Saidon, Alula dan juga Puca merasa tubuh mereka sangat bugar setelah bangun tidur.
"Akan lebih segar lagi jika di sekitar sini ada sungai untuk mandi," ucap Saidon.
"Bagaimana kalau aku tanyakan ke Monyet Tua dulu. Siapa tahu ada sungai di sekitar sini," jawab Puca bersemangat.
"Eh ikut, biar kita semua sekali jalan saja," timpal Alula.
Puca berjalan paling depan, membawa Saidon dan Alula ke sebuah pohon yang sangat tinggi sendiri dibanding yang lainnya.
Di sana ada sekelompok monyet yang memiliki kehidupan rukun dan sejahtera.
"Hay Monyet Tua, aku datang kemari beserta dua temanku," sapa Puca tersenyum riang.
Para monyet kebingungan, sebab di samping Puca hanya ada satu orang saja yaitu Saidon. Seketika Puca menyadari kebingungan mereka.
"Eh maksud aku satu, he… he…" sela Puca meralatnya.
"Oh… Mari silahkan masuk. Di dalam ada banyak hidangan buah yang aman untuk dimakan," jawab Monyet Tua yang merupakan ketua para Monyet di sana.
Puca tidak menyia-nyiakan kesempatan itu karena setelah tidur panjang merasa sangat lapar.
"Oh iya, temanku yang satu ini namanya Saidon. Kami kemari berniat menanyakan apakah ada sungai untuk mandi?" tanya Puca.
Ketua Monyet menatap kedua bola mata Saidon seolah tengah melihat sesuatu.
"Nak, usiamu sangat muda. Dan sepertinya kamu juga bukan dari dunia ini. Aku bisa melihat jika dimasa depan kamu akan bertarung melawan saudaramu sendiri, tapi aku sarankan jangan pernah memberikan mereka ampun. Karena jika itu terjadi justru akan menghancurkan dirimu sendiri," kata Monyet Tua serius.
Saidon terkejut, jika memang apa yang dikatakan oleh Monyet Tua barusan terjadi berarti dia akan memiliki kesempatan untuk kembali ke dunianya lagi. Kemudian Saidon melihat ke arah Alula dan Puca, ada perasaan sedih berpisah dengan mereka. Terus mengenai nasihat yang jangan memberi ampunan juga sangat mengganggu pikirannya.
"Kenapa hatiku masih menginginkan jika Frons bersikap baik sama seperti ketika aku terjebak di alam mimpi," batin Saidon.
"Kamu memang pemuda yang baik, tapi kamu juga tidak boleh bodoh dan harus bisa membedakan kebaikan dan kebodohan," saran Monyet Tua tertawa renyah.
Saidon hanya mengangguk patuh, Monyet Tua di depannya itu memiliki ukuran tubuh yang kecil. Akan tetapi semua monyet yang berukuran lebih besar pada tunduk. Saidon yakin jika Monyet Tua itu bukanlah monyet sembarangan.
"Mumpung masih siang, jika kalian ingin mandi segeralah. Di balik pohon ada sebuah gua yang menuju ke sumber mata air. Ingat, kalian tidak boleh berlama-lama. Karena jika menjelang sore para pemilik dari tempat itu akan kembali," saran Monyet Tua serius.
"Pemilik tempat? Siapa?" tanya Saidon penasaran.
"Putri duyung, jika siang mereka semua akan menjadi manusia dan bermain-main keluar. Akan tetapi jika sudah senja mereka akan kembali dan berubah lagi menjadi duyung. Mereka mengizinkan jika ada yang ingin mandi di sana selagi mereka tidak ada. Akan tetapi kila ada yang berani mengganggu ketika mereka tidur maka akibatnya sangat fatal," balas Monyet Tua memperingatkan.
Saidon cukup ngeri juga, tapi dia juga harus segera mandi karena tidak tahan dengan baunya sendiri.
"Saidon ayo kita jangan buang waktu lagi," sela Alula.
"Baiklah," jawab Saidon.
Mereka bertiga segera berpamitan dengan Monyet Tua, kemudian kelompok monyet yang berjumlah banyak itu mulai meloncat dan naik ke atas pohon yang sangat tinggi. Setelah diperhatikan dengan seksama ternyata di atas sana ada semacam rumah pohon berukuran dua kali tiga meter. Dan setiap rumah dihuni oleh satu keluarga. Saidon salut juga sebab kehidupan para monyet sudah seperti manusia yang bermasyarakat dan saling gotong royong. Terbukti dengan adanya satu rumah pohon yang paling besar dan itu merupakan tempat untuk penyimpanan makanan.
"Aku iri sekali dengan mereka, jika saja keluargaku bisa sedamai ini," batin Saidon.
Setelah itu Saidon segera menyusul Puca dan Alula yang sudah berjalan duluan. Ternyata di balik pohon yang kira - kira memiliki diameter lima belas meter itu ada sebuah terowongan. Begitu masuk ada tangga yang menuju ke bawah, dan anehnya tidak gelap sebab di bagian sisi langit - langit gua ada jamur yang bercahaya. Saidon tidak habis habis pikir bisa menemukan banyak hal yang tidak pernah ditemuinya di dunianya sendiri. Jika kelak dia bercerita pada keluarganya mereka pasti juga tidak akan mempercayainya.
Setelah keluar dari gua, ternyata mereka berada di sebuah air terjun dan bisa melihat langit biru yang begitu cerah. Airnya juga begitu jernih dan banyak bunga yang memiliki aroma wangi.
" Ya ampun, ternyata di sini juga ada tempat seindah ini. Aku ingin berendam dan memetik bunga itu," teriak Alula senang.
Alula dan Puca langsung saja meloncat ke air, Saidon merasa malu sendiri melihat tubuh Alula yang terlihat sangat indah. Tanpa sadar Saidon mimisan.
Alula langsung berlari keluar tanpa menghiraukan bajunya, sedangkan Saidon semakin panik dan panas dingin.
"Hidungmu berdarah, apa kamu sakit?" tanya Alula cemas.
"Kenapa kamu kemari dan tanpa busana? Astaga… Bukannya aku sudah bilang kalau kamu tidak boleh telanjang di depan aku?" teriak Saidon sambil menyumpal hidungnya yang tidak mau berhenti meneteskan darah.
"Hey, kalian jangan berantem terus. Kita tidak punya banyak waktu di sini," teriak Puca yang tengah asyik berenang ke sana kemari mengejar kupu-kupu.
Saidon jadi ingat nasihat Monyet Tua tadi, diapun segera berlari meloncat ke dalam air dan menjauh dari kedua temannya.
Saidon merasa segar, diapun tanpa sengaja melihat ada bunga yamg tumbuh di dasar air. Karena penasaran diapun menyelam dan memetik beberapa.
"Wangi sekali," gumam Saidon.
Karena tidak memiliki sabun, Saidon menggunakan cara yang digunakan oleh Alula. Yaitu membersihkan diri dengan bunga.
Saidon merasa tubuhnya semakin nyaman dan enak, efek bunga tadi seperti aroma terapi yang seakan memijit tubuhnya dari kelelahan.
Tiba-tiba saja Alula datang dan memeluknya dari belakang.
"Saidon, tubuhmu harum sekali. Kamu memakai bunga apa?" tanya Alula tak mau melepaskan pelukannya.
Saidon merasakan dua buah benda yang padat dan kenyal menempel pada punggungnya, seketika Saidon meronta agar Alula mau pergi. Bagaimanapun juga dia adalah lelaki normal. Dan hal itu terasa menyiksa ketika dia harus menahan hasrat yang kian memuncak.
Tak lama kemudian Monyet Tua datang.
"Hey, cepat kalian pergi dari sini. Para duyung sudah mulai masuk ke hutan ini," teriak Monyet Tua.
Saidon bergegas memakai pakaiannya lagi, tetapi Alula masih saja menempel padanya.
"Astaga… Kamu memakai bunga pemikat milik Ratu? Cepatlah pergi, nanti jika ada yang pertama kali mencium aroma tubuhmu dia akan terus melengket seharian padamu. Akan lebih baik jika Puca saja, kan kalian satu perjalanan. Kalau yang mencium orang lain maka gawat," tegur Monyet Tua sedikit panik.
Monyet itu menyuruh Puca untuk menghirup tubuh Saidon, tapi tidak merasakan apapun.
"Wah, kenapa tidak berfungsi? Atau jangan-jangan aku yang sudah terkena bunga pemikat itu? Astaga… Aku tidak mau menempel padamu seharian. Cepatlah kalian pergi sekarang, di bawah pohon sudah aku siapkan bekal makanan sampai kalian bisa keluar dari wilayah ini," teriak Monyet Tua sambil berlari dan menyumbat hidungnya.
Kini Saidon tahu, kenapa Alula terus menempel padanya.
"Astaga… Apa dia akan begini seharian?" keluh Saidon.
"Saidon ayo kita pergi," ajak Puca.
"Iya," jawab Saidon.
"Alula, cepat pakai pakaianmu itu!" teriak Saidon.
Alula melepaskan rangkulannya dan memakai pakaiannya, setelah itu bergelayut manja lagi ke lengan Saidon.
"Gua ini tidak muat untuk jalan dua orang," protes Saidon pada Alula.
"Saidon, Alula sedang tidak sadar. Sebaiknya kamu gendong saja dua dan kita harus segera keluar dari mata air ini," sela Puca.
Mau tak mau Saidon menggendong Alula di punggungnya, setelah bersusah payah mereka sampai juga di balik pohon besar. Di sana ada beberapa macam buah yang tadi disiapkan oleh Monyet Tua, akan tetapi Monyet tua sudah tidak ada lagi.
"Monyet Tua, terima kasih banyak. Kami mau permisi dulu," teriak Saidon dan Puca bersamaan.
Kemudian Pohon sedikit bergoyang, daun - daun kecil yang berwarna hijau mulai berjatuhan. Sangat indah sekali, seperti hujan daun.
"Puca, bisakah kamu berubah jadi besar? Aku tidak sanggup jika menggendong Alula terus," keluh Puca.
"Bagaimana kalau kamu juga ikut naik sekalian, nanti setelah Alula sadar gantian aku yang naik ke ranselmu?" tawar Puca.
"Wah, kamu sudah mulai pandai bernegoisasi. Tapi itu ide yang bagus," jawab Saidon langsung setuju.
Puca segera berubah menjadi yang paling besar. Saidon kaget karena baru kali ini melihatnya.
"Wah, kamu bisa sebesar ini?" pekik Saidon.
"Iya, karena aku butuh kekuatan besar untuk mengangkut kalian berdua beserta bekal buah itu," jawab Puca.
Setelah itu Puca terbang tinggi mendekati pohon, para monyet takjub dan saling melambaikan tangan melepas kepergian mereka bertiga.
Saidon senang, ternyata di dunia aneh ini juga masih ada orang yang baik.
"Aku heran, kenapa orang asing ini begitu baik. Sedangkan Frons yang merupakan keluargaku sendiri malah berniat buruk padaku. Andai saja Frons tidak jahat, mungkin aku rela melepaskan pangkat sebagai pemimpin Mafia. Karena aku sama sekali tidak berminat akan hal itu. Tetapi karena dia selalu takut dan merasa aku akan merebutnya dia pasti akan merencanakan seribu cara membunuh aku dan ibuku," batin Saidon pilu.
"Saidon… Berpeganglah erat, aku ingin terbang lebih tinggi lagi," teriak Puca riang.
Saidon ikut tertawa, dia bisa melupakan kesedihannya. Terbang tinggi seperti ini ternyata sangat menyenangkan.