Senasib!

1413 Kata
Qenna masih bermain sama anak-anak panti. Ibu Aisyah yang menyadari bahwa ini sudah sore dan menunjukkan pukul empat, ia kepikiran dengan Rafa yang pulang kerja, tidak melihat Qenna di rumah. Tidak baik, seorang istri tidak ada di rumah ketika suami pulang. Alangkah baiknya, sebelum Rafa pulang, Qenna sudah berada di rumah. "Qen," seru Ibu Aisyah, sembari mendekati anak asuhnya itu."Ibu tidak bermaksud mengusirmu, nak. Apa tidak sebaiknya kamu pulang? Soalnya, takut Rafa mencarimu, melihatmu tidak ada di rumah. Atau Rafa menjemputmu kesini?" Qenna menelan salivanya, hanya tersenyum getir yang berhasil lolos dari tenggorokan. Sebab, tidak akan ada lelaki itu lagi dalam hidup Qenna."Tidak bu, Mas Rafa masih sibuk di kantor. Katanya lembur. Hmmm ... bentar lagi Qenna pulang. Qen, masih kangen sama adik-adik panti." "Oh, ibu pikir Rafa tidak lembur. Ya sudah, Ibu tinggal ke dalam dulu," Ibu Aisyah meninggalkan Qenna dan anak-anak panti lainnya. Setelah mendapatkan anggukan dari Qenna. Membiarkan perempuan itu bermain dengan adik-adiknya yang lain. *** "Kakak Qenna, sering-sering datang ke pantai ya, kak," ujar Seorang anak kecil yang sangat nyaman dengan Qenna. "Iya, kak. Kami selalu merindukan kakak," timpal anak lelaki berkulit sawo matang, jangkung. "Insya Allah, nanti kakak main lagi ke panti. Kakak janji!" timpal Qenna menunjukkan jari kelingkingnya. Sebab, hanya panti tempat suasana hatinya bisa lepas dari perihnya luka yang sedang ia hadapi. Ia seakan lupa atas sakitnya pengkhianatan lelaki itu. Setelah memberi kata janji pada adik-adik panti, Qenna di peluk sejenak oleh adik-adik yang sangat menyayangi Qenna. Ibu Aisyah tersenyum lebar, meski mereka tidak bersaudara kandung antara satu dan yang lainnya, di panti ini mereka diikatkan dalam kasih sayang yang sangat kuat. Bahkan melebihi suara kandung. Mereka seolah terlupakan atas kejamnya dunia. Ada yang di lahirkan, di taruh di depan panti. Ada yang di temukan warga di semak-semak dalam kardus. Seperti halnya Qenna, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan maut. Sehingga ia di bawa bu Aisyah yang notabennya sahabat orang tua Qenna. Dan banyak lagi alasan bagaimana bisa mereka sampai di panti itu. Meski terlepas dari kasih sayang ke dua orang tua mereka, Ibu Aisyah sosok ibu yang sangat menyayangi mereka. Tanpa ada kata lelah dan menyerah. Dengan telaten, mereka tubun dengan baik. Kebutuhan mereka terpenuhi, itu berkat tak lepas dari orang-orang yang dermawan menyumbangkan sedikit harta mereka di panti asuhan itu. Ada juga dari mereka, di angkat sebagai anak dari pasangan yang tidak bisa memiliki anak. Pasangan yang tidak memiliki anak itu akan memilih anak yang mereka sukai. Bukan hanya sekedar itu saja, latar belakang sang anak juga harus di ketahui orang tua angkat mereka. Orang tua yang akan merawat mereka dengan penuh kasih sayang. Sehingga merasakan kembali hadirnya sosok orang tua di kehidupan sang anak yang akan di adopsi. Tentunya tidak asal mengangkat anak, harus ada prosedur yang mereka tanda tangani di atas materai dan berdasarkan hukum yang berlaku. Untuk mencegah sewaktu-waktu ada insiden yang tiba-tiba orang tua kandung mereka hadir merebut sang anak dari orang tua angkat mereka. Bagaimana dengan Qenna? Apa tidak ada orang yang mengangkatnya sebagai anak angkat? Tentunya ada, namun Qenna memilih untuk tetap di panti. Sebab, Ibu Aisyah telah ia anggap sebagai Ibu kandungnya sendiri. Sehingga Qenna tidak ingin ada sepasang suami istri yang mengadopsinya. Ibu Aisyah telah membujuk Qenna, ketika sepasang suami istri berasal dari keluarga kaya raya menginginkan Qenna yang cantik, imut ketika umur lima tahun, di angkat sebagai anak mereka. Namun, Qenna memohon pada Ibu Aisyah untuk mengizinkannya tetap berada di panti. Sebab, Qenna telah menganggap Ibu Aisyah sebagai Ibu kandung sendiri. Bukan semata-mata Ibu asuhnya. "Hati-hati di jalan ya, Nak. Kalau sudah sampai di rumah, hubungi Ibu," titah Ibu Aisyah, menarik Qenna dalam pelukan. "Uhhummm ..." Qenna berdehem, seraya mengangguk. Pun melepaskan pelukan singkat itu."Nanti Qenna akan memberitahu Ibu, kalau Qenna sudah di rumah." "Titip salam ibu pada, Nak Rafa," ujar Ibu Aisyah. Sebab, lelaki itu tidak menyambangi panti asuhan ini bersana Qenna. Anggukan berat terpaksa di lakukan Qenna. Seutas senyuman getir pun turut hadir. Ibu Aisyah melambaikan tangan, diikuti adik-adik panti melambaikan tangan juga pada Qenna. Sesampainya di rumah, Qenna menghempaskan tubuh di atas kasur. Tatapan nanar menatap ke atas. Seiring rasa amarah terselip di hatinya."Aku tidak bisa terus menerus bersedih seperti ini. Aku harus mencari kerja, untuk menghilangkan kesedihan ini. Kalau aku sibuk, aku perlahan-lahan bisa melupakan, Mas Rafa." Qenna merogoh tasnya mengambil benda pipih. Mencari informasi lowongan pekerjaan. Namun, notifikasi alah satu sosmed masuk. Ada satu aplikasi yang belum di unfollow Qenna mengenai Rafa. Qenna ragu-ragu untuk membuka. Tetapi karena penasaran menyulut di pikiran, ia pun membuka notifikasi itu. Ternyata foto mesra Rafa bersama istri barunya. Matanya terbakar api cemburu. Melihat lelaki pengecut itu tengaj berbahagia. Qenna yang menyesali itu, tangannya spontan mengerat pada benda pipih miliknya. Lalu, melemparnya ke sembarangan arah. Matanya terpejam panas, seiring sudut matanya mengalir cairan bening. *** "Tunggu sebentar!" teriak Hans yang sedang berada di dapur. Telinganya samar-samar mendengarkan suara ketukan. Entah dari siapa, Hans sedikit kesal. Sebab, ketukan itu berulang kali di lakukan tanpa jeda. Sudah seperti orang menggedor pintu."Siapa sih yang datang? Bertamu kayak orang penagih hutang saja!" gerutunya. "Eh ... Jangan-jangan Dea lagi. Kemaren, kan aku minjam uangnya seratus ribu." Hans menggeleng-gelengkan kepalanya."Benar-benar nih, Dea, uang seratus ribu saja di tagih! Eh iya,ya, yang namanya hutang tetap hutang." Selesai mengaduk-ngaduk cappucino panas buatannya, Hans meninggalkan dapur seraya memegangi tadah dan gelas yang berisi minuman cappucinno panas tersebut."Iya, sebentar! Tidak sabaran bangat ni, orang." Setelah meletakkan minuman itu, Hans bergegas membuka pintu. Pintu terbelah dua. Menampakkan Armand di luar sana."Ternyata kamu, dasar bekicot! Gedor-gedor pintu sudah kayak orang penagih hutang saja!" "Tumben kemari, ada apa? Silahkan masuk," sambung Hans kemudian. Meninggalkan Armand id belakangnya. Armand melangkahkan kakinya, memasuki rumah Hans. Rumah dinas yang di berikan Armand pada sekretarisnya itu. Sekeretaris di saat jam kerja, menjadi sahabat ketika di luar jam