Seminggu berlalu, Qenna bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia di terima di salah satu perusahaan. Bukan untuk pangkat yang tinggi, melainkan sebagai cleaning servis. Hanya pekerjaan itu yang ada lowongannya di perusahaan tempat Qenna bekerja.
Pekerjaan ini ia dapatkan oleh Sindy--sahabatnya. Awalnya Sindy sedikit enggan memberikan posisi itu pada Qenna. Tetapi apa boleh buat, tidak ada lagi lowongan pekerjaan selain cleaning servis di kantor tempat Sindy bekerja. Bagi Qenna, apapun pekerjaan yang ia dapatkan yang penting halal. Qenna dengan senang hati melakukannya. Sebab, Qenna tidak bisa terus menerus berdiam diri. Untuk biaya dan kontrakan rumahnya terus berjalan.
Sebenarnya kembali ke panti asuhan, Ibu Aisyah mungkin tidak akan keberatan akan hal itu. Namun, apa yang ia hadapi ini akan menjadi beban oleh Ibu Aisyah. Kini Qenna telah tiba di kantor. Ia sedang bersiap-siap untuk membersihkan ruangan atasannya terlebih dulu. Sebelum membersihkan yang lainnya.
Pintu terbuka lebar saat tangan perempuan itu mendorong gagang pintu. Iris matanya menelusuri ruangan yang masih sepi tanpa penghuni itu. Qenna membawa segala perkakas yang akan ia gunakan untuk membersihkan ruangan tersebut.
Saat ia membersihkan debu-debu menggunakan microfiber. Tepat di pigura yang menampakkan sepasang suami istri menggunakan gaun putih pengantin serta pria memakai stelan jas. Tampak cantik dan tampan. Seketika Qenna termenung, mengingat apa yang di lihat dari pigura itu juga pernah ia rasakan. Meski berasa mimpi melalui semua itu, namun itulah kenyataan pahit dalam hidupnya.
"Aku tidak boleh mengingat-ngingat kenangan pahit itu lagi. Tidak ada gunanya juga terus di ratapi. Karena hidup terus berjalan. Menata hidup untuk lebih baik ke depannya. Semoga Mas Rafa bahagia bersama istri barunya. Cukup ... cukup aku saja yang merasakan pahitnya pengkhianatan. Aku ikhlas, ikhlas melepaskanmu, Mas," gumam Qenna dalam hati.
Ia tersentak dari lamunan. Mengingat pekerjaannya belum siap, tidak lama lagi para karyawan kantor akan segera berdatangan. Dengan cekatan ia membersihkan ruangan itu. Selesai membersihkan, Qenna keluar dengan alat-alat perkakasnya.
Sindy yang baru saja sampai, ia berpas-pasan dengan Qenna yang sedang membawa kain pel, serta ember berisi air."Qenna," serunya.
"Eh, Sindy, kamu baru datang?" tanya Qenna.
"Iya, kamu dah sarapan?" tanya Sindy."Aku ada bawa bekal, kamu mau?"
Sindy memberikan satu bekal miliknya pada Qenna. Qenna mengambil bekal itu dengan senang hati. Kebetulan ia sendiri belum sarapan, dan pula tidak membawa bekal."Terima kasih, Sindy."
"Hhmmm ..." Sindy berdehem, mengangguk pelan."Kamu masih berhutang penjelasan padaku. Nanti siang aku tunggu di sini, ok!"
Sindy, menatap Qenna dengan tatapan intimidasi. Sebab, Sindy datang ke pernikahan Qenna. Ia tahu bahwa sahabatnya itu sangat bahagia bisa menikah dengan pria yan mencintai dan di cintainya. Ia sangat penasaran bagaimana bisa istri dari seorang CEO meminta pekerjaan padanya. Apa lagi hanya sebagai cleaning servis.
Qenna sendiri belum menjelaskan apa-apa. Ia berjanji akan menjelaskan pada saat di terima kerja. Sindy dengan sabar menunggu wakti itu. Merasa ada yang tidak beres dengan Qenna dalam pernikahannya tersebut.
Qenna mengangguk, mungkin Sindy orang yang tepat untuk mendengarkan keluh kesahnya. Dengan begitu hati yang remuk, sedikit kehilangan beban di dalam sana.
"Ya sudah, aku kerja dulu. Semangat kerja ya!" tutur Sindy, menepuk pelan bahu Qenna.
***
Pelayan cafe menurunkan pesanan Sindy dan Qenna dari nampannya ke atas meja. Sesuai dengan janji Qenna, Sindy pun menangih janji itu. Rasa penasaran atas pernikahan Qenna, membuat Sindy tidak fokus pada pekerjaannya.
"Jadi ... apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tanggamu?" tanya Sindy, seraya mengaduk-ngaduk minumannya dengan sedotan."Kamu ini istri seorang bos. Aku heran kenapa masih saja mencari pekerjaan? Apa lagi hanya seorang cleaning servis. Pada hal kamu bisa duduk-duduk manis di rumah, menunggu suami pulang. Menyambut kepulangan suamimu dengan kehangatan seorang istri. Bukan malah mencari pekerjaan di luar. Kalau sampai suamimu tahu, kamu kerja di sini dan posisi itu kamu dapat dari aku, apa kata suamimu nanti? Dia pasti akan memarahiku habis-habisan karena--"
"Itu tidak akan terjadi!" sanggah Qenna. Seraya mengaduk-ngaduk minumannya juga."Dia tidak akan memarahimu. Tidak akan pernah mencari keberadaanmu. Aku jamin itu. Bahkan tidak akan peduli aku bekerja sebagai apa di sini."
Sindy semakin mengerutkan dahinya."Ceritakan padaku ... Rumah tangga kalian baik-baik saja, kan? Tidak mungkin suamimu sampai tidak memperdulikanmu. Apa kata rekan bisnisnya? Jika melihat kamu bekerja sebagai cleaning servis, Suamimu pasti akan sangat--"
"Aku sudah bercerai!" Ucap Qenna tanpa ragu. Semenjak tadi Sindy terus menerus membahas masalah pria itu. Tidak ada nama suami lagi dalam hidup Qenna. Yang ada lelaki pengecut! yang telah mengahancurkan hidupnya.
Sindy tertegun. Hampir saja ia kesedak minumannya sendiri. Bersyukur masih bisa lolos di tenggorokannya dengan baik."Bercandamu tidak lucu, Qen! Hampir saja aku kesedak minumanku sendiri. Setiap ucapan adalah do'a, loh! Jangan asal bicara!"
Qenna menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Bahunya melorot lemah. Sesaat kemudian perempuan itu menarik kursinya lebih mendekati meja. Menyondongkan tubuhnya, serta wajah lebih mendekat pada Sindy.
"Aku tidak bercanda, Sindy! Kamu lihat mataku baik-baik. Ada kebohongan di mataku?" tanya Qenna dengan serius. Ia malah merasakan cairan bening berkaca-kaca di manik matanya.
Sindy bergeming. Tidak ada kebohongan dari manik mata sahabatnya itu. Sangat sulit untuk mempercayai ini semuanya. Begitu bahagianya Qenna di saat hari pernikahan, bahkan sahabatnya itu sampai tidak bisa tidur, Sindy tidak menduga bahwa pernikahan Qenna terbilang sangat singkat.
"Maaf, aku belum percaya ini. Bagaimana bisa ...." Sindy menggeleng tidak
percaya."Maksudku, kalian saling mencintai, bukan?"
"Aku baru sadar, sekedar cinta yang kuat tidak menjamin utuhnya rumah tangga. Karena, rasa ingin selalu bersama sudah tidak ada lagi," Qenna sangat mencintai Rafa. Tetapi, ia tidak tahu bagaimana dengan Rafa. Satu hal yang nyata, pria itu kini telah meninggalkannya.
"Apa penyebabnya? Rafa selingkuh? Ada orang ketiga dalam rumah tangga kalian?" cerca Sindy."Kalian sempat bulan madu waktu itu, kan?"
"Iya, kami sempat bulan madu. Setelah melewati malam pertama ...." Qenna tidak dapat meneruskan perkataannya. Suaranya telah berubah sendu. Tangannya menutupi wajah yang kini telah basah dengan ia mata. Masih membayang dalam ingatannya, bagaimana ia di tinggalkan seorang diri di kamar hotel. Setelah melewati malam sebagai suami istri, Qenna malah di fitnah tidak lagi suci.
Entah bagaimana bisa dengan mudahnya fitnah itu menyebar. Sedangkan Rafa sendiri saat itu yang menghapus dengan tissue bercak merah tersebut. Melihat Qenna meringisa kesakitan dalam kukungannya. Malah lelaki itu sangat menikmati pergaulan panas itu. Setelah merenggut itu dari Qenna, Rafa pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Bersambung ....