Satu bulan lamanya Vanya Aqilla sudah bekerja menjaga Irsyad. Gadis itu sedikit heran karena akhir-akhir ini perubahan pada Arsyad sangatlah beda. Laki-laki itu tidak pernah menyapa dirinya lagi. Bahkan ketika Arsyad pulang, dia tidak pernah dihampiri.
Selama satu bulan bekerja, Vanya mulai merasakan kenyamanan pada majikannya itu. Terlebih lagi perlakuan pria itu yang bisa dibilang romantis.
"Apa dia udah punya pacar?"
"Tapi kenapa kemaren-kemaren dia kecup keningku."
"Kamu sih Anya, terlalu murah. Mudah banget terbawa perasaan."
"Dikasih kebaikan dikit sama laki-laki malah luluh."
"Anya."
Wanita itu menoleh ke arah panggilan suara.
"Bapak ... Ada perlu sesuatu?"
"Saya tidak pernah menganggap kamu wanita murahan."
Vanya mulai salah tingkah, ternyata pria itu telah mendengarkan ucapannya tadi.
"Saya lagi banyak pekerjaan, ada masalah di kantor. Karena itu sepulang dari kerja, saya langsung ke kamar." Ucapnya. "Saya capek." Lirih Vanya.
"Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud—"
"Saya juga minta maaf sama kamu karena saya selalu menyentuh kamu tanpa seizin."
Vanya menundukkan kepalanya, dia takut melihat ekspresi serius dari pria itu. Perlahan Arsyad jongkok di depan wanita itu.
"Saya benar-benar minta maaf. Mungkin kelakuan saya sudah membuat kamu merasa rendah," ucap pria itu. "Tapi jujur, saya tidak bermaksud merendahkan kamu."
Arsyad mengangkat dagu wanita itu. "Saya suka melihat cara kamu merawat anak saya. Tapi saya tidak cinta sama kamu." ucap Arsyad lagi. "Kalau kamu mau, saya izinkan kamu untuk mengambil hati saya."
Kemudian lelaki itu berdiri dan membelakangi Vanya Aqilla. "Saya lapar. Siapkan makanan dan bawa ke kamar saya."
"Baik, Pak."
Mendengar penuturan dari ucapan pria tadi. Rasa percaya diri Arsyad bertambah, sepertinya dia mulai menaruh perasaan terhadap pria itu. Gadis itu tersenyum simpul, ia bersemangat untuk memasakkan makanan kepada Arsyad.
[] [] []
Beberapa menit sudah berlalu, akhirnya masakan Vanya sudah selesai. Dia menyiapkan mie goreng untuk pria itu. Ditambah dengan minuman manis dingin segar membuat pedas dari rasa mie akan hilang.
Sepertinya Vanya memang dipersilahkan masuk ke dalam kamar itu. Dikarenakan pintu kamar Arsyad sudah terbuka lebar.
"Bapak mana ya?"
Seorang pria keluar dari dalam kamar mandi. Dengan rambut yang masih basah, pria itu hanya mengenakan handuk saja yang melingkar di pinggangnya.
"Makanannya sudah siap, Pak ... Tapi bukan nasi, mie goreng."
"Tidak apa-apa, yang penting lapar saya hilang."
Arsyad beralih mendekati lemari, pria itu sedang mengambil pakaiannya. Vanya pun segera berbalik badan saat pria itu akan membuka handuknya.
"Anya."
"Iya, Pak."
"Kenapa kamu balik badan?" tanyanya sambil menatap Vanya Aqilla.
"Nggak mungkin juga saya lihat, Pak."
"Saya udah selesai." Ucapnya dan menghampiri gadis itu.
Arsyad mengambil nampan yang berisi makanan itu. Lalu dia meletakkannya di atas kasur.
"Saya permisi."
"Tunggu."
"Bapak perlu sesuatu?" tanya gadis itu.
"Temani saya makan. Boleh?"
"Berduaan di kamar ini?" tanya Vanya.
"Kenapa? Kamu takut saya macam-macam ?"
"Bu-bukan, Pak ... Saya menghormati almarhumah Bu, Rina. Saya orang lain, tidak berhak berada di kamar ini."
"Jangan sayang ... Kita tamu di sini, nggak boleh lebih-lebih." Tanpa sadar Arsyad tersenyum sambil mengingat istrinya. "Kenapa sikap gadis ini sama seperti almarhum istriku?"
"Apa sudah waktunya aku harus menikah lagi? Tapi aku mencintai istriku." Arsyad berkata-kata di dalam dirinya.
"Tapi kamu sudah masuk di sini."
"Saya tidak akan mau berduaan di sini. Kalau Bapak mau, berikan saya hubungan yang jelas." Vanya sedang mencoba untuk memberikan sinyal-sinyal asmara kepada pria itu.
"Tapi Rani sering duduk di sini. Saya juga tidak masalah, apalagi kamu pengasuh Irsyad."
"Rani 'kan memang naksir sama Bapak. Makanya dia gitu," batinnya. "Saya permisi, Pak."
[] [] []
Vanya sedang duduk menjaga Irsyad. Tidak pernah ia mengeluh ketika harus merawat bayi itu. Bahkan Vanya sampai kepikiran ingin sekali menikah. Karena baginya merawat anak adalah momen yang paling indah.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
"Hai, Anya."
"Hai," balas Vanya.
Lagi-lagi Rani datang ke rumah itu, sungguh hal tersebut membuat suasana hati Vanya kesal. Selama satu bulan lamanya dia bekerja, dia sudah mengetahui bagaimana sikap Rani yang mencoba mendekati Arsyad.
Vanya juga sadar, kedatangan Rani di rumah itu bukan untuk Irsyad melainkan ingin bersama dan melihat Arsyad.
"Ayah Irsyad udah pulang?"
"Udah."
"Dimana dia?"
"Ada di kamarnya."
"Ngapain, lagi tidur?" tanya Rani.
"Terakhir tadi lagi makan."
Sesekali Rani menggenggam bayi itu, ia memperlihatkan kepeduliannya kepada Irsyad.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
"Rani. Kamu nggak mengajar?"
"Ngajar Tante. Tapi ini lagi istirahat, bentar lagi pulang kok."
"Oh ..."
Fatma menggendong Irsyad. "Cucu Oma ngapain? Seneng ya main sama Kak, Anya."
"Tante."
"Iya ..."
"Kok Kakak sih, dia 'kan cuma pengasuh bayi," ucap Rani tiba-tiba.
"Nggak apa-apa. Anya 'kan masih muda, biarin aja lah."
Rani mengangguk perlahan, ia mulai menaruh rasa curiga kepada gadis itu. Dia takut jika Vanya akan merebut Arsyad darinya.
"Udah jam segini, Rani pamit ya Tante."
"Iya ... Hati-hati di jalan."
"Irsyad ... Mama pamit dulu."
"Bibi, Rani. Bukan Mama," ucap Fatma.
Vanya menyembunyikan senyumnya ketika wanita itu ditegur oleh Fatma. Ingin rasanya dia menertawakan wanita berpakaian modis itu.
"Kan Rani mirip sama Mamanya."
"Iya ... Tapi bukan kamu yang melahirkan Irsyad."
"Okelah Tante. Rani kerja dulu ya."
"Iya."
Rani berlalu pergi, mungkin untuk mendekati Arsyad memang sulit. Tapi lebih sulit lagi untuk mendekati Fatma. Dia pun selalu kesal karena wanita itu tidak membiarkan dirinya jika Irsyad memanggil ibu.
"Anya ..."
"Iya, Mami.
"Rani suka sama Arsyad, tapi saya nggak setuju ... Masak iya Arsyad harus menikah dengan kembaran almarhumah istrinya."
"Kalau jodoh kenapa enggak."
"Pokoknya saya nggak setuju, Rani tetap orang lain menurut saya ... Dari pada sama Rani, saya lebih rela Arsyad nikah sama kamu walaupun kita baru ketemu."
Vanya tersenyum simpul, dalam hatinya dia berdoa supaya ucapan wanita itu terkabul.
"Arsyad mana?"
"Di kamar, tadi dia lagi makan."
"Anya!!!"
"Mampus," batin Vanya ketika Fatma memandangnya.
"Kenapa Arsyad teriak?" tanya Fatma.
"Anya nggak tau, Mi."
"An, eh Mami ... Udah pulang, Mi?"
"Ngapain kamu teriak-teriak?" tanya Fatma. "Nggak baik gitu sama anak gadis orang."
"Iya, Mi."
"Atau jangan-jangan kamu—"
"Apa?" tanya Arsyad.
"Kamu sering ngerjain Anya kalau Mami nggak ada?"
"Enggak, Mi. Bapak baik kok, dia nggak pernah macam-macam sama Anya."
"Kamu jangan takut. Saya yang memberikan gaji kepada kamu. Jadi tidak ada yang berhak macam-macam sama kamu termasuk Ayahnya Irsyad."
"Mami nggak usah khawatir, anak Mami baik sama Anya."
"Ya sudah ... Saya mau ke kamar dulu, mau mandi."
Vanya menepuk jidatnya ketika Fatma berlalu pergi. Dia pun menghampiri Arsyad yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya tadi.
"Bapak mau apa? Kenapa teriak?"
"Saya mau minum, yang tadi kurang."
"Tapi nggak usah teriak-teriak gitu. Mami 'kan jadi mikir yang enggak-enggak sama Bapak."
Cup!
"Kamu bawel," ujar Arsyad. "Cepat ambilkan minuman saya."
Vanya salah tingkah mendapatkan perlakuan itu dari majikannya. Dia segera berlari kecil agar bisa menormalkan detak jantungnya.
[] [] []
Sore hari Arsyad keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat seorang wanita sedang memperhatikan sebuah motor di halaman rumahnya. Karena penasaran, Arsyad pun menghampiri Vanya.
"Anya."
"Iya, Pak."
"Kamu ngapain?"
"Ini, Pak. Kayaknya motor saya bermasalah, nggak mau hidup."
"Kamu kesini bawa motor?" tanya Arsyad.
"Iya," jawab Vanya.
Lelaki itu mengusap kasar wajahnya. Bagaimana bisa ia lalai dengan keselamatan bawahnya. Arsyad tidak pernah melakukan hal tersebut, baik di kantor dia selalu memperhatikan karyawan. Apalagi gadis yang sedang bekerja untuk menjaga anaknya.
"Kamu nggak punya mobil?"
"Punya, Pak."
"Terus kenapa nggak pakai mobil ke sini?"
Vanya mendorong pelan bahu pria itu. "Bapak lucu, ihhh ... Ini kota, Pak. Apalagi pagi-pagi udah pasti macet. Hehehe ..."
"Anya." Tatapan Arsyad begitu serius. "Saya sedang tidak bercanda."
"Kalau mau langsung diseriusin aja bisa kok."
Kalimat itu membuat Vanya dan Arsyad berpaling, seorang wanita paruh baya sedang menggendong anak kecil.
"Khawatir banget sama Anya," ucap Fatma.
"Gimana nggak khawatir, Mi ... Dia kesini naik motor. Pulang jam segini, udah pasti kalau malam masih dijalan."
"Nggak apa-apa, Pak. Saya udah biasa kok."
"Saya nggak mau tau besok kamu kesini harus pakai mobil."
"Nanti saya telat. Sedangkan Bapak sama Mami harus cepat pergi."
"Bisa dengerin saya nggak?"
"Enggak ... Kan ini urusan saya, Pak."
"Kamu melawan sama saya?" tanya Arsyad.
"Eh, siapa yang ngelawan. Kan saya ngomongnya baik-baik."
Lagi-lagi Arsyad menghembuskan napasnya dengan kasar. "Kamu mau saya nikahin biar nggak bisa melawan?"
Fatma membulatkan matanya, ia tersenyum mendengar ucapan pria itu. Sedangkan bagi Vanya itu hal biasa.
"Mami ... Anya nitip motor di sini ya, nggak bisa hidup."
"Terus kamu pulang naik apa?"
"Ojek."
"Anya!!! Kamu jangan main-main sama saya. Kalau kamu kerja sama saya, kamu harus turutin perkataan saya."
"Apa salahnya naik ojek, Pak."
Arsyad menggenggam erat lengan wanita itu. "Mi, aku anterin Anya dulu ya. Mami nggak usah masak, nanti Arsyad beli makanan."
"Eh, eh. Mau kemana?" tanya Vanya.
"Ikut!"
"Mami—"
"Ikut aja."
[] [] []
Akhirnya Vanya mengikuti langkah pria itu. Perjalanan dimulai dari rumah Arsyad menuju rumah Vanya. Wanita itu masih bingung dengan sikap pria yang ada di sampingnya sekarang.
Merasa gerah karena tidak ada obrolan apapun, Vanya memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan pria itu.
"Pak."
Hanya sekilas saja pria itu menatapnya, kemudian Arsyad kembali fokus menyetir mobil.
"Apa salahnya sih saya naik ojek, 'kan lebih cepet."
"Nggak boleh. Saya tidak mengizinkan."
"Alasannya?"
"Ojek itu terbuka. Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa."
"Itu bukan alasan, Pak."
Sekilas Vanya melihat jika Arsyad menggelengkan kepala.
"Nanti malam motor saya diambil sama orang bengkel ya. Biar besok saya bisa naik motor."
"Jangan naik motor Anya."
"Bapak nggak lihat ya? Kalau naik mobil pasti jalanan macet."
Brak!
Vanya kaget ketika setir mobil dipukul oleh pria itu. Benda yang sedang membawa mereka tersebut juga sudah berhenti di tepi jalanan.
"Sa-saya sudah bilang, jangan naik motor ... Apalagi harus naik ojek."
"Tapi—"
"Anya !Tolong dengerin ucapan saya."
"Ke-kenapa Bapak jadi kasar?"
"Sa-saya mohon jangan naik ojek." Mata pria itu berkaca-kaca membuat Vanya kebingungan.
"Bapak kenapa?"
"Ikuti perintah saya. Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa."
"Ya 'kan cuma naik ojek."
"Kamu denger saya tidak? Saya sudah bilang jangan naik ojek!"
"Bapak nangis?" tanya Vanya ketika air mata pria itu menetes dalam keadaan marah.
"Bisa dengerin saya?"
"Bapak kenapa nangis? Masak cuma perkara gitu aja sampai nangis."
"Saya mohon Anya ..."
Pria itu memohon kepada Vanya membuat wanita tersebut semakin kebingungan.
"Lho, apaan sih kok malah kayak gini." Vanya mencoba melepaskan kedua telapak tangan Arsyad yang sedang menyatu.
"Saya mohon."
"Iya-iya ... Saya nggak akan naik ojek."
"Terima kasih ..."
Vanya mengusap air mata pria itu. "Terus ngapain Bapak nangis?"
"Lupakan. Itu tidak penting."