kerja. "Kamu mau minum apa?" tanya Hans. "Air putih saja," jawab Armand, sambil mendarat duduk di sofa. "Air putih? Murah sekali minumanmu," ejek Hans, ia melangkah ke dapur mengambil minuman sederhana itu. "Murah, tapi menyehatkan!" timpal Armand. Tidak lama kemudian, Hans kembali dengan segelas air putih di gelas yang cukup tinggi. Meletakan di hadapan Armand. Hans memilih duduk di sofa sebelah Armand."Ada apa? Kenapa raut wajahmu sembraut? Ada masalah?" Sambil menyesap cappucino panas, air wajah Armand tertangkap dalam keadaan pilu. Armand menaruh kunci mobilnya, lalu meneguk minuman mineral di hadapannya. Tenggorokkannya terasa kering, ada rasa malu berhadapan dengan Hans. Setelah apa yang terjadi pada Armand dan istrinya itu. Menaruh gelas kaca bening itu kembali pada meja, Aramand menghapus mulutnya sisa-sisa minuman mineral itu."Aku dan Sisil bercerai ...." "Uhukk ... Uhhhukkk ...." Hans batuk-batuk mendengar penuturan Armand. Ia benar-benar kaget, mendengar kabar perceraian Aramnd. Hans meletakkan minuman cappucino miliknya di atas meja. Mengelap dengan tangan sisa-sia muncrat minuman tersebut. "Kamu tidak bercanda, kan?" tanya Hans, manik matanya membola. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Armand. "Untuk apa aku berbohong masalah ini. Aku serius!" tegas Armand. Membenarkan ucapannya sendiri. Hans tercenung. Menelan saliva masih terasa sisa-sia cappucino. Hans tidak bermaksud untuk membuat sepasang suami istri itu bercerai. Tetapi, ia tidak bisa melihat Siska bermain di belakang Armand. Setidaknya, setelah ia mengatakan pada Armand, Siska akan meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulainginya lagi. "Armand, maafkan aku ... karena aku kalian bercerai," ucap Hans bersalah. "Ini bukan kesalahanmu. Aku malah berterima kasih, karena berkat kamu aku tahu perselingkuhan Siska. Tidak baik juga jika aku pertahankan perempuan yang berkhianat dariku. Dia sudah menginjak-nginjak harga diriku. Kalau sampai Siska hamil anak pria lain, aku ikut menanggung malu dan dosanya," timpal Armand,ia tidak merasa Hans penyebab retaknya rumah tangganya bersama Siska. "Kamu mengikuti Siska?" tanya Hans, penasaran. "Huumm ... aku sengaja hari itu tidak ke kantor. Menyuruhmu untuk menghendel kantor. Ya ... hari itulah aku mengikutinya. Mereka pergi ke salah satu hotel berbintang lima. Dan memesan kamar hotel," Armand menyandarkan tubuhnya, seiring bahunya melorot jatuh. "Ya sudah, yang sabar. Mungkin dia bukan jodohmu, Armand. Semoga setelah ini kau mendapatkan perempuan yang dapat menjaga kehormatanmu sebagai suami," titah Hans, turut sedih retaknya rumah tangga sajmhabatnya itu. "Ngomong-ngomong, kamu jadi duren dong, Armand?" ledek Hans, sambil menggedikkan alisnya. "Duren? Apa itu?" tanya Armand tidak tahu. Hans berdecis." Itu saja kamu tidak tahu, payah!" "Gimana lagi, memang aku tidak tahu apa itu duren?" Armand melengahkan wajahnya, setelah melirik singkat Hans. "Duren itu, Duda keren!" Kelakar Hans."Hahahhahah ...." Armand mendelik."Ada saja! Dari pada kamu belum laku!' Hans menghentikan tawanya."Bukan tidak laku. Tapi belum menemukan yang tepat. Aku juga tidak kalah tampan darimu. Kita itu beda tipis, bedanya dari kantong. Hahahhaa ...." "Terserah kamu saja!" Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN