Sepanjang jalan, Armand kebingungan di mana alamat Qenna. Perempuan itu juga terdiam, senang memandangi keluar kaca mobil mengamati jalanan. Armand bukan tipe pria yang arogan, juga bukan tipe pria dingin. Namun, berhadapan dengan perempuan yang baru ia kenal, Arman cukup gugup dibuatnya.
Sedari tadi pria itu hanya melirik Qenna dengan sudut matanya. Armand sempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil berucap dalam hati."Kenapa dia diam saja? Apa perempuan ini lupa alamat rumahnya?"
Setelah menimang sejenak, akhirnya Armand memutuskan untuk bertanya."Kenapa kamu hanya diam saja?"
Armand menoleh pada Qenna yang tampak kebingungan. Perempuan itu mengedip-ngedipkan matanya. Ia sungguh tidak tahu maksud pertanyaan Armand.
"Maksudku, alamat rumahmu di mana? Semenjak tadi kau tidak berkata apapun," Armand menahan kesal di dalam hati. Ia tahu bahwa perempuan itu tidak bisu. Andai saja Qenna mengatakan semenjak, tadi Arman pasti sudah menuju ke alamat rumahnya.
Menyadari bahwa pria itu tidak tahu alamat rumahnya, Qenna langsung saja tersentak, dia lupa akan hal itu."Maaf Pak, saya lupa. Di depan nanti belok kanan, Pak. Tidak jauh dari persimpangan nanti, itu rumah saya."
Armand mendengar apa yang di dikatakan Qenna. Pria itu hanya termanggut-manggut sambil terus mengemudikan mobilnya.
Qenna menarik napas. Suasana di dalam mobil cukup menegangkan. Diam mematung, menatap satu arah mungkin sikap ternyaman bagai perempuan itu saat ini.
Tidak lama kemudian, Armand berhenti di sebuah rumah tralis besi. Tidak tinggi, sebatas sepinggang. Qenna membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Pintu mobil di buka oleh perempuan itu. Armand, hanya bergeming. Menunggu perempuan itu benar-benar keluar dari mobilnya.
Qenna menundukkan kepala ke kaca mobil."Terima kasih, Pak."
Armand mengangguk."Lain kali lanjutkan pekerjaanmu pagi harinya. Kamu harus mengingat juga, kalau kamu itu, perempuan. Jangan sampai gara-gara mencari uang. Keselamatanmu terabaikan."
"Baik, Pak. Mulai besok saya tidak lakukan lagi. Akan saya kerjakan besok paginya," sahut Qenna, seraya menautkan tangannya.
Armand menghidupkan mesin mobil. Setelah mendengar jawaban Qenna, lelaki itu menaikan kaca mobil. Armand memilih pergi dari sana. Tidak berniat untuk turun dan mampir.
Selepas kepergian pria itu, Qenna pun masuk ke rumah. Mendarat duduk di kursi, sambil memejamkan mata melepas lelah di tubuh. Ini pengalaman baru baginya, di posisikan di bagian yang sering di remehkan orang lain. Tetapi, pekerjaan ini tetap mulia bagi orang yang mensyukuri.
"Untung saja, ada Pak Armand. Kalau tidak pulang sama siapa aku tadi? Naik angkot? dari pada naik angkot mending naik taksi," gumam Qenna bermonolog dengan dirinya sendiri.
Qenna mengayun langkah gontai menuju kamar. Merasa tubuhnya sangat lengket, perempuan itu memilih mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beban yang selama ini terpendam, sedikit terlepas dari relung hatinya. Sindy--orang yang tepat mencurahkan segala sakit yang tertahan di dalam sana.
Qenna bukan tidak mau mengatakannya pada Sindy, di awal-awal permasalahannya itu. Melainkan, lebih baik ia menyelesaikan masalahnya seorang diri tanpa harus melibatkan Sindy.
***
Hari demi hari di lewati Qenna. Tidak terasa sebulan lebih Qenna menjalani hidup seorang diri dengan status baru yang melekat pada dirinya. Seorang janda yang memiliki paras wajah bertulang pipi menyatu dengan rahang. Hidung berbatang tinggi, alis mata hitam tersusun rapi, di bawah terdapat manik mata yang memancarkan keindahan. Rambut sepunggung membingkai wajah mungilnya.
Saat Qenna meminta ketenangan hidup dengan status baru dan mulai menata kehidupannya. Sialnya semua tidak berjalan dengan lancar, tidak sesuai dengan ketenangan yang ia inginkan. Ia mendapat tatapan tidak mengenakkan dari tetangganya sendiri. Merasa risih dengan status janda yang melekat pada Qenna. Menganggap status itu malapetaka bagi mereka.
Bagaimana tidak, apa lagi yang mereka takutkan, selain takut akan suami yang jelalatan matanya melihat Qenna. Mereka takut, Qenna memanfaatkan statusnya itu menggaet suami mereka. Menjadikan para ibu-ibu itu memasang badan untuk suami yang berusaha merayu Qenna.
Ada yang sampai membelalakkan mata pada Qenna. Melontarkan omongan kasar, dan memaki-maki dirinya. Kehadirannya di lingkungan itu membawa masalah. Sungguh, Qenna tidak pernah menginginkan status ini melekat pada dirinya. Namun, jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu. Kepahitan apa yang akan ia dapati dari kehidupan yang terus ia jalani. Begitu pula dengan kebahagiaan apa yang menanti mereka di ujung sana.
Meski statusnya janda kembang di desa itu, tidak pernah bagi Qenna berniat untuk merebut suami orang. Tidak sekalipun terlintas di pikirannya atas niat jahat itu. Qenna telah menghindari para lelaki yang beristri itu, ia sangat membatasi bertatapan muka langsung dengan suami orang. Qenna tidak pernah mendatangi mereka, merekalah yang terus mengajak Qenna berbicara saat tidak sengaja bertemu di jalan. Bertanya yang tidak penting. Qenna sungguh enggan dengan pembicaraan itu. Ia selalu menundukkan pandangannya. Berusaha menghindari tatapan mata. Qenna juga tidak berlama-lama dalam pembicaraannya itu. Menjawab singkat, lalu berpamitan untuk masuk kerumahnya.
Namun, ada-ada saja berita dari pembicaraan singkatnya itu. Ada yang menambah-nambah bumbu pedas, sehingga membakar jiwa istri yang merasa suaminya di ganggu oleh Qenna. Sindiran demi sindiran di dengar Qenna kala ia mendatangi warung hendak membeli kebutuhannya, Qenna benar-benar menahan panasnya teling menerima ucapan yang tertuju padanya.
Sakit? Marah? Sedih? tentu saja. Siapa yang tidak sedih di sudutkan oleh para tetangga? menyebutkan bahwa dirinya ke gatalan mendekati suami mereka? Dalam d**a, Qenna juga tersulut amarah. Siapa yang mengompori para tetangganya, sehingga mereka memiliki pikiran jahat itu?
Apa salah yang salah dengan statusnya? Janda itu bukan status tidak terhormat. Mengapa janda mendapatkan status buruk di mata tetangganya? Apa yang salah? Toh, Qenna menikah sah di mata hukum dan agama. Bukankah status janda lebih terhormat dari pada gadis tidak perawan? Seorang perempuan yang belum menikah, namun telah mencoba apa itu hubungan suami istri. Terkadang dengan sadarnya mereka melakukan dengan kekasihnya. Notabennya hanya sebagai kekasih yang belum pasti jodoh mereka.
Lagi pula, Qenna tidak pernah maruk-maruk dengan penampilannya. Ia tetap menjaga penampilannya. Tidak pernah mengumbar-umbar tubuhnya dengan pakaian yang minim bahan. Memang suami mereka saja yang menganggap status Qenna kesempatan bagi mereka untuk dekat dengan perempuan itu.
Baik yang masih lajang, sampai yang sudah beranak. Bahkan sudah ada anak mereka yang sudah beranjak remaja. Tidak yang muda ataupun tua, para suami itu tetap mencari kesempatan untuk mendekati Qenna. Sejauh ini, tidak ada lelaki yang berniat jahat pada Qenna. Hanya para istri mereka yang terus menghujat perempuan itu. Siapa yang tahan akan semua ini? Tidak ada yang tahan dengan hujatan orang, termasuk Qenna.
Sederhana ... Hanya keinginan yang sederhana di minta Qenna, yaitu berhenti menghujatnya sebagai janda yang suka merayu suami orang! dan para suami yang sudah beristri itu, berhenti untuk terus memancing amarah istri mereka dengan mendekati dirinya.
Saat ia membuka mata Qenna berharap dunia menyambut dirinya dengan kebahagiaan. Namun, sepertinya dunia belum berpihak pada Qenna seperti pagi ini. Di saat libur kerja, di hari weekend ini seharusnya Qenna bisa tertidur pulas. Menikmati hari liburnya dengan bangun sedikit siang dari biasanya. Memanjakan mata untuk tidak melihat sang surya lebih awal. Ia akan terbangun kalau sinar sang surya telah bertengger dengan baik di atas sana.
Tetapi, sepertinya pagi ini tidak membiarkan Qenna mencapai angannya itu. Baru juga jam menunjukkan pukul tujuh kurang, Qenna merasa tubuhnya tidak enak badan. Meriang, lelah, lesu, perut mual, serta perut yang terasa di aduk-aduk. Tidak sampai memanjakan matanya dengan mengerjapkan perlahan, Qenna di paksa memisahkan kelopak mata. Untuk segera menarik tubuhnya dari terlelap.
Wajah yang kusut, di sertai dahi yang mengerut penuh, Qenna terduduk di atas tempat tidur. Meringis sakit di sekujur tubuh dan tidak enakkan di bagian perut. Perutnya terasa di aduk-aduk hebat. Semua isi di dalam perutnya berlomba-lomba hendak keluar. Di tambah kepala yang terasa pusing, sempoyongan.
"Ssssss ... kepalaku pusing sekali," papar Qenna, memegangi kepalanya. Sambil memegangi perut juga yang ikut merasa di aduk-aduk.
Berusaha menahan dengan baik, agar tidak mengeluarkan isi di dalam perutnya itu. Seketika Qenna harus menurunkan kaki saat rasa mual menaiki tenggorokannya. Kaki jenjang Qenna menuruni tempat tidur, berlari ke kamar mandi seraya membekap mulutnya.
"Hoeekk ... Hoeeekk ..."
Tepat di wastafel, Qenna mengeluarkan muntahan itu. Berkali-kali perempuan itu memuntahkan isi perutnya, sampai ia merasa sedikit enakkan. Qenna memutarkan kran air, mencuci wajah serta tidak lupa mencuci mulutnya itu. Dengan wajah yang masih terdapat butiran air, Qenna menatap pada kaca. Yang memantulkan dirinya sedikit pucat dari biasa.
Qenna memegangi perut, perlahan membelakangi kaca."Ini pasti gara-gara kehujanan kemaren. Mungkin masuk angin kali, ya? Belakangan ini cuaca memang tidak stabil." Gumamnya, Qenna bermonolog dengan dirinya sendiri.
Seiring dengan rasa mual, Qenna merasa sangat lapar di pagi hari ini. Menyadari bahwa dirinya tidak sempat makan malam, hanya cemilan pisang keju yang di beli dari pedagang kaki lima, Qenna merasa mungkin itu penyebab perutnya sangat lapar di pagi ini.
Bersambung ...