Kalau itu sakit bagimu

1740 Kata
Sindy mengusap lembut bahu Qenna. Ikut simpati atas pernikahan sahabatnya itu. Meski ucapan Qenna belum selesai, Sindy menarik kesimpulan suami Qenna telah menggoreskan luka di hati Qenna. Jika tidak, Qenna tidak akan serapuh yang terlihat olehnya. "Qen, kamu baik-baik saja, kan? Jangan di teruskan, kalau itu sakit bagimu," titah Sindy. Memandangi Qenna dengan sorotan iba. Hati Sindy ikut teranyuh. Qenna perlahan membuka tangannya. Setelah ia rasa tangisan yang keluar dari manik matanya itu terhenti."Dia meninggalkan aku dengan alasan yang tidak aku ketahui. Hanya bilang ada urusan penting di kantor yang tidak bisa di wakilkan."Dengan mata yang berkaca-kaca Qenna berusaha menyampaikan sakit yang di rasa pada Sindy. "Aku merasa ada yang aneh ketika Mas Rafa meninggalkan aku. Dia tidak memberi kabar apapun, sudah sampai di Jakarta apa belum, sedang apa dia. Jangankan kabar, ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Dua hari enggak ada kabar, akhirnya aku aku memutuskan untuk pulang sendiri," sambungnya. "Terus, apa yang terjadi?" tanya Sindy, semakin penasaran selanjutnya dengan penjelasan Qenna. Keningnya berkerut penuh. Mata perempuan itu terus mematri wajah sahabatnya. "Kau tahu apa yang terjadi?" Sindy menggelengkan kepalanya, saat pertanyaan itu dilayangkan oleh Qenna."Aku mencari Mas Rafa ke kantor. Sesampainya di kantor, semua karyawan menatapku dengan tatapan sinis saat aku pertanyakan di mana Mas Rafa. Ternyata hari itu adalah hari pernikahan Mas Rafa dengan perempuan lain." Qenna terdiam cukup lama. Ia mengatur deru napasnya yang terasa sesak setiap kali mengingat kejadian itu. Manik mata yang berkaca-kaca, perlahan mengalirkan buliran bening di pipi Qenna. Perempuan itu menyeka cepat air matanya dengan tangan. Bagaimana tidak fitnah yang ia dapatkan dari kantor Rafa, cukup membuat Qenna terpuruk. Sehingga dia dipandang sebelah mata oleh semua karyawan Rafa. Sehingga para karyawan menarik kesimpulan tentang dirinya, bahwa atasan mereka pantas meninggalkan dirinya lantaran tidak lagi suci. Entah perbuatan siapa, dalam sekejap memporak-porandakan hidup karena Qenna. "Aku difitnah ... Mereka mengatakan Aku tidak lagi suci, dan pantas saja ditinggalkan oleh Mas Rafa," Qenna kembali menutup wajahnya dengan tangan. Setelah menyampaikan hal yang menyakitkan dalam hatinya pada Sindy tangisannya kembali pecah dalam ringkuhan pilu. Tangan Cindy mengepal kuat. Ia tidak terima atas fitnah yang diterima oleh Qenna sahabatnya."Siapa yang mengatakan itu pada mereka, Qenna? Apa Rafa yang menyebarkan fitnah itu?" "Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita itu." Qenna menatap nanar pada Sindy."Apakah kamu berpikiran sama dengan mereka? menganggap aku tidak lagi Suci. Apa kamu mempercayai itu Sindy?" "Aku sahabat kamu. Baik buruknya dirimu, itu kepribadianmu. Sebagai sahabat aku akan selalu ada buat kamu. Tapi aku yakin semua yang dikatakan karyawan di kantor Rafa tentang dirimu, itu tidaklah benar," Sindy mengusap lembut punggung tangan Qenna."Percayalah suatu saat nanti orang yang menyebarkan fitnah terhadapmu akan mendapatkan balasan sesuai dengan perbuatannya. Apa yang mereka tanam itu yang akan mereka tuai." Merasa kurang puas dengan jawaban sahabatnya, Qenna merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Mencari album foto yang terdapat bukti-bukti bahwa fitnah itu tidaklah benar, mengenai dirinya tidak suci lagi. Sebab, Qenna sempat mengambil foto dari bercak darah yang terdapat di tisu. Sebelum tisu itu dibuang ke tempat sampah oleh Qenna. Serta alas tempat tidur yang terdapat bercak darah, saat di pakai malam pertama oleh Qenna dengan Rafa--lelaki yang menikahinya. "Lihat ini," Qenna memperlihatkan beberapa foto yang sempat diambil itu, pada Sindy."Kalau kamu nggak percaya ini buktinya. Aku tidak bohong Sindy!" Sindy berdiri dari kursinya memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Bukan karena mereka sahabatan, Sindy membela Qenna dan berpura-pura mempercayai perkataan perempuan itu. Dari bukti yang terlihat oleh Sindy dan dari sorotan mata yang terbaca, Qenna Berbicara jujur padanya. Sindy yakin sepenuh hati bahwa Qenna perempuan baik-baik. Hanya lelaki bodoh membuang perempuan sebaik sahabatnya itu. Sindy juga tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang lelaki yang menikahi Qenna menyebut bahwa dirinya mencintai perempuan itu, tiba-tiba pergi meninggalkan dia seorang diri di hotel tepat setelah malam pertama mereka. Lalu, dengan mudahnya menikah lagi lagi. Sindy sungguh tidak menyangka pernikahan sahabatnya itu harus berakhir dengan penderitaan. Yang paling menyedihkan, hanya berselang sehari saja. Tidak ada yang menginginkan kejadian ini, siapapun perempuannya termasuk Qenna. Namun, takdir telah menggariskan hidupnya melewati ini semua. Sindy mengusap lembut puncak kepala Qenna."Sudah ... jangan bersedih lagi, Qen. Dia bukan lelaki yang baik untukmu. Aku yakin, suatu saat nanti kamu di pertemukan dengan lelaki yang benar-benar ditakdirkan untukmu. Pada saat itu tiba Rafa akan menyesali perbuatannya. Tidak ada gunanya kau menangis lelaki seperti itu lelaki pengecut! anggap ini semua cobaan untukmu, karena semua akan indah pada waktunya." Qenna memejamkan matanya meresapi apa yang dikatakan Sindy. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu benar. Ia hanya perlu menata hidupnya kembali bangkit dari rasa keterpurukan. Meski hati yang telah hancur tidak akan utuh lagi, dan luka meninggalkan bekas, Qenna harus menunjukkan pada dunia tanpa lelaki itu, ia bisa bahagia. Merasa Qenna sudah tenang, Sindy melepaskan pelukannya. "jangan menangis lagi, ok! hidupmu lebih penting daripada harus memikirkan lelaki itu terus menerus. Tidak ada gunanya mengharapkan lelaki itu. Tunjukkan pada Rafa bahwa kamu bisa hidup tanpa dia di sampingmu," titah Sindy. Qenna tersenyum lalu mengangguk pelan, ia setuju dengan ucapan Sindy."Terimakasih, kamu sudah mempercayaiku. Aku pikir kamu akan menghujatku sama seperti mereka." "Tidak akan, itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu ada buat kamu. Sebagai sahabat aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Sindy berucap."Mari kita kembali ke kantor, sebentar lagi jam makan siang selesai." Qenna mengangguk lalu beranjak dari kursi. Sindy memanggil pelayan restoran menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu sebelum mereka kembali bekerja. "Apa surat cerai kalian sudah keluar?" tanya Sindy, sambil mereka berjalan menuju kantor. "Sudah!" Sindy menoleh pada Qenna. Qenna berkata."Baru dua hari ini aku mendapatkannya. Saat aku pulang dari Panti Asuhan, Mama Jamilah mendatangiku. Memberikan langsung surat perceraian itu padaku." "lalu ... Tanggapan orang tua Rafa Bagaimana mengenai perceraian kalian? apa dia memihak pada anaknya atau padamu Qenna? Jangan-jangan--" Sindy menghentikan langkahnya. Matanya menyipit saat sinar surya menyentuh kedua pupil perempuan itu. Sebab, topik pembicaraan mereka kali ini ini lebih menarik. Pikiran buruk Sindy mengenai orang tua Rafa, Ia beranggapan bahwa orang tua Rafa ada di balik semua perceraian Qenna dan lelaki itu. Jika tidak, mengapa orang tua Rafa datang sambil membawa surat perceraian mereka. Sindy kembali teringat saat pesta berlangsung raut wajah namanya Rafa terbaca tidak menyukai acara pernikahan itu. Terutama tetapan sinis melayang pada Qenna. Namun semua itu disimpan baik oleh Sindy. Ia tidak ingin terlalu jauh mengusik kehidupan antara mamanya Rafa dan sahabatnya itu. "Kau benar! Mama Jamilah tidak menyukai Aku. Dia menginginkan perpisahan kita. Karena aku tidak pantas untuk anaknya. Statusku di besarkan di panti asuhan, tidak setara dengan mereka," tutur Qenna, masih terusik jelas ingatan Qenna bagaimana perempuan paruh baya itu menyambangi kontrakannya. "Dasar! Orang kaya tidak punya hati! Harta di banggain. Giliran jatuh miskin saja baru tahu rasa! Semoga aja mereka jadi gembel suatu saat nanti!" umpat Sindy, mengapalkan tangannya. "Aku rasa, Mamanya Rafa yang menfitnahmu, Qen," ulasnya. "Sudahlah, biarkan saja. Aku tidak ingin mengingat kejahatan mereka lagi," timpal Qenna, ia cukup lelah mengingat kejahatan Rafa dan Mama Jamilah. *** "Qen, apa tidak sebaiknya besok saja kamu bersih, kan? Mungkin Pak Armand sedang lembur hari ini," ujar Sindy, pamit pada Qenna. Jam kantor telah usai. Namun pekerjaan Qenna belum selesai. Ia menunggu atasannya keluar dari ruangan, setelah itu Qenna akan membersihkan ruangan, lalu pulang. "Lebih baik aku tunggu sebentar lagi saja, Sin. Mungkin sebentar lagi bos pulang," jawab Qenna, ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu sebelum pulang. Sindy menimang-nimang sesaat."Hummm ... ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu." Qenna mengangguk, sambil melambaikan tangan ke udara pada Sindy yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. Qenna melorotkan bahunya. Ia harus bertahan di kantor, entah sampai berapa jam ia akan menanti. Qenna berharap, atasannya itu tidak akan berlama-lama di dalam ruangannya. Menit, detik berlalu. Tidak terasa waktu berjalan. Hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam. Qenna terus mematri ruangan yang sedari tadi belum menampakkan pergerakkan dari dalam sana. Qenna melirik jam di tangannya."Apa aku sebaiknya pulang saja? Tapi kalau pulang ... Lebih baik aku tunggu sebentar lagi." Tidak lama kemudian, gagang pintu terdengar bersuara. Dari kejauhan Qenna melihat pergerakkan itu. Setelah melihat sosok lelaki keluar dari ruangan tersebut, melangkah lebar menuju lift untuk turun. Qenna bergegas masuk ke ruangan itu. "Aku harus membersihkan ini secepatnya. Setelah itu baru aku akan pulang," Qenna bermonolog dengn dirinya sendiri. Setengah jam kemudian, Qenna selesai dengan pekerjaannya membersihkan ruangan atasannya itu. Qenna melihat jam di dinding, jarum jam di atas sana telah menunjukkan pukul sembilan lewat. Qenna mengemasi perkakasanya, ini sudah larut malam untuk seorang perempuan pulang sendirian. Apa lagi hanya taksi atau angkotan umum menjadi alat tranportasi Qenna menuju rumah. Sesampainya di luar kantor, Qenna melihat sekitar jalan telah sepi dari kendaraan. Ia kebingungan, harus menaiki apa untuk sampai di rumah."Apa sebaiknya aku naik taksi saja? Kalau angkot, firasatku tidak enak." "Kenapa kamu belum pulang jam segini?" suara lelaki yang berada di belakang Qenna, membuat perempuan itu memutar tubuhnya ke belakang. Mendapati sang atasan berada tepat di belakangnya. Qenna terperanjak kaget. Matanya membeliak, dia pikir Armand--atasannya itu sudah pulang semenjak tadi."Pak Armand!" Qenna menundukkan kepalanya. Jari jemarinya meremas ketakutan."Saya membersihkan ruangan Bapak tadi. Setelah selesai, baru saya pulang." Armand menyeringit bingung."Apa pekerjaanmu di sini?" tanyanya. Melihat wajah Qenna asing di matanya. "Cleaning Servis, Pak. Hari ini, hari pertama kerja saya. Saya mohon Pak, jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini," ucap Qenna, ia takut di pecat dan kehilangan pekerjaannya. Armand termanggut-manggut. Sebab, memang bukan dia yang menerima Qenna. Armand menyuruh sekretarisnya untuk membuka lowongan pekerjaan sebagai cleaning servis. Setelah itu, Armand tidak bertanya lagi pada sekretarisnya--Hans. "Kamu di jemput siapa di sini?" Armand sedikit cemas melihat karyawatinya untuk pulang di malam mulai larut ini."Apa kamu di jemput kekasihmu? Atau keluarga gitu." Qenna tertegun pahit. Tentu saja tidak ada lelaki yang saat ini spesial di hatinya. Hatinya yang terluka dalam tahap penyembuhan."Tidak ada, Pak. Aku naik angkot saja atau taksi." "Angkot?!" tanya Armand, ia membayangkan seorang perempuan manaiki angkot seorang diri. Sedangkan belakang-belakang ini lagi maraknya khasus kekerasan pada perempuan yang di lakukan oleh supir angkot sendiri. "Huumm ..." Qenna berdehem. Mengiyakan pertanyaan Armand. "Biar saya antar pulang," tepat ucapannya mengudara, Armand melangkah menuju mobilnya. "Pak tunggu! Tidak perlu repot-repot, Pak. Saya bisa sendiri," teriak Qenna, mengejar Armand lebih dulu menuju mobil. Langkah Armand terhenti, tangannya membuka pintu mobil bagian penumpang depan."Masuklah, ini sudah terlalu larut malam. Kamu bekerja di kantorku. Itu artinya, keselamatanmu juga tanggung jawab aku." "Maaf, aku tidak banyak waktu. Cepat masuk," Qenna pun tidak punya pilihan lain, selain menuruti permintaan atasannya itu. Sebenarnya, ia juga takut untuk pulang seorang diri. Tetapi, untuk langsung mengiyakan, rasanya Qenna juga enggan. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN