"Mau sarapan apa ya?"ucap Qenna sambil berpikir."Roti panggang selai kacang kayaknya enak."
Qenna menelan ludah yang lebih dulu terasa di tenggorokannya. Di dalam persediaannya di dalam lemari pendingin, perempuan itu mengingat roti dan selai kacang yang ia inginkan. Qenna keluar dari kamar mandi. Mengayunkan langkahnya menuju dapur.
Perempuan itu membuka lemari pendingin. Mengambil dua bahan yang ia butuhkan. Qenna menaruhnya di atas meja berdekatan dengan pemanggang roti. Selesai panggang roti dan mengoleskan selai kacang, Qenna menarik kursi untuk ia duduki.
Sarapan yang telah di hidangkan di hadapannya. Qenna mengambil roti bakar yang telah di oleskan dengan taburan selai kacang. Perempuan itu memandanginya sesaat. Lidahnya tampak bermain, dengan tidak sabar Qenna menggigit roti dengan lahapnya.
Qenna memejamkan matanya. Seakan baru pertama kalinya menikmati roti panggang. Kali ini sangat terasa enak di lidah. Merasa tidak cukup dengan satu roti, Qenna memanggang roti lagi. Bukan hanya satu roti yang di panggang, langsung dua roti.
Selesai makan sarapannya di pagi ini, Qenna merasakan perutnya di aduk-aduk. Rasa mual menjalar naik ke tenggorokannya. Ia bergegas lari ke kamar mandi. Lagi-lagi cairan tidak enak itu keluar dari mulutnya.
"Apa sebaiknya aku tidak masuk kerja? Ini masuk angin biasa, lebih baik aku buat teh tawar hangat. Sebelum berangkat kerja," ucap Qenna pelan.
Selesai bersiap-siap, Qenna meneguk segelas teh tawar hangat. Untuk meringankan mual di perutnya. Merasa sedikit enakan, Qenna berangkat kerja. Rasa mual ini sangat tidak nyaman bagi perempuan itu. Namun, berdiam diri di rumah lebih membuat tubuhnya semakin terasa sakit.
Sesampainya di kantor, Qenna mulai mengerjakan pekerjaannya. Menyapu setiap ruangan, mengelap meja karyawan. Mengumpulkan setiap sampah di meja dan memasukkan ke dalam tempat sampah. Mencuci piring dan gelas bekas makan para karyawan.
Di suasana yang masih sangat pagi itu, Qenna sudah melakukan pekerjaan seorang diri. Biasanya teman-teman yang lain akan datang pukul setengah delapan. Tetapi Qenna memilih datang lebih awal setiap harinya. Dengan rajin dia memulai melakukan pekerjaan. Dia hanya berharap akan terus bekerja di perusahaan itu. Untuk menyambung hidup dan dapat membayar kontrakan rumah.
Namun, hari ini tubuhnya tidak menyeimbangi. Saat ia cekatan dalam melaksanakan tugasnya, tubuhnya seakan meminta untuk beristirahat. Peluh keringat bercucuran. Qenna terpaksa menghentikan sejenak pekerjaannya. Memilih duduk untuk, dan menyeka keringat yang bercucuran. Biasanya sebanyak apapun pekerjaan yang ia lakukan tidak pernah dikit-dikit merasa capek.
Wajah perempuan itu juga terlihat pucat. Berdiri lama-lama matanya berkunang-kunang. Hari ini begitu lelah di rasakan Qenna.
"Qen, kamu kenapa?" tanya Citra--rekan kerjanya yang baru saja sampai."Kamu baik-baik saja, kan?"
Qenna menoleh dengan wajah pasinya. Memperbaiki duduk, perempuan itu mengangguk pelan."Aku baik-baik saja." Killahnya.
"Kamu yakin?" tanya Clara memastikan."Wajah kamu pucat, Qen. Maaf, aku baru datang. Lebih baik, kamu istirahat dulu gih!"
Citra mengambil alih perkakas Qenna. Melihat Qenna tidak seperti biasanya. Perempuan itu terlihat sangat lelah. Namun, Qenna menahan perkakas yang ada di tangannya itu. "Kamu tenang saja, Cit. Aku baik-baik saja, kok. Mungkin aku cuma kecapean."
"Hmmm ... kamu sudah sarapan? Kalau belum, aku ada bawa bekal tadi," Citra menawarkan bekal yang ia bawa. Nasi uduk, yang ia beli saat mau berangkat kerja.
Qenna menolak nasi uduk itu."Aku sudah sarapan tadi. Mungkin hanya sedikit masuk angin. Tapi, benaran aku tidak apa-apa."
Dia memang sudah sarapan di rumah. Sampai hari menghabiskan tiga roti panggang dan satu teh tawar. Entah mengapa, nasi uduk yang di bawa oleh Citra juga terlihat sangat enak. Tetapi, Qenna tidak mau mengambil sarapan Citra. Sedangkan rekannya itu belum sarapan.
Sebulan sudah bekerja di sini, Citra sangat beruntung rekan kerjanya baik-baik padanya. Meski begitu, tidak ada yang tahu bahwa dia seorang janda. Apa yang ia alami dalam pernikahannya, Qenna tidak pernah mengatakan apapun pada orang lain, kecuali Sindy--sahabatnya yang bisa ia percaya. Umurnya juga terbilang masih sangat muda. Tidak ada yang mengira bahwa dia sudah menikah.
Semua rekan kerjanya pun tidak mencurigai hal itu. Mereka juga tidak usil dengan kehidupan orang lain. Mereka juga saling peduli. Seperti Citra bagi ini, yang melihat ada perubahan di raut wajah Qenna, dan menawarkan sarapannya sendiri. Tentunya Qenna tidak seegois itu, mengambil hak sarapannya Citra.
"Jangan di paksa kalau kurang sehat. Kamu lebih baik minta izin, istirahat di rumah. Uang bisa di cari Qenna, kesehatan juga lebih penting," titah Citra, lagi pula yang terlihat oleh Citra, Qenna belum ada meminta libur dalam pekerjaannya. Dia termasuk karyawan yang rajin. Pagi sekali sudah datang, masalah libur tidak masuk kerja pun juga sangat jarang.
"Terima kasih, Qen. Tapi, aku baik-baik saja kok. Kamu tenang saja," tolak Qenna lagi.
"Hemm ..." Citra menarik napas. Setidaknya ia sudah perhatian dengan temannya itu. Jika pada akhirnya, Qenna tetap bersikukuh untuk melakukan pekerjaan."Ya sudah, aku ke dalam dulu."
Qenna mengangguk. Citra pun beranjak dari kursi untuk segera mengambil pekerjaannya yang juga notabennya sebagai cleaning servis. Jadi Qenna tidak sendirian lagi untuk memporsil pekerjaan seorang diri. Merasa sedikit enakkan, Qenna beranjak dari kursi untuk segera membersihkan ruangan direktur perusahaan.
Karyawan-karyawan kantor mulai berdatang. Semua berpakaian rapi, bagi perempuan tidak lupa dengan makeupnya. Namun, hal yang paling mencolok dari semua karyawan, tentunya parfum.
Parfum yang di anggap pelengkap bagi tubuh di balik pakaian itu. Ada yang menyengat, ada yang terhidu lembut. Tetapi apapun parfum yang di pakai setiap karyawan baik yang menyengat atau lembut, tetap saja bagi Qenna yang ikut masuk ke dalam lift bergabung dengan karyawan-karyawan kantor, membuatnya harus menahan napas. Semua parfum yang terhidu oleh Qenna, sangat menyengat busuk. Semakin membuat perempuan itu merasa mual, pusing. Tubuh Qenna bergetar, lemah lesu, yang ia rasakan.
Qenna yang berdiri di pinggiran, menyandarkan tubuhnya. Memegang erat sapu dan pungki serta tangan yang tidak henti-hentinya menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di leher.
Bunyi dentingan lift terdengar. Semua karyawan yang masuk bersamaan dengan Qenna, telah sampai di lantai tujuan mereka. Perempuan itu masih tetap di dalam untuk menuju dua lantai lagi.
Qenna menarik napas dalam-dalam saat semua karyawan yang ada di dalam lift keluar bersamaan. Ia berusaha kuat menghalau bau tidak sedap yang terhidu di hidungnya itu. Lift kembali bergerak, menuju lantai yang di tuju Qenna. Dari dalam lift, Qenna terduduk sejenak di lantai lift. Ia tidak bisa berlama-lama berdiri, matanya berkunang-kunang juga sedikit buram dan gelap.
Dengan duduknya Qenna di lantai, ia berharap sedikit menghilangkan pusing di kepalanya. Saat dentingan lift kembali terdengar, Qenna berdiri perlahan. Melangkah keluar saat pintu lift terbuka lebar. Kakinya melangkah menuju ruangan direktur. Ia harus bergegas membersihkan ruangan itu sebelum lelaki itu datang keruangannya.
Selama bekerja di kantor, Qenna cukup menilai baik lelaki yang menjadi atasannya itu. Cukup ramah pada setiap karyawannya. Qenna juga pernah memergoki lelaki itu saat memberikan uang pengemis. Di mata Qenna, Armand sosok yang dermawan juga. Namun, selama bekerja di kantor ini, Qenna belum pernah melihat sosok perempuan sebagai istri dari sang direktur.
Awal-awal Qenna bekerja, ia melihat foto pernikahan lelaki itu yang tergeletak manis di meja kerjanya. Semakin kesininya Qenna tidak lagi melihat bingkai pigura tersebut. Meski bertanya-tanya dalam hatinya, dikemanakan pigura pernikahan itu, tidak membuat Qenna berani menanyakan itu langsung pada sosok direktur tampan dan dermawan tersebut.
Menurut Qenna, ia hanya menjaga batasannya. Di sana di sana hanya sebagai karyawan, teman dekat atau keluarga bukan bagi lelaki itu. Menganggap itu bukan urusannya. Qenna mulai menyapu ruangan sang direktur. Mengelap semua kaca lemari atau pun meja. Membersihkan sofa dari debu dan menata rapi meja yang berserakkan akan dokumen penting.
Saat hendak mengemasi kertas-kertas yang tergeletak di dekat tempat sampah, manik mata Qenna menangkap pigura yang terlihat di robek menjadi dua bagian. Memperlihatkan foto pengantin yang pernah terlihat oleh Qenna saat awal-awal bekerja di kantor ini.
"Ini, kan, foto pernikahan waktu itu? Kenapa di robek? Seharusnya, kan, tetap di pajang. Pasti ada alasannya, kenapa di robek?" Qenna teringat akan pernikahannya. Ia melakukan hal yang sama dengan pigura miliknya, tengah memakai gaun dan Rafa memakai jas berwarna silver. Tampak gagah dan cantik. Pigura itu remuk, redam, di robek bahkan sampai menjadi abu. Di bakar habis-habis, seperti hatinya yang hancur berkeping-keping.
Qenna meletakkan kembali foto itu dalam tempat sampah. Membiarkan semua berkelana di kepala Qenna sebagai tanda tanya, di balik pigura yang ia temukan itu. Qenna berdiri, melihat sekeliling. Tidak ada satupun pigura lagi yang menempel di dinding atau tergeletak di atas meja. Kecuali, foto keluarga besar. Di yakini Qenna bahwa itu orang tua dari sang direktur.
"Apa rumah tangga Pak Armand sama sepertiku? Hancur karena orang ketiga, bukan hanya karena perempuan lain, Mama juga ikut memisahkan aku dan Mas Rafa," Qenna masih merasakan denyutan sakit di relung hatinya. Perempuan itu membuang gumpalan napas berat yang mengudara lepas."Andaikan lelaki itu tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan rumah tangganya bersamaku. Tapi, dia malah menjadi menurut seperti boneka Mama Jamilah. Menampakkan batang hidungnya saja kehadapanku, Mas Rafa tidak berani. Memang dia lelaki pengecut!" umpatnya kesal.
Bersambung ...