Dengan bujukan dan rayuan manis dari Fatma, akhirnya Vanya pulang ke rumah bersama Irsyad. Sedangkan ibu Arsyad kembali melakukan pekerjaannya.
"Udah sampai."
Vanya membaringkan Irsyad ditempat mereka biasa. Dia mengganti pakaian bayi itu guna menghilangkan iritasi pada kulit Irsyad karena cuaca diluar tadi sangatlah panas membuat baju bayi itu sedikit berkeringat.
"Mari kita lihat apa yang ada di dapur." Vanya menggendong Irsyad.
"Temenin Kakak masak ya, mau ya sayang."
"Nanti kalau Oma pulang, dia tinggal makan lagi."
Vanya menuju dapur, sepertinya tidak ada yang bisa di masak. Untuk membeli barang-barang masakan juga tidak bisa. Karena ia hanya ditugaskan untuk merawat Irsyad saja.
Vanya kembali ke ruang tamu, matanya membulat melihat seorang pria yang mendongak keatas dengan beberapa kancing baju yang terbuka. Vanya deg-degan melihat pemandangan tersebut, hatinya tidak menentu saat melihat posisi Arsyad seperti itu.
"Vanya."
Gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Arsyad yang merasa memiliki rasa bersalah langsung menghampiri pengasuh bayinya.
"Anya, saya minta maaf atas kejadian hari itu." Kedua tangan Arsyad sudah berada di pundak Vanya.
"Lihat saya, Anya. Saya ingin menjelaskan kejadian kemarin."
"Kamu hanya salah paham."
"Lepas." Ucap Vanya.
"Lihat saya sebentar."
"Lepasin saya, Pak."
"Anya, saya mohon dengerin penjelasan saya dulu."
"Kalau Bapak nggak mau melepaskan saya. Saya akan teriak dan menuduh Bapak udah melecehkan saya. Biar Bapak malu!"
"Tidak apa-apa ... Teriak saja, supaya dengan tuduhan kamu itu saya bisa menikahi kamu."
"Maksud Bapak?" Vanya menatap aneh majikannya itu.
"Anya ... Saya bukannya tidak tertarik sama kamu. Tapi maksud saya-"
"Cukup! Lepasin atau saya pulang."
Arsyad Aliando langsung menghindar, ia tidak mau jika Irsyad harus beradaptasi dengan pengasuh bayi baru lagi. Lebih baik Vanya yang menjadi babysitter bayi mungil itu, dari pada harus memasukkan orang baru lagi kedalam hidup Irsyad.
"Anya."
"Apalagi?" tanya Vanya tanpa menoleh kebelakang.
"Saya lapar ... Bisakah kamu memasakan sesuatu untuk saya?"
"Tadi saya mau masak, tapi bahan-bahan dapur nggak ada."
"Baiklah."
Arsyad pun berlalu dari hadapan gadis itu. Sementara Vanya Aqilla kembali fokus untuk menjaga Irsyad. Dia sama sekali tidak penasaran kemana perginya sang majikan.
[] [] []
Beberapa menit sudah berlalu, Vanya berhasil menidurkan Irsyad. Dia sangat pintar merawat bayi padahal belum pernah sama sekali.
"Anya."
Perlahan gadis itu memutar bola mata malas, lagi-lagi suara pria itu sangat mengganggu ketenangannya.
"Anya ... Saya lapar." Lirih Arsyad.
"Saya 'kan udah bilang, Pak. Bahan masakan nggak ada ... Lagian ngapain Bapak minta makan sama saya. Saya 'kan orang lain, dan kerja saya disini jagain Irsyad."
"Saya udah beli bahannya."
Vanya langsung menoleh kearah belakang, ia melihat seorang pria sedang berdiri menatapnya.
"Tadi saya ke pasar. Saya mau kamu memasakan makanan untuk saya."
Vanya kembali menoleh kearah Irsyad. "Demi apa ... Laki-laki sekeren dia ke pasar. Serius?" batin Vanya.
"Gimana?" tanyanya.
Vanya pun beranjak dari tempat duduknya, ia langsung meminta bahan-bahan itu.
"Biar saya yang bawa ke dapur."
"Nggak apa-apa, saya aja ... Bapak 'kan lapar, Bapak istirahat di kamar."
Arsyad mengabaikan ucapan Vanya, ia tetap kekeuh untuk membawa bahan-bahan masakan itu masuk ke dalam dapur.
"Selamat memasak babysitter cantik."
Vanya membulatkan matanya. Sebelum Arsyad pergi dari sana, pria itu malah mencolek hidungnya. Hal itu membuat Vanya merasa disayang hingga melupakan amarahnya kepada Arsyad.
Hanya beberapa menit saja, di saat Vanya sedang memasak, Arsyad kembali ke dapur untuk memantau gadis itu.
"Bapak ngapain sih?"
"Saya mau lihat kamu masak."
"Enggak perlu, Pak. Nggak ada manfaatnya juga."
"Ada kok."
"Apa?" tanya Vanya tanpa menoleh kearah lelaki itu.
"Hati saya tenang udah melihat kamu lagi untuk menjaga anak saya." Ucapnya dan semakin mendekati gadis itu.
"Bapak harusnya tau dong. Nanti kalau tiba-tiba ada yang datang seperti hari itu, malah terjadi salah paham lagi."
"Tidak akan."
"Bapak ngomongnya santai banget."
"Kamu takut ada yang datang atau salah tingkah melihat saya?" tanya Arsyad.
Vanya sama sekali tidak menjawab, ia merinding ketika pria itu malah meniup tengkuknya.
"Hmmm ... Ba-Bapak tunggu di sana aja. Na-nanti saya nggak fokus masak."
Arsyad pun membalikkan tubuh perempuan itu. Dia menyelipkan beberapa helai rambut Vanya dibelakang telinga.
"Saya bukannya nggak tertarik sama kamu, sampai saat ini saya masih normal Anya ... Maksud saya adalah saya belum kepikiran untuk menikah lagi karena yang saya pikirkan adalah anak saya," ungkap Arsyad.
"Saya harus memastikan orang yang akan saya nikahi adalah yang bisa sayang sama anak saya, bukan hanya sayang kepada saya. Jelas sekarang?"
"Ta-tapi kalian membicarakan tubuh saya, Pak."
"Coba kamu ingat lagi ... Apakah saya yang membicarakan hal itu atau Yoga, Dokter gila itu?"
"Ma-maaf ... Saya terlalu emosi sampai nggak bisa bedain semuanya, Pak. Saya juga salah karena nggak mau mendengarkan penjelasan Bapak."
"Nggak apa-apa. Saya mengerti dengan hati kamu," ucap Arsyad. "Lalu bagaimana?"
Vanya pun menaikkan kedua alis matanya.
"Masih marah sama saya?" tanya lelaki itu.
Vanya menggelengkan kepalanya.
"Jadi?" Arsyad menaikkan sebelah alis matanya. "Kecupan itu ... Biasa saja atau ada rasa yang berbeda dari kamu?"
"Biasa aja," jawab spontan Vanya Aqilla. Karena dia memang tidak tertarik dengan Arsyad. Hanya saja pesona pria itu benar-benar memabukkan untuknya.
"Tidak mau mengulanginya?" tanya Arsyad.
"Ha!"
"Koneksi kamu terlalu lama."
Cup!
Vanya kembali mengecup kening gadis itu, bahkan durasinya sedikit lama dari hari kemarin. Beberapa detik kemudian kecupan pun terlepas. Namun Arsyad malah menarik pinggang wanita itu agar membuat tubuh mereka berdua berdekatan, hingga dagu Vanya bersentuhan langsung dengan d**a pria itu.
"Kamu itu polos atau pura-pura polos?"
"Sa-saya nggak tau maksud dari perkataan Bapak."
"Hanya dengan kecupan aja kamu bisa gugup."
Vanya pun memalingkan wajahnya, ia tidak berani menatap pria itu.
Vanya pun mendorong tubuh pria itu. "Saya mau masak, Pak. Tolong jangan ganggu saya. Apalagi Bapak bilang tadi kalau Bapak lagi lapar."
"Masak yang enak ya. Saya paling suka melihat perempuan pintar memasak."
"Kenapa Bapak bisa suka sama perempuan seperti itu?"
"Ya ... Saya merasa, kalau saya di hargai dan dicintai. Karena itu saya selalu bangga kepada wanita yang bisa menghormati pria."
Vanya pun kembali melanjutkan aktifitasnya. "Bapak tunggu aja sambil jagain Irsyad. Nanti kalau udah selesai saya akan bilang sama Bapak."
"Baiklah ... Tolong hidangkan di atas meja. Jangan bawa ke tempat Irsyad tidur. Nanti dia malah terganggu."
"Baik, Pak."