Mama Jamilah turun dari mobil. Melangkah lebar memasuki kantor, menuju ruangan Rafa. Ia tidak terima bahwa sang anak belum menjatuhkan talak pada Qenna, perempuan yang sempat menjadi istri dari putranya itu.
Mama Jamilah tidak ingin ada dua istri di kehidupan Rafa. Apa lagi kalau sampai tahu istri ke dua yang baru saja di nikahi Rafa, bahwa Rafa belum menjatuhkan talak dan belum mengajukan gugatan cerai pada pengadilan. Pintu terbuka lebar, Mama Jamilah mendapati Rafa sedang menatapnya.
"Mama, ada apa Mama kesini?" tanya Rafa, sambil menandatangani berkas-berkas yang ada di mejanya itu.
"Kamu gimana sih, Rafa?! Kamu menikahi Alin, tapi belum menggugat Qenna. Bahkan belum menjatuhkan talak pada perempuan itu. Kalau Alin tahu bagaimana?" Mama Jamilah memijit pelipisnya."Mama, enggak mau tahu. Kamu harus segera gugat cerai Qenna ke pengadilan secepatnya!"
Rafa menarik napas berat."Hhmmm ... nanti Rafa akan urus secepatnya perpisahan Rafa bersama Qenna."
"Memang harus begitu! atau kamu akan kehilangan Alin nantinya," ujar Mama Jamilah.
"Lagi pula, Mama ada-ada aja! Baru juga menikah, sudah ngambil keputusan yang aneh-aneh!" pungkas Rafa.
"Aneh-aneh gimana maksud kamu? Ini semua Mama lakukan demi kebaikan kamu juga, Rafa! Kalau kamu tidak menikah dengan Alin, apa jadinya perusahaan kamu ini? Apa sih yang dapat di perbuat oleh perempuan itu untuk kamu?"Mama Jamilah membuang pandangan dati Rafa."Yang ada hanya beban."
Rafa tidak menanggapi lagi perkataan sang Mama. Ia beranjak dari kursi kerjanya, memilih keluar meninggalkan ruangan.
"Rafa, kamu mau kemana?" tanya Mama Jamilah, merasa di abaikan sang anak.
"Rafa ada rapat," ucap lelaki itu singkat.
Mama Jamilah mendengus kesal."Awas saja kamu, Rafa! Suatu saat nanti kau akan berterima kasih pada Mama. Karena telah membawa Alin ke hadapanmu."
***
"Ambil saja kembaliannya, " ucap Qenna pada supir angkot.
"Terima kasih, mbak," timpal supir angkot, melajukan kembali angkot berwarna oranye miliknya tersebut. Setelah menurunkan Qenna di sebuah panti Asuhan.
Qenna memandangi panti Asuhan, tempat ia di besarkan dengan kasih sayang seorang perempuan paruh baya. Berkat tangannya, Qenna tumbuh menjadi perempuan yang mandiri, cantik dan bertutur ramah. Semua tidak lepas dari ajaran ibu Aisyah.
Qenna mengadahkan kepalanya sesaat ke atas, menarik udara untuk memenuhi ruang dadanya. Agar siap bertemu Ibu Aisyah, dan menyimpan segala lukanya. Mempersiapkan diri untuk segala pertanyaan tentunya mengenai suaminya itu. Suami yang pergi tanpa memutuskan status Qenna lebih dulu.
Langkah gontai Qenna mengayun pelan menuju pantai Asuhan. Setibanya di depan rumah panti,"Kakak Qenna!" teriak Andin, salah satu anak panti berumur 16 tahun.
Andin berlari ke dalam untuk memberitahukan pada yang lain. Bahwa mereka kedatangan Qenna, orang yang telah mereka anggap kakak mereka sendiri.
"Kakak Qenna datang! Kakak Qenna datang!!"
"Serius kak Andin?" tanya seorang anak berusia 9 tahun.
"Iya, aku seirus!"
"Yeee, kakak Qenna datang!!"
Teriak adik-adik panti. Menyambut kedatangan Qenna. Mereka sangat senang di sambangi oleh Qenna yang sama-sama tumbuh dan besar di panti asuhan.
"Qenna?" gumam Ibu Aisya yang berada di dapur. Sedangkan memasak untuk makan siang anak-anak panti."Aku tinggal bentar ya, mbak." Ucapnya pada orang yang membantu memasak di dapur.
Bu Aisyah melangkah lebar, ia tidak sabar untuk bertemu dengan Qenna. Kehadiran Qenna telah ia nantikan di panti ini. Anak yang ia asuh, dan telah di anggap sebagai anak sendiri. Meninggalkan panti setelah ia hidup mandiri. Meski begitu Qenna sering mendatangi panti.
"Qenna," panggil Ibu Aisyah, saat manik mata perempuan paruh baya itu menemui Qenna yang tengah di peluk oleh adik-adik pantinya.
Anak-anak panti yang sedang memeluk Qenna, menyibak. Memberi jalan pada Ibu Aisyah untuk mendatangi Qenna.
"Adik-adik, kalian main dulu ya. Nanti kakak akan ikut main bersama kalian," ucap Qenna pada adik-adik pantinya.
"Baik, kakak."
"Ayo-ayo, kita main dulu," ajak Andin membawa adik-adik dan teman sebayanya untuk meninggalkan Qenna dan Ibu Aisyah.
Qenna menghampiri Ibu Aisyah. Mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu, lalu ia memeluk erat Ibu Aisyah. "Qenna kangen sama Ibu," ucapnya tulus dari hati.
"Ibu juga, nak. Bagaimana kabarmu?" tanya Ibu Aisyah, melonggarkan pelukannya dari Qenna. Memandangi wajah Qenna dengan senyum lembut yang tidak pernah pudar.
"Qen, sehat bu. Ibu, gimana? Sehat?" timpal Qenna,
"Alhamdulillah sehat, nak," jawab Ibu Aisyah, mengalihkan manik matanya untuk menemui sosok seseorang yang tidak terlihat olehnya."Qen, suamimu mana? Nak Rafa tidak ikut bersama kamu?"
Qenna terdiam sejenak, dalam gugup menghadapi pertanyaan bu Aisyah. Ia tidak bermaksud membohongi. Tetapi, Qenna belum siap mengatakan yang sebenarnya.
"Qen?" panggil ibu Aisyah lagi. Menyentakkan Qenna dalam lamunannya.
"Ummm ... Ma-mas Rafa lagi sibuk di kantor, Bu. Mungkin lain waktu dia datang ke sini," jawab Qenna, dalam hati ia mengeluh minta maaf pada ibu Aisyah. Terpaksa berbohong mengenai pria itu.
"Oh ya sudah, gak apa-apa. Ayo, masuk ... kita bicaranya di dalam saja," ajak Ibu Aisyah, Qenna mengangguk setuju ajakan perempuan paruh baya itu.
Menahan baik hati yang masih tidak menyangka dengan takdir buruk menimpa hidupnya. Qenna berusaha tegar, melepaskan dengan ikhlas. Akan perlahan-lahan ia lakukan. Sebab, tidak ada yang instan atas apa yang telah ia lalui bersama Rafa. Pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta, mengabdikan hidupnya sebagai istri lelaki itu. Sehingga melupakan apa yang ia ingin di gapai sebelum bertemu dengan Rafa.
Menjadi wanita karir, impian Qenna selama ini. Namun, rela ia lepaskan hanya karena pria yang kini tidak memperdulikan perasannya sedikitpun. Lelaki pengecut yang ia temui ternyata.
"Bagaimana, Qen, bulan madu kalian? Setahu ibu, kalian akan balik minggu depan, bukan? Ini, kan, belum waktunya kalian balik ke Jakarta," tutur Ibu Aisyah, jadwal Qenna tidak seharusnya hari ini sudah ada di Jakarta. Ini jauh dari hari yang Qenna katakan sebelum keberangkatannya.
"I-iya, bu, seharusnya memang begitu. Di kantor ada keperluan penting yang harus di tangani langsung oleh Mas Rafa, ya ... kita terpaksa untuk segera balik," killah Qenna, entah bagaimana lidahnya lancar mengatakan kebohongan ini. Sedangkan melihat wajah Ibu Aisyah, benar-benar membuat Qenna merasa bersalah.
"Maafkan Qenna, bu, Qenna tidak tahu harus bilang apa. Harus mulainya dari mana? Sampai detik ini saja, Qenna masih tidak menyangka, Mas Rafa mengkhianati Qenna. Semua terjadi begitu cepat." Suara hari Qenna.
"Yang sabar, Qen. Nanti juga kalian bisa liburan lagi. Ibu harap kalian cepat di beri momongan," harap Ibu Aisyah, seutas senyum merekah melebar di sudut bibinya.
Qenna tertegun pahit. Sebab ia tahu, keinginan itu tidak akan pernah terjadi. Sedangkan lelaki yang mengkhianatinya telah berada di pelukan perempuan lain. Apalah daya, hanya sebuah senyuman getir yang mampu ia lebarkan di sudut bibirnya. Tidak ada yang tahu, hatinya merintih tangisan pilu.
Entah sampai kapan ia akan terus menyimpan kabar buruk ini seorang diri. Tanpa harus melukai hati Ibu Aisyah. Ia tidak ingin hidupnya menjadi beban bagi perempuan paruh baya itu.
***
"Kamu serius, Armand? Siska selingkuh darimu?" tanya Mama Ningsih--ibu kandung Armand. Tampak terkejut dengan kabar buruk yang di bawakan Armand di tengah-tengah keluarganya.
Papa Galih--ayah kandung Armand, juga tidak menyangka, apa yang ia dengar dari Armand. Rumah tangga sang anak berakhir dengan perceraian. Setiap harapan orang tua, pasti menginginkan rumah tangga sang anak lenggang sampai maut memisahkan. Tidak seumur jagung. Sedangkan mereka sebagai orang tua Armand, di beri umur yang panjang dalan rumah tangga mereka. Bahkan tidak pernah terlintas untuk berpisah. Meski putra mereka--Armand sudah tumbuh dewasa.
"Armand tidak bohong, Ma. Armand sendiri yang mempergoki Siska bersama pria lain di hotel. Ya ... Jika saja, Hans tidak memberitahu Armand, mungkin Armand tidak akan sampai mengikuti Siska. Tidak akan tahu apa yang ia lakukan bersama pria lain," ujar Armand, tampak kalut dengan rumah tangganya yang harus berakhir.
"Apa kata, Pak Ahsan mengenai ini? Apa dia bisa terima soal putrinya selingkuh?" tanya Papa Galih. Masih terlintas jelas dalam ingatannya, bagaimana Papa Ahsan mendatanginya, meminta Armand untuk anaknya--Siska.
Hubungan mereka yang awalnya rekan bisnis, berubah menjadi besan. Saat pernikahan Armand dan Siska sah di mata agama dan hukum. Namun, semua harus berakhir di saat Siska yang ternyata tidak bisa mencintai Armand sejauh ini. Pernikahan yang mereka jalani, Siska merasa terpaksa hidup berdampingan bersama Armand. Di saat kekasihnya kembali hadir di kehidupan Siska.
Memang semuanya tidak dapat di paksakan. Jika hanya Armand yang berusaha bertahan, sedangkan Siska tidak.
Armand mengiyakan pertanyaan Papa Galih."Papa Ahsan nampak terpukul, Pa. Ia juga tidak menyalahkan Armand. Malahan Papa Ahsan minta maaf atas kesalahan Siska. Ia tidak membenarkan perbuatan Siska. Tapi, Armand tidak tahu, setelah pergi dari rumah mereka lagi. Entah marah atau tidak Papa Ahsan pada Siska."
Armand hanya membaca raut wajah Papa Ahsan, menaruh kecewa berat pada Siska. Wajah Papa Ahsan memerah, namun ia cukup baik menahan semua di depan Armand. Itu lebih baik, dari pada Armand melihat semua yang terjadi pada keluarga Papa Ahsan. Menurut Armand, biarkan Siska yang menjelaskan semuanya pada orang tuanya.
Armand hanya bertugas membawa pulang Siska kerumah orang tuanya dan menyampaikan maksud kedatangannya kesana.
"Ya sudah, mungkin ini yang terbaik untuk kalian. Hanya sampai di sini, rumah tangga yang kalian jalani. Keputusanmu sudah tepat, memulangkan Siska pada orang tuanya kembali," titah Papa Galih, ia dan sang istri tidak bisa berbuat apa-apa selain, mendoakan yang terbaik untuk putra mereka itu.
Meski sebagai orang tua Armand, mereka juga menaruh kecewa pada Siska. Pada hal mereka terlanjur menyayangi Siska sebagai menantu mereka. Berharap ia perempuan yang tepat mendampingi Armand. Sebab, Papa Galih sempat membujuk Armand untuk mau di jodohkan dengan Siska. Sempat Armand menolaknya, tetapi Papa Galih tidak menyerah begitu saja. Sehingga Armand kemudian menyetujui perjodohan ini meski berat di hati, ia berusaha untuk memahami keadaan
Bersambung ...