhati mulia sayang." "Mereka membutuhkan Anya, Tante. Selagi Anya ada rejeki, sebisa mungkin akan Anya bantu." "Coba aja Arsyad mau menikah. Pasti saya akan melamar kamu untuk Ayahnya Irsyad." Vanya Aqilla memberikan senyuman terpaksa. tas kejadian hari kemaren, ia sama sekali tidak tertarik untuk bersama laki-laki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN