Segelas Teh Hangat

1170 Kata
Qenna berdiri, setelah memindahkan sampah yang ada di ruangan direktur ke plastik sampah besar di tangannya. Berdiri sejenak dengan tangan menekan meja kerja sang direktur. Matanya mengerjap untuk menghilangkan kunang-kunang di matanya. Qenna merasa tubuhnya meremang, rasa pusing terus menghinggapi kepala Qenna. Beberapa kali Qenna menggigit bibir bawahnya. Menahan yang di rasa atas kesehatan tubuhnya yang kurang sehat itu. Menyadari bahwa sebentar lagi direktur perusahaan tiba, Qenna mengayunkan langkah kakinya perlahan keluar dari ruangan atasannya tersebut. Sesampainya di luar ruangan sang direktur, Qenna memegangi kepalanya, tersandar di pintu. Dari kejauhan Hans telah tiba di kantor. Langkah pria itu melangkah menuju ruangan kerjanya. Saat manik mata lelaki itu menelusuri seluruh ruangan yang hanya ada dia seorang, ekor mata pria itu mendapati Qenna yang tengah tersandar. Raut wajahnya pucar pasi, matanya terpejam serta alis yang berkerut penuh dalam menahan rasa pusing, serta mual di perutnya. Sorotan mata Hans tiba-tiba menatap serius pada Qenna yang ia lihat itu. Ada yang tidak beres dari pengamatan manik matanya."Ada apa dengan dia? Wah, ada yang tidak beres ini." Hans buru-buru menghampiri Qenna yang mulai merosot ke lantai. "Hai, hai ..." Hans memegangi bahu Qenna."Kamu kenapa?" Lelaki itu memegangi dahi Qenna. Tidak ada rasa panas pun yang terasa oleh Hans. Tetapi wajah perempuan cleaning servis itu terlihat pucat, tidak teralirkan darah. Tangan Qenna masih memegangi sampah serta alat perkakasnya yang telah terjatuh kelantai. Perlahan Qenna berusaha memisahkan kelopak matanya. Melirik Hans dengan alis yang menyeringit."Tolong saya, Pak." Ucapnya. "Mari, saya bantu duduk di sana," ucap Hans, ia ikut cemas melihat keadaan Qenna. Lelaki itu mengemasi alat perkakas Qenna, dan menaruh lebih dulu plastik sampah di sebelah pintu direktur. Hans membantu Qenna berdiri, lalu menuntunnya menuju kursi. "Hoeekkk ... hoeekkk ...." Rasa mual itu akhirnya sampai mengeluarkan suara yang membuat Hans sedikit menarik tubuhnya. Ia melihat Qenna dengan tatapan tidak sopan. Qenna tahu itu tidak benar, namun sekuat apa ia menahan agar tidak mengeluarkan suara muntahan itu, suara itu keluar dengan spontan dari kerongkongannya. Bukan tanpa alasan juga Qenna mengeluarkan suara muntahan itu. Parfum Hans yang terhidu jelas di hidung Qenna menambah gejolak gemuruh di dalam perut Qenna. Berhasil mengaduk-ngaduk perutnya. Baunya sangat busuk, melebihi bau sampah. Itu sebabnya, perempuan itu tidak kuat menahannya lagi. "Maaf Pak, saya sudah tidak sopan," ujar Qenna, seraya mendarat duduk di kursi. Hans memang tidak menyukai sikap Qenna yang mengeluarkan muntahan tadi, tetapi ia tahu bahwa kondisi kesehatan perempuan itu dalam tidak baik-baik saja. Terlihat dari wajah yang sangat pucat, dan kelopak matanya yang layu. "Ya sudah tidak apa. Tunggu di sini sebentar. Saya ambilkan teh hangat untukmu," titah Hans pada Qenna, perempuan itu mengangguk menuruti ucapan lelaki yang Qenna tidak tahu siapa namanya itu. Saat Hans pergi meninggalkan Qenna di sana, langkah kaki Sindy juga terhenti saat ia hendak keruangannya. Di bawah alis mengatup erat, manik mata Sindy mendapati Qenna dengan kepala tersandar ke dinding, dengan mata yang terpejam. Wajah pucat sahabatnya itu menjadi sorotan yang sangat penting. "Qenna!" serunya dari kejauhan, samar-sanar suara itu di dengar oleh Qenna. Hanya saja ia membiarkan begitu saja, saat rasa mual di perutnya mengambil alih dan menjadi hal yang terpenting saat ini. Sekali-kali Qenna mengeluarkan suara, bentuk respon dirinya dari rasa mual itu. Berusaha tidak mengeluarkan suara, Qenna mencoba membekap mulutnya. Langkah kaki Sindy tergesa-gesa menghampiri sahabatnya itu. Baru saja dua hari yang lalu Sindy mendatangi kediaman Qenna, sahabatnya itu terlihat baik-baik saja. Tetapi kini, wajah Qenna sangat terlihat berbeda dari pada sebelumnya. "Qen, kamu kenapa?" tanya Sindy memegangi bahu Qenna. Qenna menatap Sindy dengan sorotan mata lesu."Aku hanya sedikit pusing, Sin." "Kamu sudah berobat? Sudah ke dokter?" Tanya Sindy, khawatir. Tangan Sindy bergerak meraba dahi Qenna. Tidak ada terasa suhu tubuh yang panas dari sahabatnya itu. Namun, wajah Qenna sangat pucat, bibirnya sampai mengelupas. Qenna menggelengkan kepalanya."Belum, mungkin aku masuk angin Sindy. Kemaren sempat kehujanan. Cuaca belakangan ini tidak stabil. Nanti biar di kerok saja di rumah." "Kamu yakin hanya masuk angin? Bagaimana kalau kita ke dokter saja nanti? Biar di beri obat untuk di minum," titah Sindy, ia siap mengantarkan Qenna untuk memperiksakan dirinya ke rumah sakit. "Tidak usah, Sin. Nanti saja, aku mau coba di kerok dulu," tolak Qenna, ia rasa tubuhnya tidak harus berada di rumah sakit. Ia sangat yakin bahwa ini hanya efek dari cuaca yang tidak mendukung saat ini. "Izin saja dari pekerjaan, Qenna. Lebih baik kamu beristirahat di rumah. Wajahmu pucat sekali, Qen. Jangan terlalu di paksakan," saran Sindy, menyuruh Qenna untuk berada di rumah. Agar ia bisa dengan puas beristirahat. "Jangan khawatir, Sindy. Ini hanya pusing biasa. Nanti juga hilang," timpal Qenna. Lagi-lagi Qenna harus menahan diri dari parfum Sindy. Beruntung ini tidak terlaku menyengat terhidu olehnya. Meski begitu, tetap saja ia tidak nyaman dengan parfum sahabatnya itu. Qenna menyadari bahwa biasanya ia tidak memasakahkan parfum perempuan itu. Sekarang Qenna di buat tidak mengerti, kenapa bisa ia menghidu aroma-aroma aneh di hidungnya. Sindy tetap saja mencemaskan Qenna, meski perempuan itu mengatakan bahwa ia hanya masuk angin biasa, tetap saja itu telah membuat kesehatan sahabatnya itu terganggu. Tidak lama kemudian, Hans datang dengan segelas teh manis hangat di tangannya. Ia sendiri yang turun tangan membuat minuman hitam kemerahan itu. Perhatian dua perempuan itu tersita dengan ke datangan Hans. Meski perkenalan Qenna di kantor ini terbatas, dan ia tidak tahu sebagai apa pria yang menolongnya itu di kantor ini, namun tidak dengan Sindy. Ia tahu jabatan apa yang di sandang oleh Hans di kantor ini. Jabatan yang cukup di inginkan semua orang, lebih dengan direktur Armand itu. Sekretaris--Jabatan cukup terbaik, dan keberuntungan itu di dapat oleh Hans, selaku sekretaris Armand. Seperti saat ini, sang direktur sedang tidak ada di kantor. Ada perjalanan bisnis yang membuat Hans mengendalikan kantor sementara. Sampai pria itu kembali ke Indonesia. "Ini untukmu ..." Memberi secangkir minuman hangat itu pada Qenna."Ambillah! Semoga ini bisa membuat tubuh sedikit membaik." Titahnya. Sindy pun menyetujui itu, agar Qenna mau mengambil dan meneguk minuman tersebut. Sebab, lelaki itu tidak akan berniat buruk pada Qenna. Ia pun juga ada di sana, jika Hans berniat buruk pada Qenna. Tetapi, Sindy cukup percaya pada Hans. Bahwa lelaki yang ia kenal selama ini, tidak memiliki hati jahat. Qenna mengambil minuman itu dari Hans. Meneguk sedikit-sedikit minuman yang masih terdapat gumpalan asap tipis mengudara lepas. Tiupan demi tiupan terhembus dari Qenna untuk menghilangkan rasa panas ketika hendak di teguk. "Jika kondisimu tidak memungkinkan untuk masuk kerja hari ini atau selanjutnya, lebih baik kamu beristirahat di rumah. Dari pada memaksakan diri, sedangkan tubuhmu tidak menyeimbangi. Beristirahat di rumah, sampai kesehatanmu pulih kembali." Hans menggaruk dahinya."Tenang saja, tidak ada pemecatan terhadapmu." Qenna mengangguk. Ia menerima saran Hans. Namun, untuk saat ini ia akan tetap di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa masih bisa menyelesaikan pekerjaannya."Saya tidak apa-apa, Pak. Nanti saya akan beristirahat sebentar setelah menyelesaikan pekerjaan saya." "Ya sudah, terserah kamu saja. Habiskan minuman itu. Semoga setelah ini, kesehatanmu membaik," titah Hans, dan di angguki oleh Qenna. "Terima kasih, Pak, telah membuatkan saya minuman," ucap Qenna. Hans mengangguk kecil, lalu sorotan matanya teralih pada Sindy. Perempuan yang selama ini, diam-diam menepati mahligai hatinya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN